Tuhan dan Alam Semesta

8 September 2010 at 10:43 am Tinggalkan komentar

Cibinong, 7 September 2010

Membicarakan konsep Tuhan dan Alam Semesta mestilah dimulai dari konsep Tuhan itu sendiri. Apakah Tuhan itu materi ataukah Immateri. Karena jikalau kita belum sepakat akan konsep ini, maka menjadi kurang relevan kita membicarakan hubungan antara Tuhan dan Alam Semesta. Hubungan antara yang menciptakan dan yang diciptakan.

Jika kita belajar dari sejarah kelahiran agama-agama besar didunia. Nampaknya Tuhan juga termasuk Materi selain sifat-sifatNYA yang Immateri. Hal ini bisa ditelurusi dari sejak Ibrahim berpikir mencari Tuhan sekitar 5000 tahun yang lalu. Dalam pencariannya sebelum yakin akan konsep Tuhan yang Esa. Beberapa kali Ibrahim mendapatkan tuhan yang materi. Tuhan-tuhan itu adalah Rembulan, Bintang dan Matahari. Semua benda itu adalah materi, karena Ibrahim juga menduga Tuhan adalah materi sebagaimana dirinya.

Begitu juga saat Musa ingin melihat Tuhan sekitar 3000 tahun yang lalu. Musa bukan hanya ingin mengenal sifat-sifat Tuhan tetapi dia ingin melihat materi Tuhan. Karena begitulah Musa mengenal dirinya sendiri. Maka Tuhan mengabulkan keinginan Musa, dia tampakkan diriNYA kepada Musa. Terlepas dari gunung-gunung tak sanggup menerima wujud Tuhan, tetapi ini berarti Tuhan adalah materi.

Berbeda dengan sang si Dharta Budha Gautama, dia merasakan Ruh Tuhan ada dalam dirinya. Maka Budha bisa merasakan empati menjadi apa saja dialam semesta. Tuhan baginya awalnya hadir sebagai immateri. Materi Tuhan bisa apa saja bisa siapa saja. Maka tidak heran ketika Yesus yang materi dianggab sebagai tempat immateri Tuhan itu sendiri. Begitu juga dengan Muhammad yang materi dan immateri sekitar 1300 tahun yang lalu menghadap Tuhan yang berada diatas arsy yang tinggi. Ini bararti Tuhan adalah materi yang bersabda sebagai immateri.

Kata penciptaan yang diajarkan oleh Tuhan kepada manusia saat masih dusurga tidak mengharuskan penciptanya lebih besar dari ciptaannya. Karena itu tidak harus Tuhan lebih besar dari Alam Semesta sebagai ciptaannya. Hal ini merujuk pada saat penciptaan Manusia oleh Tuhan. Manusia dibentuk dari Tanah dan ditiupkan ruh kedalamnya. Manusia dengan materinya di surga mestilah materi alam semesta. Bercakap-cakap dengan Tuhannya maka mestinya Tuhan juga berada dialam semesta. Apalagi bagi kaum Nasrani yang mengimani bahwa manusia diciptakan menurut gambarnya. Maka penciptaan tidak harus selalu lebih besar dari ciptaannya memang menemukan landasannya.

Dan atas seruan untuk tidak memikirkan zat Tuhan, sebenarnya adalah konsekuensi dari Tuhan yang ber zat, Tuhan yang materi. Mengenal sifat-sifatnya adalah bagian immateri dari Tuhan. Jika kita melihat manusia, materi manusia bagai sepersekian bagian debu jika dibandingkan dengan alam semesta. Tetapi jangkauan pikiran manusia bisa menyentuh kedua ujung alam semesta, pun bahkan bisa melebihi luasnya alam semesta. Maka dimanakah materi Tuhan berdiam yang dikenal dengan arsy yang tinggi. Dan dimanakah immateri Tuhan menjangkau. Jika alam semesta adalah semua hal yang materi, maka arsy yang materi tempat bersemayamnya Tuhan mestilah bagian dari alam semesta juga.

Dalam kitab suci umat Islam surat qaaf juga disebutkan bahwa Tuhan lebih dekat daripada urat leher manusia sendiri. Urat leher ini adalah materi dari manusia. Sementara manusia adalah materi dan immateri. Apa yang lebih dekat dari materi manusia itu sendiri selain immaterinya sendiri?

Karenanya Tuhan mestilah bisa mengambil wujud segala materi alam semesta. Maka Gunung tidak akan sanggup menahan kehadiran Tuhan saat Musa ingin melihat wujud Tuhan diatasnya. Padahal immateri Tuhan bisa hadir dalam materi manusia yang disebut Yesus dan Budha. Dan materi dan immateri manusia yang dikenal dengan Muhammad sanggup beruntai kata saat Tuhan hadir di arsy yang materi. Kenapa Gunung saat itu tidak sanggup? Ini karena Musa tidak ingin melihat gunung, dia ingin melihat ujud Tuhan. Padahal jika Musa melihat Gunung dan menyadai immateri Tuhan ada didalamnya, niscaya gunung itupun tetap kuat sebagai adanya gunung.

Mereka yang suci menunjukkan Tuhan bisa mengambil bentuk apa saja, karenanya kenapa Tuhan harus mengambil tempat dan bentuk diluar alam semesta ketika menciptakan alam semesta? Ketika materi Tuhan adalah bisa seluruh alam semesta dan immateri Tuhan adalah segala rahasia dan pengetahuan dari alam semesta, kenapa kita harus mempertanyakan bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta? Maka Tuhanpun berkata jadilah maka jadilah ia. Science menjelaskan bagaimana alam semesta tercipta, relegion mencari jawab kenapa alam semesta tercipta, keduanya mestinya bukanlah dua kutub yang bertentangan.

salam,
-yohan-

Entry filed under: Spiritual. Tags: , , , , .

Bahasa manusia bisa menjangkau konsep Eksistensi Tuhan dan saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2010
S S R K J S M
« Des   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: