Ringkasan

Sistem Keuangan Modern (Part 2)

Berakhirnya sistem keuangan pramodern ditandai dengan munculnya perbankan modern awal tahun 1400-an. Secara perlahan uang emas yang secara langsung digunakan dan merupakan barang antara (buffer) pertukaran barang-barang yang diperdagangkan digantikan dengan uang dalam bentuk lain. Uang dalam bentuk lainnya ini bisa berupa kertas berharga, uang kayu atau catatan lainnya yang dikaitkan erat dengan jumlah emas yang dimiliki. Meskipun uang yang diedarkan bukan lagi emas itu sendiri, tetapi uang dalam era ini sebenarnya mewakili emas yang disimpan atau yang menjadi jaminan. Fleksibilitas sirkulasi dan keamanan penggunaan uang dengan cara ini meningkat dibanding era pramodern dan mampu mendukung perdagangan dunia sampai berakhirnya era revolusi industri.  Selanjutnya…..

Sistem Keuangan Modern (Part 1)

Sistem keuangan modern adalah sistem keuangan yang didasarkan pada catatan otoritas keuangan atas nilai barang atau jasa pada transaksi yang terjadi. Dalam hal ini, uang tidak diwakili oleh salah satu barang atau jasa itu sendiri. Uang juga tidak diwakili oleh nilai salah satu barang atau jasa tersebut. Uang adalah sekedar catatan otoritas keuangan atas nilai barang atau jasa yang ditransaksikan. Sistem ini dimulai saat uang dalam sistem perbankan tidak lagi dibackup dengan emas. Era ini dimulai pada saat  presiden USA Nixon tahun 1971 mengambil keputusan untuk melepaskan backup emas terhadap dollar. Bagaimana sistem keuangan modern dan bagaimana perkembangan kedepannya akan dibahas dalam tulisan ini.  Selanjutnya….

Uang dan Emas

Menjadikan emas sebagai alat tukar dilingkungan kelompok tertentu atau region tertentu dewasa ini mungkin sah-sah saja. Ini seperti kembali kemasa ketika emas menjadi alat tukar dan juga sebagai backup uang sebelum tahun 1970. Dalam lingkungan yang lebih sempit nilai intrinksik emas mungkin saja bisa mewakili nilai intrinksik dari barang-barang yang diperlukan oleh sekelompok orang atau di region terbatas. Hal ini karena keberadaan emas yang melimpah disuatu region atau group menyebabkan total nilai intriksi emas disuatu lingkungan tertentu bisa jadi mencukupi untuk menilai nilai intriksi barang-barang yang diperdagangkan. Tetapi untuk kepentingan yang lebih luas apalagi kepentingan global, secara teknis saat ini emas tidak memungkinkan sebagai alat tukar. Selanjutnya….

Alam Semesta dan Manusia

Cibinong, 15 September 2010
Jika alam semesta adalah materi dan immateri, apakah immateri alam semesta adalah superset dari immateri manusia? Untuk menjawab ini, marilah kita lihat sebentar mengenai konsep materi dan immateri dalam pembahasan sebelumnya. Selanjutnya….

Materi dan Immateri

Saat kita membicarakan materi, ia adalah partikel, energi dan dimensi yang menyertainya. Energi adalah materi, hal ini sudah dikonfirmasi oleh sifat dualisme partikel dan energi. Dimensi yang menyertainya adalah ruang dan waktu, termasuk kekosongan. Kekosongan adalah bagian dari dimensi ruang yang ada karena ketiadaan partikel atau energi. Lantas apa yang dimaksud dengan immateri? Selanjutnya….

Tuhan dan saya

Sang pencipta tidak harus lebih besar dari ciptaannya, saya rasa berlaku juga disini. Dalam kehidupan kita saat ini. Hal ini karena surga dalam konsep waktu keberadaannya tidak menjadi terhapus karena manusia tinggal di bumi. Surga berada dalam konsep waktu yang sama dengan tempat kita berpijak saat ini, meskipun berada dalam konsep ruang yang bisa berbeda. Selanjutnya…

Tuhan dan Alam Semesta

Membicarakan konsep Tuhan dan Alam Semesta mestilah dimulai dari konsep Tuhan itu sendiri. Apakah Tuhan itu materi ataukah Immateri. Karena jikalau kita belum sepakat akan konsep ini, maka menjadi kurang relevan kita membicarakan hubungan antara Tuhan dan Alam Semesta. Hubungan antara yang menciptakan dan yang diciptakan. Selanjutnya…

Bahasa manusia bisa menjangkau konsep Eksistensi

Tuhan menciptakan alam semesta dalam 7 masa ditulis dalam semua kitab agama samawi (agama yang berasal dari daerah Yerusalem dan arab). Tetapi hal ini tidak disebutkan dalam kitab-kitab agama lainnya. Meskipun demikian, menciptakan menjadi hal yang menarik, karena kita menggunakan kata mencipta yang juga digunakan untuk kehidupan kita sehari-hari. Selanjutnya….

Catatan Buka Bersama IA-ITB 31 Agustus 2010

Sore menjelang maghrib, seperti biasa suasana jalanan di ibukota macet disana-sini. Nurman dan Yadi dari El’93 yang berangkat pada jam 16.30 dari Ragungan, bahkan baru tiba di lokasi pada jam 19.00 saking macetnya. Memasuki komplek Widya Chandra I, alumni yang baru pertama datang bisa saja salah masuk tempat berbuka, karena nyatanya sore itu ada beberapa acara buka bersama yang diselenggarakan oleh beberapa menteri lainnya di rumah dinas masing-masing. Selanjutnya…

Transformasi Galileo dan Lorentz dalam Redefinisi Relativitas

Transformasi Galileo dan Transformasi Lorentz kita kenal dalam pembahasan gerak. Berdasarkan teori relativitas khusus, transformasi Galileo hanya berlaku untuk kecepatan yang relative rendah, jauh lebih lambat dibanding  kecepatan cahaya. Sementara menurut teori relativitas khusus, transformasi Lorentz berlaku umum untuk semua kecepatan. Namun setelah kita memasukkan postulat ketiga dalam redefinisi relativitas, bisa dibuktikan bahwa transformasi Galileo adalah transformasi inersia dan berlaku umum untuk semua kecepatan pengamat. Sementara itu, dalam transformasi Lorentz ditemukan pengabaian fundamental pada arah sebaran cahaya dari objek kepada pengamat yang mengakibatkan tidak terpenuhinya kondisi tertentu dalam konsep koordinat ruang dan waktu. Selanjutnya…

Konsep Kecepatan Inersia dan Relative

Dalam tulisan sebelumnya, bisa dibuktikan bahwa waktu inersia dan ruang inersia adalah bernilai sama bagi semua pengamat, baik yang diam maupun yang bergerak. Pembuktian waktu inersia dan ruang inersia yang mutlak dalam gerak relative tersebut berasal dari penurunan Postulat ketiga Redefinition Special Theory of Relativity (RSTR).  Dalam ruang hampa, sebaran cahaya memiliki arah menjauhi sumber secepat c membentuk permukaan bola.  Dengan demikian waktu inersia dan ruang inersia berlaku sama baik bagi pengamat yang diam, relative diam, maupun yang relative bergerak. Hal ini konsisten dengan postulat pertama Theory of Relativity itu sendiri. Selanjutnya……

Konsep Ruang Inersia

Menyambung tulisan mengenai “Gerak Relatif, tidak Mengubah Bentuk Benda” yang membahas bahwa benda yang bergerak tidak berubah bentuk baik bagi pengamat yang diam maupun yang bergerak, dengan adanya postulat ketiga ini kita akan membahas konsep ruang inersia dan ruang relatif dan kaitan diantaranya. Konsep ruang inersia kita perlukan untuk membahas transformasi gallileo dan transformasi Lorentz  dalam Theory of Relativitas selanjutnya. Selanjutnya…..

Redefinisi Relativitas: Kaitan Konsep Kesinkronan dan Ketidaksinkronan Waktu
Dalam konsep sinkronisasi waktu, kita mengenal bahwa waktu dikatakan sinkron bila jeda waktu atau periode (T) ‘satuan waktu terkecil bersama’ antara jam yang satu dengan jam yang lainnya adalah sama. Dalam konsep ini, T bisa dalam satu detik atau ukuran yang lebih kecil mendekati epsilon waktu. Dalam kerangka inersia, periode waktu (To) bisa didapatkan dengan mengurangi waktu inersia kejadian (∆to2) dengan waktu inersia kejadian sebelumnya (∆to1).

Selanjutnya….

Redefinisi STR : Sebuah Penjelasan Pergeseran Efek Doppler pada Kasus Percobaan Ives dan Stillwell

Untuk menguji kembali Redefinisi Special Theory of Relativity (STR) setelah berhasil menjelaskan secara sangat meyakinkan atas kasus percobaan Michelson Morley dalam tulisan “Redefinisi  STR : Sebuah Penjelasan Kasus Percobaan Michelson Morley”, marilah kita telaah kembali hasil percobaan pergeseran efek Doppler pada pengamatan cahaya atom Hidrogen oleh Ives dan Stillwell.

selanjutnya….

Redefinisi  STR : Sebuah Penjelasan Kasus Percobaan Michelson Morley
Untuk menguji kembali Redefinisi Special Theory of Relativity (STR)  setelah tulisan “Contoh Kasus Tinjauan Redefinisi Relativitas Khusus”, marilah kita telaah kembali hasil percobaan yang  memunculkan 2 postulat Einstein yang mendasari kelahiran Teori Special Relativity. Pada tahun 1881 Michelson-Morley melakukan percobaan untuk mengetahui gerak absolut bumi menggunakan interferometer. Dalam percobaan tersebut diharapkan ada beda frekuensi  antara sinar yang dipantulkan dari cermin C1 dengan sinar yang dipantulkan dari cermin C2 karena bumi bergerak relative dengan kecepatan v, seperti digambarkan secara sederhana dalam gambar 1 berikut :

selanjutnya…..

Catatan Acara MuDIK IAE-ITB 2009: Alumni menambah Dana Abadi untuk Elektro menjadi Rp 1,25 Milyar

Pagi-pagi sekali, tanggal 17 Oktober 2009, panitia mengingatkan alumni Elektro melalui SMS untuk datang ke tempat MuDIK IAE-ITB. Program Halal-bihalal IAE-ITB yang biasanya dilaksanakan di Jakarta, kali ini dilaksanakan di kampus ITB, Bandung. Hal ini sesuai dengan tema Halal-bihalal tahun ini yaitu MuDIK, pulang kandang ketempat alumni pernah menimba ilmu semasa kuliah. Segera saya mempersiapkan diri dan menelpon temen untuk janjian berangkat ke Bandung.

Selanjutnya….

Contoh Kasus Tinjauan Redefinisi Relativitas Khusus

Marilah kita bayangkan suatu benda bergerak dalam galaksi bima sakti yang mungkin bergerak menjauhi pusat universe dengan kecepatan sangat cepat sebesar v. Apa yang terjadi dengan sinkronisasi waktu antara kita dan bintang-bintang dalam galaksi bima sakti atau dengan sinkroniasi waktu antara kita dengan benda-benda disekitar ruangan kita yang relatif diam terhadap kita?

Selanjutnya….

Redefinisi Relativitas Khusus

Dalam ruang hampa, Cahaya menyebar kesegala arah dengan kecepatan c menjauhi sumber, pada epsilon waktu membentuk bidang sphere. Karenanya adalah sangat mendasar memperhatikan arah sebaran cahaya dari sumber relative terhadap  gerak sumber dan pengamat dalam relativitas. Teori relativitas, selama lebih dari satu abad terakhir, menggunakan penurunan persamaan relativitas yang sama sekali mengabaikan kenyataan ini. Relativitas memerlukan pendefinisian ulang. Faktor dilasi waktu tidak lagi tunggal. Redefinisi faktor dilasi ini bisa diringkas dalam dua kelompok dilasi waktu, yaitu dalam sumbu searah sebaran cahaya dan bidang yang tegak lurus dengan arah sebaran cahaya.

Lanjutannya…..

Koreksi terhadap Relativitas dan Hubungannya terhadap Gerak Inersia Newton

Dalam kehidupan ini, umumnya kita mengandalkan pengamatan pada mata dan peralatan, yang memotret suatu kejadian berdasarkan informasi yang disampaikan oleh gelombang elektromagnetik, yang memiliki kecepatan rambat dalam ruang hampa sebesar c. Karenanya relativitas sangat kita perlukan, ada waktu tunda yang mesti kita perhatikan. Sebagai pengamat kita tidak selalu mendapatkan informasi dari segala arah dalam suatu waktu tertentu. Cahaya bergerak kesegala arah, tetapi dalam ruang hampa, rambatan cahaya ini punya arah. Bidang telekomunikasi modern memastikan postulat kedua hukum relativitas yang disampaikan pada awal tahun 1900-an benar adanya. Bahwa cahaya bergerak kesegala arah dengan kecepan c dalam ruang hampa. Tetapi ada satu hal mendasar yang terlewatkan dalam penurunan persamaan relativitas selama ini, yaitu arah gerak ini adalah menjauhi sumber secara serentak dalam kejapan (instan) waktu membentuk bidang bola (sphere).

Selanjutnya….

Relativitas tidak Mengubah Bentuk Benda

Oleh :Yohan Suryanto, yohan@rambinet.com

Seandainya kita mampu atau mau meluangkan waktu untuk melihat benda dengan kecepatan sangat tinggi, mungkin sebagian dari kita akan kecewa. Benda yang diharapkan mengalami kontraksi panjang, seperti perkiraan penurunan persamaan relativitas khusus, sama sekali tidak akan mengalami kontraksi. Benda yang di-capture dalam keadaan diam, akan sama persis dengan benda yang di-capture dalam keadaan bergerak. Benda tersebut tidak akan lebih gepeng dibanding aslinya.
Dalam relativitas yang dikenal sebelumnya, biasanya kita diajarkan untuk mempercayai bahwa seorang kembar, yang bepergian dengan pesawat mendekati kecepatan cahaya, umurnya akan lebih muda dibanding kembarannya saat mereka bertemu kembali. Tetapi di sisi lain, saat mendapati penurunan rumus kontraksi panjang benda, tidak akan terbersit sedikitpun untuk mempercayai bahwa kembarannya yang lebih muda akan lebih gepeng karena perjalanan itu. Nampaknya berdasarkan teori relativitas, sebagian lebih suka bahwa kontraksi panjang hanya berada dalam kerangka pengamatan saja, sedangkan dilatasi waktu bukan hanya terjadi dalam kerangka pengamatan.

Lanjutannya ….

Jelang Lebaran, Sektor Transportasi Publik Menjadi Pelaku Utama Anomali Harga

Cibinong, 16 September 2009

Di mata konsumen, kenaikan harga yang terjadi saat volume permintaan yang tinggi bisa diimbangi dengan volume pelayanan yang juga tinggi, adalah merupakan anomali. Anomali ini bahkan bagi sebagian kalangan merupakan indikasi adanya budaya aji mumpung di kalangan masyarakat Indonesia. Mumpung lebaran, mumpung konsumen baru mendapat THR atau mumpung konsumen lagi butuh,  mereka naikkan harga. Anehnya anomali ini berlangsung dari tahun ke tahun. Usaha untuk menghilangkan anomali ini, kalaupun ada, belum kelihatan hasilnya. Namun setelah ditelusuri, nampaknya masyarakat Indonesia bukanlah penganut paham aji mumpung. Hal ini terbukti dari normalnya sebagian besar harga-harga yang disediakan di berbagai sektor. Kenaikan sembako menjelang lebaran hanya berkisar antara 5-10%, itupun hanya terjadi di pasar-pasar tradisional. Yang aneh adalah sektor Transportasi Publik, baik swasta maupun BUMN yang secara sistematis menjadi motor anomali harga bagi konsumen pada saat menjelang dan sesudah lebaran. Kenaikannya bisa sampai 150%. Ya anomali ini hanya terjadi di sektor transportasi publik. Ini merupakan tantangan bagi menteri perhubungan dimasa-masa yang akan datang. Mampukah pengelola kebijakan transportasi membuat anomali ini tidak lagi ada di tahun-tahun mendatang.

Selanjutnya….

Bila Telinga Satu-satunya Indera Sang Pengamat

Cibinong, 13 September 2009

Dalam kerangka pengamatan telinga, batas kecepatan relatif yang relevan dalam pengamatan adalah sebesar cepat rambat suara. Kecepatan suara dalam hal ini adalah merupakan kecepatan sang pembawa berita. Kecepatan sang pembawa berita, bisa saja lebih lambat dibanding sampainya pesan itu sendiri kepada pengamat. Kejadian ini seperti ketika seorang kurir, yang berangkat naik kuda dari Jakarta, menyampaikan pesan kepada pengamat di Surabaya bahwa sebuah pesawat sudah terbang dari Jakarta menuju Surabaya. Walhasil ketika kurir tersebut bertemu dengan pengamat di Surabaya, untuk menyampaikan pesan keberangkatan pesawat, pesawat sudah lebih dulu mendarat. Tentu saja berita yang dibawa oleh kurir tersebut menjadi tidak relevan lagi bagi si pengamat. Pesannya tetap datang, tapi dalam kerangka pengamatan untuk mengetahui waktu keberangkatan sebelum pesawat tiba, menjadi tidak relevan.

Lanjutannya dong….

Relevansi Kecepatan Relatif ≥ c dalam Relativitas

Mencari relevansi kecepatan relatif yang sama atau lebih besar dari c, semata-mata berdasarkan persamaan dalam teori relativitas khusus adalah hal yang sangat sulit kalau tidak bisa dikatakan mustahil. Karena pencarian ini akan mengantarkan kita pada pada nilai yang tidak terhingga atau sampai pada bilangan imaginer. Meskipun Einstein tidak pernah menyebutkan bahwa batas kecepatan benda adalah c, tetapi kecepatan relatif diatas c dalam relativitas khusus akan sampai pada bilangan imaginer. Hal ini diperkuat oleh ahli fisika Freddy Zen yang menyebutkan bahwa “boleh saja ada benda yg bergerak melebihi kecepatan cahaya c. Benda ini disebut tachyon, yang massa diamnya imajiner.”

Selanjutnya….

Penyebab Kontradiksi si Kembar dalam Relativitas Khusus

Penurunan dilatasi waktu dalam relatifitas khusus didasarkan pada dua postulat. Postulat  merupakan dasar pijakan yang taken for granted, tidak perlu dibuktikan karena dianggab mesti terjadi atau semua sudah menerima. Seperti misalnya 1+2=3 dalam matematika, tidak perlu dibuktikan lagi. Serumit apapun penurunan persamaan relativitas khusus, makna dari hasil pengamatan tidak boleh meninggalkan pijakan ini. Postulat pertama adalah : hukum-hukum fisika berlaku sama untuk setiap pengamat di dalam kerangka acuan yang inersial. Yang sama bukan hasil pengukuran, melainkan hukum-hukum fisika-nya. Postulat kedua adalah: laju cahaya dalam ruang hampa adalah sama, sebesar c,dalam segala arah dan dalam semua kerangka acuan yang inersial.

lanjutan …

Tidak Ada Paradoks si Kembar dalam Relativitas

Dalam pengenalan teori relativitas, kita mengenal Twin Paradox yang membingungkan dan menjadi sumber benturan pemahaman. Paradoks si Kembar digambarkan  seperti cerita Jo pergi ke ruang angkasa menggunakan pesawat yang meluncur sangat cepat menjauhi bumi tempat Han kembarannya berdiam. Saking cepatnya, kecepatannya hanya beberapa persen lebih lambat dari kecepatan cahaya. Wush…waktupun berlalu. Kembarannya mendapati Jo sepuluh tahun kemudian kembali lagi ke bumi. Jo merasa hanya pergi beberapa tahun saja, kurang dari sepuluh tahun karena adanya time dilation. Jo menemukan dirinya jauh lebih muda dibanding kembarannya. Dikatakan ini adalah konsekuensi dari teori relatifitas khusus.

lanjutan …

Sharing Alokasi Frekuensi 3.5 GHz di Indonesia
BWA 3.5 GHz dan Satellite Ext-C (down link 3.4-3.7 GHz) FSS
Rev.2, 9 November 2006
Penulis : Yohan Suryanto
—————————————————————————————-

  1. Pendahuluan :

Negara Indonesia dengan luas wilayah 1,9 juta km2, merupakan Negara terluas ke-15 di dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta orang dengan sebaran kepadatan yang sangat bervariasi, memiliki penetrasi akses broadband digital yang sangat rendah. Kondisi ini tentu unik dibanding negara-negara lain yang juga tertarik untuk mengembangkan jaringan akses broadband digital termasuk menggunakan BWA di 3,5 GHz.

lanjutan …

Gamangnya Makna Pemerintah

Sering saya dengar kritik ataupun masukan yang ditujukan kepada pemerintah. Misalnya seringkali dilontarkan usulan agar perbaikan jalan sepanjang pantura tidak dilakukan menjelang lebaran. Tetapi nyatanya, seperti istilah anjing menggonggong kafilah berlalu, kejadian perbaikan menjelang lebaran tetap saja berlangsung. Apa mungkin tidak ada pihak yang merasa sebagai pemerintah. Yang mendengar bukan yang melaksanakan, yang melaksanakan bukan yang mendengar.

lanjutan …

IAE-ITB Memberi santunan kepada Anak Yatim Piatu

Hari Sabtu yang cerah, tanggal 20 September 2008, saya sempatkan kaki melangkah menuju masjid Pondok Indah, tempat dimana panitia pemberian santunan kepada anak yatim piatu IAE-ITB melakukan kegiatannya. Sesampai di lokasi sekitar jam 11 WIB, saya melihat Suluh Rahardjo beserta panitia lainnya, sedang asyik menggunting voucher untuk diberikan kepada anak yatim piatu. Senyumnya yang khas hampir tidak berubah sejak saya mengenalnya pertama kali ketika IA-ITB ikut acara Kuis Siapa Berani September 2003, sebagai humas IAE-ITB dia dengan sabar dan telaten membantu panitia menggunting voucher senilai masing-masing 50 ribu rupiah dalam pecahan seribu sebanyak 5 lembar, lima ribu sebanyak 3 lembar, sepuluh ribu, dan dua puluh ribu rupiah. Ya, acara gunting voucher ini seperti menjadi sebuah jamuan teh hangat, dan voucher ini sebagai teh hangatnya yang disruput oleh para penikmat dengan rentang beda usia 23 tahun, dari angkatan yang paling muda alumni 2002 sampai alumni angkatan 79.

lanjutan …

Memulai Langkah Kecil dengan Mimpi Besar

Apa yang sudah dilakukan oleh Alumni ITB untuk Negara dan bangsa Indonesia tidak bisa kita anggap remeh. Banyak jabatan menteri, anggota DPR, dan pejabat Pemerintahan yang pernah dan masih dipegang oleh Alumni ITB. Bahkan jabatan Presiden pun alumni ITB pernah menjabatnya. Tetapi, apakah alasan Indonesia saat ini masih dalam jajaran negara berkembang dengan prestasi ekomoni yang kurang menggembirakan karena alumni ITB memang tidak banyak atau karena ada alasan yang lain. Sementara Soekarno hanya meminta 10 pemoeda yang cakap untuk membangun negeri ini agar menjadi negeri yang makmur. Apakah jumlah menteri, anggota DPR, dan pejabat pemerintahan dari alumni ITB kurang dari angka 10 itu. Jika dilihat sekilas, jumlahnya tentu lebih lebih dari itu. Dari hal kecil sampai hal besar sudah mereka lakukan dan sudah mereka selesaikan. Mulai dari menunaikan jabatannya agar sesuai dengan key indicator performance yang disyaratkan, menjalankan berbagai acara seminar, silaturahmi, sampai acara peringatan tujuh belasan, sudah dilakukan. Tapi hari ini kita lihat Indonesia belum bisa membangun negara dan bangsanya sebaik Singapore mengelola wilayah kecil dengan penduduknya yang hanya seperempat dari penduduk Jakarta.

lanjutan …

Catatan Buka Puasa Bersama IA-ITB, Minggu 14 September 2008

Kebetulah tadi sore saya sempat hadir memenuhi undangan salah satu rekan alumni dalam rangka buka bersama IA-ITB yang diselenggarakan di rumah dinas Bpk Hatta Rajasa di Jl. Widya Chandra I. Bagi rekan-rekan yang tidak sempat hadir karena suatu hal, sedikit catatan berikut mungkin bisa memberikan gambaran mengenai acara IA-ITB tersebut. Acaranya berlangsung dalam suasana hangat penuh rasa kekeluargaan, sangat pas sebagai acara buka bareng yang biasanya rutin diadakan setiap bulan puasa, sekaligus sebagai ajang silaturahmi antar alumni ITB. Turut hadir Ketua IA-ITB Hatta Rajasa, Dewan Pembina IA-ITB Muslim Nasution, Ketua IAE-ITB Rinaldi, Pemda Batam, Pemda DKI, Pemda Jabar, serta segenap alumni lainnya yang berjumlah lebih dari sekitar 100 orang.

lanjutan …

Diskusi mengenai dosa, manusia dan hidup kekal

Dalam salah satu kesempatan diskusi di mailing list alumni, Pak Rachmad M menyinggung masalah kaitan dosa dan akibatnya, yang salah satunya adalah hubungan antara kekekalan dan kematian. Bahasan ini cukup rumit untuk ditelaah lebih jauh karena terkait juga dengan keyakinan, tetapi setidaknya tidak ada salahnya kita memberikan opini mengenai masalah ini.

lanjutan …

Indonesia Yang Lebih Baik

Makna menjadi ‘lebih baik’
‘Lebih baik’ sudah menjadi kata lumrah yang sering kita dengar,  yang karena biasanya,  alasan kenapa kita ingin lebih baik sudah seperti hembusan nafas tak terpikirkan. ‘Lebih baik’ laksana sebuah mantra diungkapkan untuk mencapai tujuan yang tiada pernah berakhir. Seperti putaran planet mengitari matahari dari waktu ke waktu. Bayi tumbuh dalam proses yang membahagiakan menuju masa tua. Beriring berirama indah, bermula, berakhir dan berawal kembali, menyatukan kekuatan dari generasi ke generasi. Keadaan manakah yang lebih baik.

lanjutan …

Keberagaman kita, SARA, dan Arah Pendekatannya
Rev. 1.0, 15 Juni 2008, oleh Yohan Suryanto
Unsur SARA :
Indonesia memiliki keragaman SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan), yang karena beragamnya tidak salah jika sebagian kita mengklaim sebagai negara dengan keberagaman paling banyak setidaknya di kawasan Asia Tenggara. Bagaimanapun SARA adalah komponen penyusun kebhinnekaan Indonesia yang harus kita pahami. Memahami untuk melihat sejauh mana komponen ini akan memperkuat pondasi menuju Indonesia yang makmur gemah ripah loh jinawi. Memahami untuk melihat sejauh mana unsur-unsur SARA Indonesia bisa membentuk harmoni dalam kancah Internasional.

lanjutan …

Mendiskusikan SARA

Bagi saya, SARA (Suku Agama Ras dan Antar golongan) meskipun menampilkan ciri-ciri perbedaan yang mudah dikenali seperti unsur Suku atau Ras yang menampilkan ciri budaya kelompok dan ciri-ciri fisik manusia, bukanlah sesuatu yang patut ‘dilupakan’ dan dibiarkan tumbuh berkembang apa adanya dalam konteks kebangsaan. Perbedaan itu tidak boleh menjadikan SARA sebagai sesuatu yang tabu dan sensitive untuk dibahas. Karena bagaimanapun SARA adalah salah satu komponen pembentuk bangsa Indonesia. Sebagai salah satu komponen kebhinnekaan kita, SARA tidak boleh dibiarkan tenggelam dan terpinggirkan oleh image sensitive dan menakutkan yang makin lama makin dilekatkan pada SARA sebagai kata.

lanjutan …

Masukan untuk Penataan Frekuensi BWA III (2,3 GHz – 2,5 GHz)

Alokasi Frekuensi BWA di band 2,3-2,5 GHz, sesuai dengan penjelasan dalam dokumen  “Masukan untuk Alokasi Frekuensi BWA di Indonesia” revisi 1.3 oleh Yohan Suryanto tanggal 1 April 2008, merupakan bagian dari kebutuhan alokasi pita frekuensi BWA yang ideal selain band 3,3-3,5 GHz. Penataan frekuensi BWA di band tersebut, perlu memperhatikan penyelenggara eksisting dan sekaligus juga harus memperhatikan kepentingan jangka panjang untuk tercapainya optimalisasi penggunaan frekuensi dalam rangka memberikan akses broadband network atau internet yang merata dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia setidaknya untuk masa 20 tahun kedepan.

lanjutan …

Masukan untuk Penataan Frekuensi BWA II (3,3 GHz – 3,5 GHz)

Alokasi Frekuensi BWA di band 3,3-3,5 GHz, sesuai dengan penjelasan dalam dokumen  “Masukan untuk Alokasi Frekuensi BWA di Indonesia” revisi 1.3 oleh Yohan Suryanto tanggal 1 April 2008, merupakan bagian dari kebutuhan alokasi pita frekuensi BWA yang ideal selain band 2,3-2,5 GHz. Penataan frekuensi BWA di band tersebut, perlu memperhatikan penyelenggara eksisting dan sekaligus juga harus memperhatikan kepentingan jangka panjang untuk tercapainya optimalisasi penggunaan frekuensi dalam rangka memberikan akses broadband network atau internet yang merata dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia setidaknya untuk masa 20 tahun kedepan.

lanjutan …

Kekayaan Alam untuk Kemakmuran Indonesia

Dalam mailing list alumni ITB tanggal 6 Mei 2008, kami mengajukan sebuah teka-teki sederhana yang cukup menarik mengenai bagaimana kita seharusnya menjual kekayaan alam Indonesia untuk lebih bisa mendukung kemakmuran bangsa Indonesia. Teka-teki ala loedroek mengenai revenue sharing hasil jual kekayaan alam Indonesia yang mungkin saking besarnya tidak kelihatan, ibarat “gajah dipelupuk mata tak tampak, kuman diseberang lautan nampak”.

lanjutan …

Krisis Energi Sektor BBM dan Langkah-langkah Penyelesaiannya
Oleh Yohan Suryanto, ver 1.0

Jika dicermati berdasarkan data ‘Sabtu Santai: Simulasi Investasi Saham’ oleh JD dalam mailing list IA-ITB, antara tanggal 23 Februari 2008 sampai 29 Maret 2008, kisaran harga minyak mentah dunia antara $100 sampai $115 per barel. Pada kondisi tersebut, berdasarkan data situs BI per 3 April 2008 yang disarikan oleh Detik Finance, justru cadangan devisa Indonesia meningkat dari $ 57,125 Milyar menjadi $ 58,980 Milyar.  Artinya dengan kondisi harga minyak yang mencapai kisaran tersebut, secara net cadangan devisa Indonesia dalam mata uang USD justru meningkat. Ini merupakan sinyal yang cukup menggembirakan dan menjadi batu pijakan pada kita untuk mengambil langkah jangka pendek (1-2 tahun kedepan) yang tepat untuk menyikapi kondisi harga minyak mentah yang mencapai kisaran antara $100-$120 USD dewasa ini.

lanjutan …

Ringkasan

Catatan Pembukaan Industrial R&D Expo ’08
Cikarang, tanggal 29 April 2008

Kemarin pagi jam 09.30 berlangsung acara pembukaan Industrial R&D Expo’08 di Plaza JB Jababeka oleh Menristek Kusmayanto Kadiman. Sebelum jalan-jalan pada sore harinya ke kawasan industri Surya Cipta City di Karawang, saya kebetulan sempat datang keacara tersebut sambil batikan sebagai salah satu penggemar kegiatan R&D🙂.

lanjutan …

Pajak dan Mata Uang USD
Oleh : Yohan Suryanto
Ref 1.1

USD sebagai world currency defakto sejak berakhirnya perang dunia kedua

Pada masa berakhirnya perang dunia kedua, cadangan emas Amerika meningkat sampai lebih dari 50 % cadangan emas dunia. Kondisi ini telah mengubah peta cadangan emas dunia sebelum perang dunia kedua yang awalnya dikuasai oleh eropa berkat sistem penjajahan berabad-abad lamanya. Dengan sistem mata uang yang dikaitkan dengan emas, sejak berakhirnya era perang dunia kedua, mata uang USD menjadi rujukan utama mata uang dunia lainnya. Karenanya USD kemudian menjadi mata uang defakto perdagangan dunia.

lanjutan …

Uang dan Kemakmuran NKRI
By Yohan Suryanto, ver. 1.1

Pengantar

Untuk mencapai kemakmuran bangsa Indonesia setidaknya dalam 300 tahun kedepan, kita perlu mengerti benar apa yang sebenarnya kita perlukan. Karena mengerti kebutuhan untuk mencapai kemakmuran bangsa inilah yang akan menentukan jumlah ‘darah’ (uang) yang akan mengangkut kebutuhan tersebut ke sel-sel (manusia Indonesia) penyusun bangsa ini. Pada dasarnya kebutuhan ini bisa tidak ada batasnya, dan uang untuk mencapai kebutuhan ini bisa juga tidak ada batasnya.
Pada taraf tertentu, kebutuhan adalah barang abstrak yang bisa dipenuhi atau tidak tergantung persepsi kita, tetapi setidaknya kebutuhan dasar harus dipenuhi terlebih dahulu. Ketika kebutuhan dasar dipenuhi, selanjutnya adalah masalah kreatifitas dan kenyamanan dan ini lebih dekat pada masalah persepsi. Untuk memenuhi ini kita yakin bisa berusaha, karena setidaknya Tuhan sudah memberikan kebutuhan energi secara cuma-cuma kepada bumi pertiwi setidaknya lewat pancaran sang surya sebesar 1.286.722 Giga Joule per detik (GWe).

lanjutan …

NKRI memiliki masa depan yang sangat cerah II :
Dalam jangka panjang, sumber energi kita cukup untuk memenuhi kebutuhan energi listrik rakyat Indonesia yang makmur

Dalam pembahasan “NKRI memiliki masa depan yang sangat cerah I”, kita melihat bahwa kebutuhan energi dasar yang berupa bahan makanan, penggerak dasar kehidupan manusia Indonesia agar tumbuh segala imajinasi, apresiasi akan keindahan dan segala harmoni kehidupan, bisa tercukupi untuk mendukung kemakmuran NKRI dalam jangka panjang. Setidaknya untuk 300 tahun kedepan, sebuah durasi waktu yang setara dengan kejayaan dinasti Ming di Cina.

Lanjutan….

Masukan untuk Alokasi Frekuensi BWA di Indonesia

Negara Indonesia dengan luas wilayah 1,9 juta km2, merupakan Negara terluas ke-15 di dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta orang dengan sebaran kepadatan yang sangat bervariasi, memiliki penetrasi akses broadband digital yang sangat rendah. Kondisi ini tentu unik dibanding negara-negara lain yang juga tertarik untuk mengembangkan jaringan akses broadband digital terutama menggunakan BWA di 2,3-2,7 GHz dan 3,3-3,5 GHz.

Lanjutan…..

NKRI memiliki masa depan yang sangat cerah I :

Dalam jangka panjang, lahan pertanian kita cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dasar rakyat Indonesia
Dalam waktu yang relative lama, seekor kuda bisa menghasilkan energi yang setara dengan daya 1 HP (Horse Power). Energi ini kira-kira setara dengan daya 746 watt. Berdasarkan hukum kekekalan energi, kuda juga membutuhkan energi dalam waktu yang relative lama setara daya sekitar 746 watt juga, kebutuhan ini kira-kira sebanding dengan berat tubuh kuda. Dengan asumsi berat kuda adalah 450 kg dan berat orang Indonesia rata-rata 60 kg, maka kebutuhan daya orang Indonesia dalam jangka waktu yang relative lama kira-kira setara dengan daya 100 watt saja.

Lanjutan ……

Dalam 20 tahun terakhir sejak BEJ berdiri, IHSG belum mampu melampui kenaikan harga beras!

Pertama kali IHSG gabungan dicatat tahun 1988, indeksnya sekitar 305 poin. Dan saat ini setelah 20 tahun berlalu dengan cepatnya, ISHG tercatat tertinggi pada angka 2.744 tanggal 22 Februari 2008. Ini berarti kenaikan investasi di BEJ setelah 20 tahun adalah 9 kali. Angka ini sungguh luar biasa, bahkan membuat dana virtual kita cukup untuk pergi rombongan ke pulau Bali.

Lanjutan …..

Kenapa Inflasi Tinggi? (ref. 1.0)

Inflasi yang tinggi diindikasikan karena produksi kebutuhan pokok yang berkurang atau tidak lagi mencukupi (termasuk karena perubahan peruntukan misal untuk biodesel) untuk mengimbangi laju pertumbuhan penduduk NKRI, rupiah yang terus dicetak untuk memenuhi budget pemerintah (tahun 2007 akan dicetak 66 Milyar bilyet, itupun sebagian di outsource ke percetakan duit di Australia), dan diperparah dengan berkurangnya energi yang diwakili oleh rupiah : yang salah satunya adalah karena ’energi’ yang sudah dikumpulkan dari NKRI berkat kasih sayang Gusti Ingkang Murbeng Dumadi melalui sinar sang surya dan fosil, oleh pemilik modal atau orang-orang berpunya atau bahkan dari hasil ’nilep’ uang rakyat disimpan atau dihabiskan tidak dalam bentuk Rp, tetapi malah dalam bentuk $ atau Euro.

Lanjutan….

Sebuah Catatan : Studium Generale on Nuclear Energy by Al Baradei

Buat rekan-rekan yang mungkin tidak sempat datang ke studium general Energi Nuklir tanggal 8 Desember 2006, mungkin tulisan ini berguna. Terima kasih kepada P Kusmayanto yang telah mengundang M El-Baradei ke Indonesia.

Lanjutan….

Sebuah Response Sederhana : Menentukan Kecerdasan Sebuah Bangsa

“Apakah semua Keunggulan Ganesha bisa menjadi lambang kepemimpinan paripurna?” Hmm (sambil manggut-manggut) sebuah pemikiran yang menarik, model Ganesha yang disampaikan ala canda oleh Pak JohanD memang ideal, apalagi setelah dilengkapi oleh Pak Pramuditho dan Pak Hendy terasa lebih komplit aromanya. Pak Oki yang menambahkan warna abu-abu, membuat model ganesha makin menggelitik. Menjadikan model ganesha terasa ironis seperti model statis yang ditempel dibawah tiang bendera gerbang kampus cap gadjah doedoek, melihat tanpa berkedip sejarah bangsa Indonesia dari saat tanpa nama menjadi seperti sekarang. Dimaknai dan dipersepsikan berulang-ulang, namun pemberi maknanyalah yang bisa menjawab tantangan yang ada.

Lanjutan….


%d blogger menyukai ini: