Diskusi mengenai dosa, manusia dan hidup kekal

13 September 2008 at 11:10 pm Tinggalkan komentar

rev. 1, 13 September 2008

oleh : Yohan suryanto, yohan@rambinet.com

______________________________________________________________________________

Dalam salah satu kesempatan diskusi di mailing list alumni, Pak Rachmad M menyinggung masalah kaitan dosa dan akibatnya, yang salah satunya adalah hubungan antara kekekalan dan kematian. Bahasan ini cukup rumit untuk ditelaah lebih jauh karena terkait juga dengan keyakinan, tetapi setidaknya tidak ada salahnya kita memberikan opini mengenai masalah ini.

Apa itu dosa

Dalam perjalanan makna kata, kelihatannya dosa menjadi subset dari kosa kata kesalahan. Hanya jika kesalahan yang dilakukan mengandung unsur menyalahi aturan yang digariskan oleh Dia Yang Maha Mengetahui-lah yang kemudian layak mendapat label dosa. Tapi kadang orang tua kita berpesan, “dosa koen le, lek ora manut wong tuwo”, disini berlaku seakan-akan patuh pada orang-tua adalah aturan yang digariskan olehNYA. Karenanya layak mendapat predikat dosa bukan sekedar kesalahan jika melanggarnya.

Untuk itulah dewasa ini diperlukan dasar dari segala sesuatu bisa disebut dosa, yaitu jika dan hanya jika seseorang bisa mengaitkan kesalahannya dengan perintah atau larangan yang ditulis dalam kitab-kitab suci agama-agama. Karena lebih khusus lagi, makna dosa telah bergeser menjadi kesalahan karena melanggar aturan yang telah ditetapkan dalam kitab suci agama-agama tersebut. Tentu saja dengan demikian, kesalahan yang dilakukan tapi tidak ada dalam daftar atau tidak ditafsirkan terkait dengan larangan atau perintahNYA yang tersebut dalam kitab suci biasanya tidak disebut sebagai dosa.

Misalnya, dalam hukum yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta, bahwa manusia akan hidup jika senantiasa menghirup oksigen. Tentu saja jika si-Fulan sengaja tidak menghirup oksigen, misalnya malah menghirup CO2 karena dlahom selama 10 menit, maka akibatnya si-Fulan akan tewas tak bernyawa. Tindakan si-Fulan jika tidak dimaksudkan sebagai bunuh diri (Hal ini menyoal tindakan bunuh diri adalah dosa dalam agama-agama dari Timur Tengah, berbeda dengan Shinto dari Jepun), misalnya karena mengambil permata di dasar sumur yang penuh CO2, tidak bisa dikategorikan dalam dosa meskipun dia melanggar aturan baku yang ditetapkan oleh Sang Pencipta. Kesalahan ini menyebabkan nyawa si-Fulan terbang melayang-layang, tapi susah menyebutkan bahwa si-Fulan telah melakukan dosa.

“Jadi, tidak memenuhi janji-janji* termasuk yg layak mendapat label dosa kalau gitu ya… *Janji-janji: janji kampanye presiden, janji kampanye parpol, janji kampanye kepala daerah, janji kampanye ketua ikatan alumni, etc…”, begitu Pak Ary Retmono, ingin lebih menegaskan.

Dalam salah satu kitab suci yang saya kenal (Al-qur’an), berpegang teguh pada janji adalah sebuah kebajikan. Banyak ayat yang menyatakan ini, termasuk :

Surah AL MU’MINUN ayat 8, “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang         dipikulnya) dan janjinya”, Surah ALI IMRAN ayat 76, “(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertaqwa, maka sesungguhnya Allah menyukai   orang-orang yang bertaqwa”.  Dan Surah AR RA’D ayat 20, “(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian”.

Meskipun janji bisa berarti janji secara umum, tetapi hal ini bisa saja dipersepsikan atau ditafsirkan hanya pada janji kepadaNYA saja yang dianggab dosa. Jadi janji kepada anak kecil atau orang lemah, bagi sebagian orang mungkin akan dianggab sepele dan bisa diabaikan🙂. Hal ini mirip dengan apa yang terjadi dengan kata ‘Insyaallah’, yang mestinya merupakan komitment tertinggi dari seseorang (pemeluk yang meyakini) yang percaya pada Allah ketika meyatakannya. Karena makna sebenarnya dia tidak akan melakukan sesuatu yang dia janjikan jika dan hanya jika Allah tidak mengijinkannya seperti karena kematian yang tiba-tiba datang menjemputnya. Tapi yang terjadi, makna Inysaallah saat ini terasa bergeser, turun derajatnya karena oleh sebagian orang dipersepsikan sebagai : Ya kalau sempat aja ya…dan kebanyakan memang dibuat tidak sempat🙂.

Manusia dan hidup kekal

Memang menarik memperhatikan adanya ‘keinginan’ manusia untuk kembali hidup kekal. Konon khabarnya beberapa raja atau kaisar termasuk Jenghis khan menginginkan keabadian saat mereka didunia, dengan mencari berbagai macam ramuan ajaib. Namun tak satupun yang berhasil melampaui takdir penuaan sel-sel penyusun tubuh, paling banter usia 150 tahun (dalam kalender masehi) yang mungkin bisa bertahan. Konon sebagian berpendapat bahwa ini karena dosa turunan, yang membuat kita mesti hidup didunia, yang demikian indah dan menawannya.

Namun, jika kita berkaca dari penemuan segala jenis fosil dan mendengarkan petuah dari para ilmuwan, nampaknya penyebabnya bukan dosa, tetapi lebih karena memang sudah garis tangan alias takdir makhluk hidup termasuk manusia. Jauh sebelum dikenal adanya manusia di muka bumi, sejak kelahiran bumi sekitar 5-6 Milyar tahun yang lalu, belum ada bukti yang menunjukkan suatu makhluk hidup bisa hidup kekal. Mulai makhluk yang mungil sampai Dinosaurus, tak ada satupun yang kekal sebagai individu. Saat manusia mulai dikenal sekitar 100 ribu tahun yang lalupun demikian juga.

Berdasarkan penemuan fosil makhluk hidup yang hidup ratusan juta tahun sebelum manusia dikenal, ternyata komponen fisik manusia dan makhluk-makhluk lainnya juga tidak berasal dari bahan-bahan yang tidak ditemukan dibumi. Komponen penyusun tubuh fisik manusia mirip seperti bahan-bahan penyusun hewan-hewan yang hidup sebelumnya.

Jadi apakah buah ‘kuldi’, yang konon menurut sebagian orang merupakan alasan manusia mencicipi hidup di dunia, bahan dasarnya sama dengan yang kita makan? Atau tubuh saat kita berada dalam ‘keabadian’ memiliki sel-sel penyusun tubuh yang sama seperti kita saat ini? Ataukah penyusun kita adalah bentuk energi yang lain, bukan zat-zat kimia yang kita kenal saat ini yang sejatinya juga merupakan bentuk energi. Bagaimana kita mengenalnya jika bentuk energi inipun sama sekali tidak bisa kita deteksi, bukan seperti cahaya atau api yang mudah kita lihat dari terang atau panasnya. Ataukah energi ini mirip seperti dalam kehampaan, seperti sebuah ide yang hanya bisa dikenali jika melekat dalam sesuatu yang terlihat dari perubahannya.

Namun pernah ada suatu impian dalam sebuah film (star wars atau ada yang lain, saya lupa judulnya), bahwa sel-sel tubuh yang rusak akan mudah diganti dengan hanya proses scan saja. Akankah ini pertanda keabadian tubuh fisik akan memang ada, seperti impian segelintir orang sejak ribuan tahun yang lalu, tentu saja yang diinginkan bukan keabadian di alam lain, tetapi didunia ini. Kenapa? Karena Dia Yang Maha Mengetahui telah menciptakan dunia ini demikian sempurnanya.

Menjadi menarik jika kita juga mengkaji, banyak hal yang mungkin tidak logis dalam pelaksanaan jalan menuju Sang Maha Pengasih dalam agama-agama. Karena mungkin tidak semua yang dilakukan bisa diajarkan secara langsung. Hal ini seperti jika ada seorang guru ingin mengajarkan rasanya asin kepada muridnya. Guru itu mungkin harus mencari garam terlebih dahulu, jika tidak menemukannya mungkin dengan sejuta kata pun sang murid tidak akan pernah paham dengan sebenar-benarnya apa itu asin.

Adakalanya tuntunan guru nyentrik, tujuannya tidak selalu harus terlihat seperti yang dipikirkan oleh muridnya. Seperti misalnya ada kisah seorang guru yang hanya mau menerima murid yang sangat berbakat, hanya jika sang calon murid mengisi bak air dari sumur dengan timba yang terbuat dari anyaman kasar rotan. Yang tentu saja, akal sehat murid ini akan berkata bahwa gurunya memang ‘gila’, bagaimana air dalam bak akan penuh dengan cara ini. Tetapi karena sudah berjanji, meskipun sudah berhari-hari melakukannya, seakan-akan dia menemukan pembenaran bahwa gurunya adalah memang ‘gila’, bak itu tidak terisi air seemberpun. Tetapi ketika dia putus asa dan semakin putus asa, gurunya menyadarkan bahwa tujuannya bukanlah bak yang penuh air karena usaha gila calon muridnya, tetapi bagaimana sang guru ini ingin lebih meredakan ego logis yang melekat kuat dalam diri calon muridnya. Dan itu kadang berhasil. Hanya dalam belenggulah seseorang akan mengerti arti kebebasan, hanya dalam keterbatasan seseorang akan mengerti makna KesempurnaanNYA.

Kembali kepada manusia setelah kematian apakah akan kembali ke sorga dan hidup kekal didalamnya? Sebagai apakah ia disana, dan dinama lokasi sorga itu?

Menurut asumsi logis sebagian kaum, ada dua pertanyaan mendasar manusia, apakah manusia ini adalah tubuh fisik ataukah manusia adalah pikiran (termasuk informasi, memori yang melekat sepanjang hayatnya). Maka jika ia tubuh fisik, bagaimana ia akan kembali kepada Yang Maha Kuasa, dan bagaiman jika ia adalah sebuah ide, sebuah memori, sebuah pikiran yang sejatinya immateri,  non-energi. Pikiran adalah sesuatu yang imaginer yang justru ada dan dikenali ketika ada suatu media. Dalam hal ini otak, dalam hal ini tulisan, dalam hal ini bacaan, suara dan rupa-rupa media lainnya. Satu hal yang perlu kita ingat adalah, ide atau pikiran ini hanya dan hanya bisa diwakili oleh perubahan suatu energi atau materi. Tanpa perubahan, tanpa noktah hitam diatas putih, tanpa angka 1 diantara lautan nol, tanpa lubang diantara dataran, tidak ada itu yang namanya informasi, tidak ada itu yang namanya ide, tidak ada itu yang namanya pikiran. Perubahan adalah media dari ide, perubahan adalah media dari pikiran.

Bertolak dari pemikiran itu, maka baik pendapat manusia adalah immateri maupun manusia adalah materi/energi, keduanya membutuhkan materi/energi atau perubahan materi/energi supaya relevan. Hal ini termasuk juga sejalan dengan penafsiran dalam kitab-kitab suci yang berasal dari Timur Tengah, baik Al’qur-an maupun Injil. Yang menyebutkan bahwa manusia terbuat dari bahan-bahan yang kita kenal di bumi. Manusia terbuat dari Tanah yang ditiupkan ruh didalamnya. Karenanya Sorga juga tersusun dari bahan-bahan yang materi/energi yang sejatinya unsur-unsurnya kita kenal di bumi ini.
Maka jika kekekalan ini memang ada, besar kemungkinan kekekalan adalah di bumi atau di dunia ini. Karena dari situlah asal muasal manusia hadir dan memiliki makna dengan sorga tempatnya berada. Mungkin kekal sebagai bentuk ujud manusia, atau sebagai sebuah pikiran yang bersifat immateri dengan berbagai media yang berganti-ganti.

Salam,
-yohan-

Entry filed under: General. Tags: , , .

Adopsi Standard Wimax 802.16e untuk BWA Catatan Buka Puasa Bersama IA-ITB, Minggu 14 September 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2008
S S R K J S M
« Jul   Agu »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: