Uang dan Emas

18 September 2010 at 1:48 am 2 komentar

Cibinong, 15 Agustus 2010

Menjadikan emas sebagai alat tukar dilingkungan kelompok tertentu atau region tertentu dewasa ini mungkin sah-sah saja. Ini seperti kembali kemasa ketika emas menjadi alat tukar dan juga sebagai backup uang sebelum tahun 1970. Dalam lingkungan yang lebih sempit nilai intrinksik emas mungkin saja bisa mewakili nilai intrinksik dari barang-barang yang diperlukan oleh sekelompok orang atau di region terbatas. Hal ini karena keberadaan emas yang melimpah disuatu region atau group menyebabkan total nilai intriksi emas disuatu lingkungan tertentu bisa jadi mencukupi untuk menilai nilai intriksi barang-barang yang diperdagangkan. Tetapi untuk kepentingan yang lebih luas apalagi kepentingan global, secara teknis saat ini emas tidak memungkinkan sebagai alat tukar.

Perdagangan dengan emas (uang real) secara teoritis tidak mungkin. Hal ini karena sejak jaman revolusi industri, kebutuhan manusia dengan 7 Milyar manusianya sudah sedemikian kompleksnya dibanding masyarakat awal yang berbasis pada pertanian. Barang-barang yang bernilai tidak lagi terbatas pada kebun tomat, kebun padi dan kelapa. Barang-barang yang bernilai bermunculan dan belum pernah disaksikan sebelum kelahiran revolusi industry. Sebut saja, pesawat udara, gedung megah yang menjulang ke langit setengah kilometer tingginya, komputer, chipset, smart phone dan lain-lain.

Total nilai intrinksik emas seluruh dunia hanyalah sebagian kecil dari total nilai intriksi barang-barang yang akan diwakilinya. Secara matematis saat ini saja katakanlah total nilai intrinksik emas (nilai real pasaran) katakanlan = A

Total kebutuhan energy dunia nilainya     = B
Total kebutuhan besi                                         = C
Total kebutuhan bahan makanan                 = D
Total kebutuhan tembaga                                = E
Total nilai intriksi bangunan                           = F Dst.

Secara matematis pasti nilai intriksi A < A+B+C+D+F dst.

Okelah kalau gitu. Memang tidak mungkin emas sebagai barang komoditas sekaligus sebagai alat tukar real. Karena pada dasarnya jika suatu barang dijadikan komoditas dan sekaligus sebagai alat tukar, maka kejadiannya pasti seperti itu.  Secara matematis, nilai komoditas dari barang itu tidak mungkin bisa mengcover nilai komoditas dari dirinya sendiri ditambah nilai komoditas dari total barang-barang lainnya. Kita bisa saja berargumen cobalah emas jangan dijadikan barang komoditas, tetapi jadikan ia hanya sebagai uang atau alat tukar.

Marilah kita lihat saat ini, anggab saja bank sentral mampu mengumpulkan semua emas ditangan pemilik swasta, berapa emas yang bisa dijadikan uang. Saat ini total emas yang bisa dijadikan uang adalah sekitar 157.000 ton. Nilai intriksi emas ini adalah hanya 51.967 Trilyun rupiah. Jelas jauh lebih kecil dari nilai intriksi total barang-barang yang akan diperdagangkan diantara umat manusia. Jangankan untuk perdagangan antara semua umat manusia yang mencapai 7 Milyar, untuk perdagangan antar negara saja nilai intriksi emas masih belum mencukupi.

Untuk saat ini nilai intriksi emas hanya bisa mengkover 46% volume perdagangan dunia, belum lagi ditahun-tahun yang akan datang. Praktis pertukaran uang real menjadi tidak memungkinkan. Yang terjadi paling-paling over value dari nilai emas saat ini, alias uang emas akan bernilai sekian kali lipat dari nilai intriksiknya. Dan over value ini akan terus naik, mengingat pertumbuhan cadangan emas merangkak seperti keong dibanding pertumbuhan penduduk dan kebutuhan perdagangan global.

Begitu juga untuk Indonesia, alat tukar emas bukanlah pilihan yang bijak. Hal ini mengingat cadangan emas Indonesia hanya sebagian kecil dari cadangan emas dunia, sementara kebutuhan penduduk Indonesia yang mencapai 238 juta jiwa bukan hanya melulu masalah emas. Jika mata uang emas diperlakukan, bagaimana Indonesia akan menilai cadangan emas yang dimilikinya dengan total nilai ekonomi dan segala kekayaan pendukuk dan alam yang belum digali itu. Karena nilai intriksik emas diharapkan sama disemua bagian di dunia, maka bandingkan dengan pihak swasta yang menimbun emas berton-ton diluar sana, tiba-tiba memiliki kekayaan yang lebih besar dari total nilai emas dus semua perekonomian Indonesia yang sebelumnya nggak.

Jadi untuk kebutuhan mata uang global dan mata uang Indonesia, akan lebih bijak jika mata uang ini dari sisi bahan tidak terbatas, tetapi dibatasi oleh kepentingan perdagangan antar manusia itu sendiri. Yaitu angka yang disepakati.

Salam,

-yohan-

Entry filed under: Sistem Ekonomi. Tags: , , , , , , .

Alam Semesta dan Manusia Sistem Keuangan Modern (Part 1)

2 Komentar Add your own

  • 1. purwoko  |  2 November 2010 pukul 3:04 pm

    Kayaknya ada yg gak bener deh. Misal, di dunia ini hanya dihuni oleh 10 orang yg masing2 menghasilkan dan membutuhkan barang senilai Rp1jt/bulan. Berapa banyak emas yg dibutuhkan untuk alat tukar? Senilai Rp10jt? Salah! Dengan asumsi tiap orang bertransaksi sekali sehari dg nilai yg sama setiap hari, emas senilai Rp35rb sudah cukup.

    Balas
    • 2. yohans  |  3 November 2010 pukul 3:02 pm

      Keadaan tersebut adalah penggambaran dalam kondisi yang bisa terjadi. Emas yang tersedia tidak mencukupi untuk perdagangan antar negara menggunakan alat tukar emas langsung, apalagi jika melibatkan perdagangan antara manusia yang mencapai 7 Milyar. Dalam contoh 10 orang tersebut, tergantung asumsinya. Jika terjadi lima kali transaksi (peer to peer) masing-masing senilai Rp 1 juta, jelas emas yang ada (dengan catatan hanya senilai Rp 35 rb) tersebut tidak akan cukup. Dari keadaan ini apakah kita akan mengambil skenario terbaik bahwa emas senilai Rp 35 ribu (Dan mengasumsikan bahwa nilainya akan tetap Rp 35 ribu) mencukupi untuk kebutuhan itu, sementara pola transaksi memiliki kemungkinan yang beragam.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2010
S S R K J S M
« Des   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: