Jelang Lebaran, Sektor Transportasi Publik Menjadi Pelaku Utama Anomali Harga

16 September 2009 at 11:33 pm Tinggalkan komentar

Oleh : Yohan Suryanto
Cibinong, 16 September 2009

Di mata konsumen, kenaikan harga yang terjadi saat volume permintaan yang tinggi bisa diimbangi dengan volume pelayanan yang juga tinggi, adalah merupakan anomali. Anomali ini bahkan bagi sebagian kalangan merupakan indikasi adanya budaya aji mumpung di kalangan masyarakat Indonesia. Mumpung lebaran, mumpung konsumen baru mendapat THR atau mumpung konsumen lagi butuh,  mereka naikkan harga. Anehnya anomali ini berlangsung dari tahun ke tahun. Usaha untuk menghilangkan anomali ini, kalaupun ada, belum kelihatan hasilnya. Namun setelah ditelusuri, nampaknya masyarakat Indonesia bukanlah penganut paham aji mumpung. Hal ini terbukti dari normalnya sebagian besar harga-harga yang disediakan di berbagai sektor. Kenaikan sembako menjelang lebaran hanya berkisar antara 5-10%, itupun hanya terjadi di pasar-pasar tradisional. Yang aneh adalah sektor Transportasi Publik, baik swasta maupun BUMN yang secara sistematis menjadi motor anomali harga bagi konsumen pada saat menjelang dan sesudah lebaran. Kenaikannya bisa sampai 150%. Ya anomali ini hanya terjadi di sektor transportasi publik. Ini merupakan tantangan bagi menteri perhubungan dimasa-masa yang akan datang. Mampukah pengelola kebijakan transportasi membuat anomali ini tidak lagi ada di tahun-tahun mendatang.


Saat saya berbuka puasa di salah satu tempat makan langganan, yang memang melayani pelanggannya bukan hanya pada saat bulan puasa, saya mesti booking seminggu sebelumnya. Herannya harga menu yang disediakan, tidaklah berubah. Mereka tidak menaikkan harga satu persenpun menjelang lebaran. Fenomena ini saya kira terjadi di semua restoran di Indonesia, bukan hanya di restoran lokal, restoran francise luar negeri sekalipun, tidak menaikan harga menjelang lebaran. Ini artinya mereka bukanlah penganut paham aji mumpung, meskipun permintaan di bulan puasa sangat tinggi. Sektor makanan jadi, mampu mengelola peningkatan volume permintaan menjelang lebaran. Hebatnya pengelolaan disektor ini terbukti dengan tidak perlunya tuslah, meskipun mereka ada yang membeli bahan-bahan mentah di pasar tradisonal yang harganya bisa naik antara 5-10%.

Saat saya melintas di depan toko pakaian jadi, tempat saya biasa membeli beberapa potong pakaian, mereka malah menawarkan discount. Kenyataan ini membuat saya lega, ternyata memang masyarakat Indonesia bukanlah penganut paham aji mumpung. Meskipun permintaan menjelang lebaran sangat tinggi, yang terjadi justru mereka memberikan diskount kepada pelanggan. Tidak ada tanda-tanda mereka menjual baju lebih mahal dibanding sebelum lebaran. Sektor pakaian mampu mengelola peningkatan volume permintaan menjelang lebaran. Yang biasanya dijual seharga 100 ribu, menjelang lebaran malah dijual 90 ribu saja.

Sektor Telekomunikasi, baik yang dilakukan oleh swasta maupun perusahaan yang dimiliki oleh goverment, juga tidak beda jauh. Sektor ini mampu mengatasi lonjakan permintaan sms maupun telepon pada saat lebaran. Tak ada satupun yang menaikkan harga sekitar lebaran. Justru yang terjadi adalah mereka malah memberikan layanan istimewa bagi para pemudik. Mereka menyediakan tempat istirahat lengkap dengan terapi pijat segala. Sektor ini rame-rame menawarkan program discount juga. Lonjakan permintaan bukan masalah, mereka tidak menjawab dengan tuslah, mereka menjawab dengan memberikan pelayanan yang lebih baik.

Sektor Energi baik BBM maupun Listrik, juga melakukan hal yang sama. Di tengah meningkatnya pemakaian BBM karena digunakan untuk transportasi mudik, pertamina tidak meminta tusla. Harga BBM masih tetap seperti sebelum lebaran. Begitu juga dengan listrik. Meskipun banyak warga yang menyalakan tv saat lebaran, PLN tidak menaikkan harga. Mereka menjawab lonjakan permintaan dengan mengeluarkan stok tambahan dan juga orang-orang yang standby, siap menangani gangguan.

Yang sedikit mengalami kenaikan, adalah harga beberapa kebutuhan pokok. Itupun kalau kita membeli di pasar tradisional, yang memang permintaan menjelang lebaran lebih tinggi dibanding pasokan yang ada. Kenaikannya hanya 5-10% saja, sebuah kenaikan yang wajar, tidak cukup untuk dikatakan aji mumpung. Jika kita membeli kebutuhan pokok di minimart-minimart, dimana mereka melakukan pengelolaan stok, tidak ada kenaikan harga. Begitu juga jika kita membeli di hypermart, harga-harga yang ditawarkan umumnya tidak naik menjelang lebaran. Apalagi jika yang dibeli adalah beras rojo lele dan sebangsanya. Tetangga saya juga sama, dia tidak menaikkan harga berasnya menjelang lebaran.

Yang terjadi dengan sektor transportasi publik memang anomali. Berdasarkan berita di http://www.antaranews.com tanggal 10 September 2009,  Menhub Jusman Syafei Djamal memperkirakan jumlah penumpang yang memakai angkutan umum sebanyak 16,250 juta, yang menggunakan kendaraan pribadi dan motor 11 juta. “Sehingga total pemudik diperkirakan 27,260 juta,” kata Jusman. Sarana seperti KA, dan angkutan laut ASDP diperkirakan melebihi kapasitas permintaan. Sementara jumlah bus tersedia 34.358 bus, dengan daya angkut 16,5 juta. Sedangkan kapal penyeberangan 116 buah di 7 lokasi penyeberangan dengan kapasitas total 10,6 juta orang. Untuk angkutan kereta api tersedia 227 rangkaian dengan kapasitas angkut 3,71 juta. Angkutan laut dengan jumlah kapal 125 dan 3,19 juta tempat duduk. Sementara untuk pesawat 276 unit dengan 2,28 juta tempat duduk. “Jadi total kapasitas 36,4 juta orang”.

Nampak bahwa pengelola kebijakan transportasi optimis, bahwa kapasitas angkutan lebih tinggi dari total calon penumpang. Tetapi apa yang terjadi? Sektor transportasi publik, baik yang dikelola oleh swasta maupun BUMN, menaikkan harga. Bukan hanya 5-10% seperti kenaikan beberapa kebutuhan pokok yang dijual dipasar tradisional. Kenaikannya bisa membuat pemudik mengurut dada. Seratus lima puluh persen bung, ya 150%. Lihat saja harga tiket dari Jakarta ke Banjarmasin yang biasanya dijual sekitar Rp 500 ribu, menjelang lebaran bisa menjadi Rp 1,25 juta. Inilah anomalinya. Bukan masyarakat Indonesia yang aji mumpung, karena hanya sebagian kecil saja yang melakukan kenaikan seperti ini. Dan itu terjadi di sektor transportasi publik.

——————–

Entry filed under: pengelolaan, Uncategorized. Tags: , , , .

Bila Telinga Satu-satunya Indera Sang Pengamat Relativitas tidak Mengubah Bentuk Benda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2009
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: