Sistem Keuangan Modern Part 4

17 November 2010 at 12:34 am Tinggalkan komentar

Beberapa minggu terakhir ini kita mendengar adanya permintaan Amerika kepada Cina agar pemerintah Cina menaikkan nilai tukar Yuan terhadap USD? Nampaknya ini merupakan langkah strategis pemerintah Amerika untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap USD. Dengan cara ini setidaknya publik akan berpikir bahwa Yuan tidak mungkin menguat karena pemerintah Cina sampai diminta atau bahkan terkesan ditekan agar memperkuat Yuan. Padahal jika kita lihat rata-rata kurs yang terjadi malah sebaliknya. Dalam setahun terakhir, Yuan cenderung menguat terhadap USD. Tanpa ditekanpun penguatan inilah yang justru terjadi.  Hal ini bisa dilihat dalam gambar 1 dibawah ini .


Gambar 1 : Rata-rata kurs Yuan vs USD dalam setahun terakhir, source : http://www.exchange-rates.org

Berdasarkan tren diatas, jelas sekali bahwa Yuan tidak dibuat melemah oleh pemerintah Cina. Adalah wajar jika Yuan dibuat lebih banyak untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi dan penduduk Cina. Hal ini menahan penguatan yuan yang lebih drastis terhadap USD. Tetapi jelas sekali bahwa Yuan cenderung menguat terhadap USD dan permintaan Amerika agar Cina memperkuat Yuan terhadap USD malah memperlihatkan bahwa permintaan ini merupakan permintaan yang aneh bin ajaib.

Berdasarkan sistem keuangan modern yang transaksional based, jika memang pemerintah Amerika menginginkan Yuan menguat terhadap USD, sebenarnya mereka bisa melakukannya tanpa meminta Cina melakukannya. Caranya mereka bisa membeli Yuan dengan USD yang dibarengi dengan pencetakan USD untuk mengimbangi defisit perdagangan mereka oleh bank sentral (dengan mekanisme perbankan) yang akan mengakibatkan permintaan Yuan meningkat dan suplai USD bertambah.  Tetapi kenapa justru Amerika meminta Negara-negara G-20 untuk sama-sama menekan Cina agar memperkuat Yuan?  Yang sebenarnya secara rata-rata dalam setahun terakhir tidak pernah melemah terhadap USD? Inilah anehnya, tetapi ini strategi sentimen pasar agar pasar menganggap USD masih powerful.

Cara lainnya yang bisa memperkuat Yuan terhadap USD lebih drastis adalah pemerintah Cina membeli mata uang regional yang memiliki hubungan transaksi untuk modal atau bahan industri Cina dengan devisa USD yang dimiliki oleh Cina. Otomatis ini akan menaikkan nilai tukar mata uang-mata uang regional terhadap USD. Pada saat yang sama Indonesia bisa membeli alat produksi dari Amerika menggunakan USD dari hasil penjualan rupiah tersebut dan menjual hasil produksi  ke Cina dengan Yuan.

Sebenarnya dalam transaksional based, dengan neraca perdagangan Amerika yang selalu defisit dalam jumlah yang luar biasa besar dalam dekade terakhir, posisi USD menjadi kehilangan maknanya. Hal ini akan lebih mudah kita pahami dengan memetakan transaksi yang melibatkan beberapa otoritas keuangan dalam domain regional masing-masing.

Misalkan ada dua entitas yang berada dalam dua regional otoritas keuangan sedang  bertransaksi. Seperti digambarkan dalam gambar 2 di bawah ini. Barang diproduksi oleh entitas dalam regional R. Barang ini dibutuhkan oleh entitas dalam regional D. Entah karena suatu alasan tertentu, kedua entitas ini sepakat untuk menggunakan mata uang yang dicatat oleh otoritas D. Kedua pihak sepakat nilai transaksi atas barang ini adalah 100 D. Dalam transaksi tersebut nampak bahwa otoritas R sama sekali tidak bisa mengambil manfaat atas kejadian transaksi tersebut.


Gambar 2 : Transaksi yang melibatkan dua regional otoritas keuangan

Dalam sistem keuangan modern dimasa yang akan datang hal ini mungkin tidak akan terlalu menjadi masalah karena otoritas keungan hanya mencatat kejadian transaksi secara transparan dan mendapatkan fee transaksi sewajarnya. Tetapi dalam sistem keuangan modern saat ini yang menerapkan offset (karena tidak dikenal mata uang negative),  jelas hal ini memungkinkan otoritas D menambah sejumlah  uang untuk menutup -100 D agar jumlah uang yang diperlukan dalam domain otoritas D tetap sesuai dengan yang dibutuhkan.

Hal yang sama melibatkan transaksi tiga regional otorias keuangan. Misalnya ada dua entitas yang melakukan transaksi. Entitas dalam regional R memproduksi sesuatu yang bisa berasal dari hasil bumi mereka. Entitas D membutuhkan hasil produksi regional R ini. Namun entah karena alasan apa mereka menggunakan mata uang Y sebagai pencatatan transaksi ini seperti digambarkan dalam gambar 3 dibawah ini.


Gambar 3 : Transaksi yang melibatkan tiga regional otoritas keuangan modern

Dalam transaksi sistem keuangan modern praktis otoritas keuangan R dan D tidak memiliki catatan baru uang R maupun D atas transaksi tersebut. Di masa yang akan datang hal ini tidak akan menjadi masalah, karena sifat otoritas keuangan modern adalah transaksional based yang transparan. Tetapi dalam sistem keuangan modern yang berlaku saat ini, berarti otoritas keuangan R maupun D sama sekali tidak bisa mengambil manfaat atas transaksi ini.

Nampak bahwa pencatatan hanya dilakukan oleh otoritas Y yang sebenarnya tidak terlibat dalam transaksi antar region R dan D. Dalam sistem offset yang terjadi saat ini, hal ini memungkinkan otoritas keuangan Y bisa menutup sejumlah kebutuhan -100 Y agar jumlah uang yang diperlukan dalam domain otoritas Y tetap sesuai dengan yang dibutuhkan.

Salam,
-yohan-

Entry filed under: Sistem Ekonomi. Tags: , , , .

Sistem Keuangan Modern (Part 3) Menghitung kebutuhan batere modifikasi mobil mesin bensin menjadi mobil listrik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

November 2010
S S R K J S M
« Okt   Agu »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: