Bahasa manusia bisa menjangkau konsep Eksistensi

7 September 2010 at 1:04 am Tinggalkan komentar

Cibinong, 7 September 2010

Tuhan menciptakan alam semesta dalam 7 masa ditulis dalam semua kitab agama samawi (agama yang berasal dari daerah Yerusalem dan arab). Tetapi hal ini tidak disebutkan dalam kitab-kitab agama lainnya. Meskipun demikian, menciptakan menjadi hal yang menarik, karena kita menggunakan kata mencipta yang juga digunakan untuk kehidupan kita sehari-hari.

Maka tidaklah salah jika kasus Tuhan membuat bumi, akan membawa pengertian mirip dengan kasus manusia menciptakan komputer. Hal ini wajar karena kita juga terbiasa dengan kata menciptakan yang memiliki makna tersendiri buat kita. Bagaimana Tuhan membuat dan bagaimana manusia membuat pastilah berbeda. Tetapi dalam kasus manusia membuat komputer, pertanyaannya bisakah komputer (hardware dan softwarenya) menjelaskan kepada komputer lainnya bahwa manusialah yang membuatnya?

Untuk kasus ini, dimungkinkan komputer bisa ‘menjelaskan’ kepada komputer yang lain bahwa manusialah yang membuatnya. Meskipun komputer berbahasa mesin dan manusia berbahasa manusia. Pun demikian dengan bahasa manusia dan “bahasa Tuhan”. Bahasa manusia sudah sewajarnya bisa menjelaskan tentang Ketuhanan. Ini juga bisa kita lihat, bagaimana kitab-kitab suci yang menjelaskan tentang sifat-sifat Ketuhanan juga ditulis dalam bahasa manusia. Seakan-akan Tuhan juga ingin bahasa yang digukan sehari-hari oleh manusia bisa menuntunnya pada pemahaman eksistensi Tuhan itu sendiri.

Apakah menggambarkan sesuatu dengan bahasa adalah perkara mudah? Tentu saja tidak. Menggambarkan benda yang bisa dilihat oleh mata, misalnya bagaimana menggambarkan bentuk fisik sebuah buku, juga bukan perkara yang mudah. Ada prasarat yang mesti dipahami oleh penerima penggambaran (sebut saja dengan fulan). Jika penggambarannya dengan kata-kata, prasarat ini misalnya selain mesti mengerti bahasa yang digunakan, si fulan mesti juga tahu tentang bentuk, konsep ukuran, konsep bahan dan konsep warna. Tentu saja jauh lebih mudah jika kita memperlihatkan buku itu kepada fulan. Tapi cara inipun ada prasaratnya, fulan mestilah memiliki mata yang normal.

Dus menggambarkan materi yang sebenarnya tidak bisa kita lihat adalah jauh lebih sulit. Ia hanya kita kenali dari sifat-sifat atau efek-efeknya jika kita lakukan sesuatu pada materi tersebut (dalam hal ini elektron dan atom). Dan dari reaksinya atas aksi apa yang kita berikan itulah kita menggambarkan elektron dan atom. Apakah ini cukup untuk menggambarkan elektron dan atom? Tergantung seberapa dalam kita ingin melihat elektron dan atom. Jika kita memaksa ingin melihat elektron dan atom menggunakan mata kita yang memiliki keterbatasan daya pembesaran dan spektrum warna yang bisa ditangkap, jelas jawabannya tidak mungkin. Tetapi untuk cukup dimengerti oleh pikiran, kira-kira akan cukuplah penggambaran menggunakan bahasa yang kita lakukan.

Itu berbicara mengenai penggambaran materi. Sekarang bagaimana kita menggambarkan tentang manusia. Manusia terdiri dari unsur materi dan immateri. Kita dengan mata normal bisa melihat bentuk fisik fulan. Apakah itu akan cukup menggabarkan fulan. Untuk keperluan menyapa fulan itu cukup. Tapi untuk jangkauan pertanyaan yang lebih dalam itu belum cukup. Kita musti mengamati pikirannya. Bagaimana kita mengamati pikirannya? Meskipun tidak mudah hal ini bisa kita dekati dengan melihatnya reaksinya atas aksi yang kita lakukan terhadapnya. Cukupkah itu? Bagi seseorang yang ingin menawarkan kopi pada sifulan tentu saja itu cukup. Tapi tentu saja tidak akan cukup untuk menggambarkan kira-kira apa yang akan dipikirkan oleh si fulan 1 jam lagi misalnya. Dan mungkin saja tidak akan cukup untuk menggambarkan siapakah sebenarnya fulan pada tataran filsafat yang lebih dalam?

Menggambarkan Tuhan menggunakan bahasa kita tentu saja sulit. Tetapi pada kedalaman dan maksud tertentu bukan hal yang mustahil. Tapi sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu sepakat dulu? Apakah Tuhan materi atau bukan? Apakah tuhan Immateri atau bukan? Immaterikah Tuhan ataukah seperti manusia yang terdiri dari materi dan immateri?

Salam,
-yohan-

Entry filed under: Spiritual. Tags: , , , .

Catatan Buka Bersama IA-ITB 31 Agustus 2010 Tuhan dan Alam Semesta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2010
S S R K J S M
« Des   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: