Tuhan dan saya

8 September 2010 at 12:33 pm Tinggalkan komentar

Cibinong, 8 September 2010

Sang pencipta tidak harus lebih besar dari ciptaannya, saya rasa berlaku juga disini. Dalam kehidupan kita saat ini. Hal ini karena surga dalam konsep waktu keberadaannya tidak menjadi terhapus karena manusia tinggal di bumi. Surga berada dalam konsep waktu yang sama dengan tempat kita berpijak saat ini, meskipun berada dalam konsep ruang yang bisa berbeda. Keberadaan bumi tidak menghilangkan keberadaan surga, pun demikian keberakhiran bumi bukanlan penyebab dimulainya keberadaan surga. Rujukan mengenai ini banyak kita temui dalam kitab-kitab suci. Surga adalah juga bagian dari alam semesta. Sedikit konsep surga juga bisa kita temui dalam tulisan https://yohans.wordpress.com/2008/09/13/diskusi-mengenai-dosa-manusia-dan-hidup-kekal/

Kita perlu berhati-hati ketika memperkenalkan konsep Tuhan yang tidak harus lebih besar dari ciptaannya. Karena konsep lebih besar lebih mudah dipahami dalam konsep materi yang memiliki dimensi ruang. Meskipun demikian, kita harus sadari bahwa materi saya hanyalah secuil dari segala materi yang ada. Dan bukankah Tuhan juga immateri begitu juga dengan manusia. Maka lebih besar atau sama dalam hal immateri ukurannya berbeda dengan konsep ruang.  Immateri bisa menjangkau sisi terjauh alam semesta, tetapi immateri apakah yang paling lengkap untuk bisa mengungkapkan seluruh rahasia alam semesta? Rahasia daun-daun yang gugur, rahasia kelahiran dan kematian segala jenis serangga, rahasia segala debu komet yang tercecer? Tentu saja adalah semua immateri yang mungkin ada  pada alam semesta itu sendiri.

Kasus yang sering menjadi rujukan kesalahan persepsi ‘saya adalah God’ adalah ketika kesadaran manunggaling kawulo lan gusti saat Syekh Siti Jennar berkata bahwa “Aku adalah Aku”. Dengan demikian tidak ada lagi yang namanya Syekh Siti Jenar, karena yang ada hanyalah “Aku”. Dengan serta merta ini menjadikannya tiba-tiba tercerabut dari pengertian hubungan makhluk dan Tuhan. Tidak ada lagi makhluk yang bernama Syek Siti Jenar, yang ada hanyalah Tuhan. Tentu saja konsep ini tidak bisa diterima saat itu, karena pengertian makhluk sudah berurat berakar dan mudah dipahami bahkan oleh kaum atheis sekalipun. Konsekuensinya pengertian dia (Syekh Siti Jennar) sebagai makhluk langsung gugur,  yang muncul hanyalah pengertian dialah Tuhan itu. Maka wajar komunitasnya menjadi bingung, kemana aku yang makhluk mesti menghadap ketika aku mengangkat takbir. Sementara ada Tuhan yang lain karena Syekh Siti Jenar juga adalah Tuhan dan dia sendiri tidak mengakui dirinya sebagai makhluk.

Ketika kita secara spesifik menyebut “saya adalah God”, kalimat ini bisa menjebak kita mengungkung Tuhan hanya dalam diri kita sendiri. Sementara kalimat “saya juga adalah God” hanyalah memisah-misahkan entitas ketunggalan Tuhan dalam materi-materi yang terpisah. Padahal materi saya hanyalah sepersekitan cuil debu jika dibandingkan dengan materi alam semesta. Pun demikian immateri saya hanyalah secuil dari immateri  alam semesta. Materi saya tidak akan bisa mencakup seluruh materi alam semesta, begitupun immateri saya tidak akan sanggup mewakili segala immateri yang mungkin hadir dialam semesta. Hanya ketika anda menghadap saya maka disitulah wajah saya berada. Sementara konsep Tuhan Yang Esa menuntun kita pada kemanapun kita menghadap disitulah wajah Tuhan berada.  Kemanapun anda menghadap pada banyak wajah manusia, pada wajah alam, pada wajah planet-planet dan bintang-bintang atau pada ruang hampa disitulah wajah Tuhan berada. Karenanya kita memilih “Tuhan hadir dalam saya”, menuntun kita pada pengertian kemanapun anda menghadap pada banyak saya, disitulah wajah Tuhan hadir.

“Tuhan hadir dalam saya” juga sejalan dengan Tuhan lebih dekat dari urat leher saya sendiri. Kalimat ini tidak meniadakan saya sebagai makhluk yang pengertiannya sudah berurat berakar. Dan ketika Tuhan hadir dalam saya, maka cukuplah bagi orang suci yang dikenal sebagai Budha untuk merasakan immateri Bintang dan Rembulan untuk mengenal kehadiran Tuhan disana.

Salam,

-yohan-

Entry filed under: Spiritual. Tags: , , , , .

Tuhan dan Alam Semesta Materi dan Immateri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2010
S S R K J S M
« Des   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: