Materi dan Immateri

16 September 2010 at 10:03 am Tinggalkan komentar

Cibinong, 9 September 2010
Saat kita membicarakan materi, ia adalah partikel, energi dan dimensi yang menyertainya. Energi adalah materi, hal ini sudah dikonfirmasi oleh sifat dualisme partikel dan energi. Dimensi yang menyertainya adalah ruang dan waktu, termasuk kekosongan. Kekosongan adalah bagian dari dimensi ruang yang ada karena ketiadaan partikel atau energi. Lantas apa yang dimaksud dengan immateri?

Immateri adalah memori, informasi, gagasan, pikiran, kesadaran dan kehendak atau hal-hal lain yang bukan materi. Tetapi Immateri terkait erat dengan materi, karena Immateri memerlukan materi untuk bisa diungkapkan. Immateri memerlukan transformasi materi untuk hadir.

Misalnya informasi bisa ada karena perubahan partikel-energi dalam konsep ruang waktu. Informasi bukanlah partikelnya, bukanlah energinya, bukanlah ruangnya atau waktunya. Sederhananya bukanlah materinya. Perubahan energi-partikel dalam dimensi ruang dan waktulah yang akan menjadikan suatu informasi. Memori juga demikian, memori bukanlah energi atau partikelnya. Tetapi memori bisa diwakili oleh perubahan energi-partikel dalam dimensi ruang dan waktu. Pun demikian dengan kesadaran dan kehendak, ia adalah immateri. Tetapi hanya perubahan atau transformasi materilah yang akan melahirkan immateri. Tanpa perubahan, tanpa noktah hitam diatas putih, tanpa angka 1 diantara lautan nol, tanpa lubang diantara dataran, tidak ada itu yang namanya informasi, tidak ada itu yang namanya ide, tidak ada itu yang namanya kehendak. Singkatnya tranformasi atau perubahan materi adalah media dari immateri.

Materi dan Immateri adalah sebuah konsep. Konsep yang merupakan kerangka berpikir yang bisa membantu menjelaskan tentang hubungan antara Tuhan dan makhluk serta kaitannya dengan alam semesta.Dalam konsep tentang Tuhan dan makhluk, yang juga berkepentingan adalah kita manusia. Maka dalam konsep Tuhan yang Esa, manusia juga mesti menjaga konsistensi konsepnya. Sama dengan konsep materi dan immateri, ia adalah sebuah konsep. Dalam konsep ini tidak ada materi lain diluar alam semesta. Immateri eksis hanya dalam transformasi materi.

Dalam konsep Tuhan Yang Esa, makhluk adalah apa saja yang bukan Tuhan. Ia bisa manusia, malaikat, hewan, tumbuhan, angin, jin, setan, iblis, debu galaksi dan lainnya yang bukan Tuhan. Menyebut sesuatu sebagai bukan Tuhan, hanyalah mungkin jika merujuk pada pengertian makhluk. Menyebut sebagai bukan makhluk, pastilah ia adalah Tuhan. Jadi jika saya menyebut sebagai bukan Tuhan, maka ia masuk dalam kelompok makhluk. Jika kita bertemu dengan sesuatu kemudian kita menyebutnya sebagai bukan Tuhan dan bukan makhluk, maka kita mengingkari konsep Tuhan yang Esa yang semula kita jadikan rujukan.

Sama dengan korelasi tersebut. Dalam konsep materi dan immateri, dalam kaitan antara materi dan immateri adalah menyebut bukan materi pastilah merujuk pada immateri. Begitu sebaliknya menyebut immateri, ia akan merujuk pada materi. Ini adalah kerangka berpikirnya yang menjadi landasan konsep materi dan immateri.

Mengapa materi dan immateri punya kaitan dengan Tuhan dan makhluk? Hal ini juga merujuk pada persepsi Tuhan yang sudah ada. Sifat-sifat Tuhan yang kita kenal, itu adalah sifat-sifat yang ada juga dalam makhluk. Sifat-sifat ini adalah immateri. Tuhan juga bernah berjumpa dengan Adam dan Iblis di surga. Dalam hal ini Tuhan adalah materi. Maka dalam konsep materi dan immateri bukan hanya berlaku untuk makhluk dalam konsep yang ada selama ini.

Alam semesta adalah materi dan immateri. Alam semesta mencakup segala materi. Jika ada materi diluar sana, maka ia adalah alam semesta. Sejauh apapun materi baru menambah terhadap materi alam semesta yang kita kenal, maka ia hanya akan menjadikan alam semesta berkembang melingkupi materi yang diperkenalkan. Karena begitulah alam semesta didefinisikan.

Eksistensi immateri lahir ketika ada transformasi materi. Uniknya tanpa transformasi, materi tidak akan pernah kita kenal, karena kita hanya bisa mengenal dalam immateri.  Sementara itu, dalam konsep penciptaan yang sudah diperkenalkan, kita akan persepsikan bahwa ada kehendak untuk mencipta terlebih dahulu. Kehendak adalah immateri. Artinya kehendak tidak bisa ada tanpa ada transformasi materi. Konsekuensinya dalam waktu yang serta merta (instan time), materi dan immateri mesti ada pada saat yang sama. Tetapi jika persepsi kita yang satu mesti mendahului yang lainnya, maka proses ini tidak bisa dihentikan dalam satu waktu tertentu yang merujuk pada instan time. Ia sebenarnya merujuk pada proses yang tak berujung pangkal seperti pengertian tak hingga dalam deret angka.

Maka ketika Tuhan adalah materi dan immateri. Ketika alam semesta adalah materi dan immateri. Berdasarkan penjelasan paragraph sebelumnya, materi harus ada ketika immateri ada. Karenanya ketika Tuhan ‘menciptakan’ (yang berarti berkehendak atau immateri) materi alam semesta, Dia mestilah menciptakan materinya sendiri. Kehendaknya tidaklah mendahului adanya materi Tuhan. Karena kehendak adalah Immateri yang hanya akan lahir ketika ada perubahan atau transformasi materi.  Dan karena materi selalu akan menjadi bagian dari alam semesta maka materi alam semesta setidaknya harus dilahirkan sama pada saat materi Tuhan dilahirkan. Maka satu-satunya alasan yang bisa diterima dalam konsep ini adalah Materi-Immateri Tuhan dan Alam semesta dilahirkan pada saat yang sama. Dan karena materi selalu akan menjadi bagian alam semesta, maka Tuhan dari sisi Materi setidaknya akan sama dan tidak lebih besar dari materi alam semesta.

Eksistensi antara immateri dan transformasi materi hadir pada saat yang sama juga relevan dengan hukum kekekalan energi yang dikenal oleh fisikawan. Setelah proses eksistensi materi dan immateri, maka materi tidak pernah lagi ditambahkan dalam alam semesta. Ia hanya mengalami transformasi materi. Bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta bisa dijelaskan secara lebih mudah melalui materi dan immateri. Konsep ini sejalan dengan teori fisika modern mengenai dentuman besar. Tuhan bukanlah seperti ‘sesuatu’ diluar sana yang membuat sesuatu kemudian membentuknya sebagai alam semesta.

Karena Immateri Tuhan dilahirkan pada saat yang sama dengan Materi Tuhan dan pada saat yang sama Materi Alam semesta dilahirkan oleh karena definisinya. Immateri alam semesta adalah konsekuensi dari perubahan materi alam semesta. Maka otomatis lingkup immateri Tuhan setidaknya akan sama dan tidak lebih besar dari immateri alam semesta.Ini adalah penjelasan bahwa materi dan immateri Tuhan tidak lebih besar dari materi dan immateri alam semesta.

Bagaimana dengan Materi dan Immateri manusia?

salam,
-yohan-

Entry filed under: Spiritual. Tags: , , , , , , .

Tuhan dan saya Alam Semesta dan Manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2010
S S R K J S M
« Des   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: