Masukan untuk Standarisasi Perangkat BWA di 3,3-3,5 GHz

19 Juli 2008 at 9:58 am Tinggalkan komentar

Rev. 1.1, 7 Juni 2008
Oleh : Yohan Suryanto (yohan@rambinet.com )
_____________________________________________________________________________________
Pendahuluan

Alokasi Frekuensi BWA di band 3,3-3,5 GHz, sesuai dengan penjelasan dalam dokumen “Masukan
untuk Alokasi Frekuensi BWA di Indonesia” revisi 1.3 oleh Yohan Suryanto tanggal 1 April 2008,
merupakan bagian dari kebutuhan alokasi pita frekuensi BWA yang ideal untuk fixed atau nomadik. Perangkat di band tersebut perlu distandardkan untuk tujuan agar operator bisa memanfaatkan frekuensi seoptimal mungkin, menjamin sinkronisasi dan interoperability antar operator, mendukung konsep VNO (Virtual Network Operator) dan mendapatkan perangkat yang terjangkau dan tidak dimonopoli oleh vendor tertentu, yang pada gilirannya memberikan dampak pada penyediaan akses broadband internet/ network yang lebih terjangkau bagi masyarakat luas.

Standarisasi perangkat BWA di band tersebut yang didiskusikan di Postel tanggal 28 Mei 2008, perlu memperhatikan equipment yang pernah mendapatkan sertifikasi yang digunakan oleh eksisting operator  dan sekaligus juga harus memperhatikan kepentingan pengembangan jangka panjang untuk tercapainya optimalisasi penggunaan frekuensi dalam rangka memberikan akses broadband network atau internet yang merata dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia setidaknya untuk masa 20 tahun kedepan. Kondisi eksisting dan kebutuhan pengembangan kedepan merupakan dua hal yang saling terkait dan harus diperhatikan secara bersamaan sebagai masukan kebijakan standarisasi perangkat BWA dengan semangat kajian yang komprehensive, memperhatikan masukan Menkominfo M Nuh yang menyatakan penataan frekuensi BWA harus memperhatikan kondisi eksisting (T-1), penataan saat ini (T0) dan rencana kedepan (T+1) dengan memperhatikan kepentingan masyarakat, operator, dan industri dalam negeri.

Usulan Standarisasi Perangkat BWA 3,3-3,5 GHz

Point-point usulan standarisasi perangkat di band 3,3-3,5 GHz yang selanjutnya disebut BWA 3335 adalah sebagai berikut :

  1. Standard 802.16e  (standard 802.16d diijinkan dalam masa transisi dan sampai umur keekonomian perangkat eksisting berakhir)

Pernyataan referensi standard terbuka yang jelas dalam sertifikasi yang dikeluarkan oleh Postel, akan lebih memudahkan mencari referensi untuk tujuan interoperability perangkat. Hal ini terjadi misalnya dalam kasus koneksi network BTS dengan Router akan ditulis 100BT 802.3,  penulisan standard ini akan memastikan kita untuk menggunakan interface apa agar dilevel physical router kita tersambung dengan BTS tersebut. Begitu juga dengan pernyataan Wifi 802.11b, dalam sertifikasi Postel mengenai perangkat yang dioperasikan di band 2,4 GHz yang perlu disebutkan disamping kriteria pembatasaan maksimum EIRP yang diatur, akan membuat operator memiliki pegangan pasti dan tidak mengambang untuk menentukan jenis perangkat CPE apa yang kompatibel dengan Akses Point tersebut.

Penulisan standard 802.16e perlu ditegaskan disamping masalah khusus yang terkait dengan lebar kanal yang dipilih, alokasi frekuensi yang ditetapkan, spurious yang diijinkan, center frekuensi, clocking sinkronisasi dan lain sebagainya yang disesuaikan dengan alokasi frekuensi Wimax di band 3,3-3,5 GHz. Karena tanpa ketentuan ini, sertifikasi perangkat yang dikeluarkan oleh Postel, akan terasa mengambang karena tidak bisa memastikan apakah perangkat tersebut akan bisa interoperability dengan perangkat lainnya baik dilevel RF maupun end to end network.

Hal ini bisa terjadi mengingat standard yang komprehensive dan menjamin adanya interoparbility biasanya dalam dokumen yang cukup tebal semacam standard 802.16d/e yang bisa mencapai 1000 halaman dan juga didukung dengan fasilitas IOT yang diakui dan didirikan untuk memastikan interoperability perangkat antar vendor. Sementara standarisasi perangkat yang dikeluarkan oleh Postel, umumnya mengatur hal-hal khusus terkait dengan adopsi standard terbuka yang diadopsi disesuaikan dengan ketentuan penggunaan frekuensi di Indonesia. Dengan pernyataan standard terbuka mana yang diambil, baru kemudian sertifikasi yang dikeluarkan oleh Postel, yang mengatur masalah-masalah khusus terkait penataan frekuensi, lebar kanal, tx power dan lainnya  akan memiliki pijakan dan makna yang berarti.

  1. Lebar Kanal

Pengkanalan pada standarisasi perangkat yang diatur adalah pengkanalan per sektor pada perangkat, tidak perlu mengatur pengkanalan alokasi frekuensi di band 3,3-3,5 GHz, karena pengkanalan alokasi frekuensi termasuk guard band diatur dalam ketetapan yang berbeda. Guard band antar kanal dan antar operator, diatur dalam penataan alokasi frekuensi pada band 3,3-3,5 GHz.
Dengan demikian, pengkanalan dalam draft standarisasi perangkat BWA 33, jika hanya dilihat sebagai pengkanalan perangkat, adalah 3,5 MHz dan 7 MHz, yang berarti mengambil standard pengkanalan 802.16d.  Ini berarti, jika memang disadari standard perangkat yang digunakan adalah standard wimax 802.16-2004 (802.16d) yang sudah diaddendum, akan lebih baik jika pengkanalan pada Wimax 802.16-2005 (802.16e) yang merupakan addendum dari 802.16d juga diakomodasi untuk kepentingan pemanfaatan frekuensi pada band 3,3-3,5 GHz yang lebih optimal.
Untuk itu diusulkan kanal perangkat yang distandardkan adalah 3,5 MHz, 5 MHz, 10 MHz dan 20 MHz. Pengkanalan 3,5 MHz untuk mengacu pada perangkat yang sekarang digunakan oleh operator BWA yang mengacu pada standard 802.16d.  Sementara pengkanalan perangkat 5, 10, dan 20 MHz untuk keperluan standard 802.16e untuk mengakomodasi perkembangan kedepan yang memerlukan interoperability dan sinkronisasi antar operator yang lebih fleksibel dan kebutuhan bandwidth yang lebar yang bisa dicapai dengan penataan frekuensi dan juga konsolidasi atau kerjasama antar operator di band 3,3-3,5 Ghz .

  1. Spurius Level

Ketentuan spurious level yang diijinkan akan sangat menentukan kebutuhan guard band antar operator dan guardband antar kanal agar operasi BWA berjalan optimal. Spurius level perangkat BWA 3335 antara kanal utama dan  kanal first adjacent kanal yang disyaratkan adalah lebih besar dari 30 dB. Hal ini untuk menjaga agar modulasi maksimum seperti 64 QAM dengan FEC 5/6 masih bisa bekerja dengan baik untuk BER 10-6 jika karena kondisi tertentu termasuk kebutuhan bandwidth yang lebih lebar, kosolidasi  dan kerjasama antar operator, guard band antar kanal dan antar operator ditiadakan.
Pengaturan default guardband ditentukan oleh Postel saat standard yang diakomodasi masih mempertimbangkan eksisting pre-Wimax maupun Wimax 802.16d, tetapi guardband ini bisa dihilangkan atas persetujuan operator to operator yang terkait.

  1. Center Frekuensi

Center Frekuensi bisa diatur increment 0,25 MHz dalam span antara 3,3 GHz – 3,5 GHz. Dengan increment ini pengkanalan lebar frekuensi dengan pengkanalan 3,5 GHz, maupun 5 MHz, 10 MHz dan 20 MHz bisa diakomodasi. Dengan increment ini pula, jika terjadi kosolidasi dan kerjasama antar operator untuk mengoptimalkan penggunaan frekuensi di band 3,3-3,5 GHz bisa dilakukan dengan lebih fleksibel.

  1. Sinkronisasi Clocking

Sinkroniasi clocking dengan GPS untuk memastikan operasi Wimax di band 3,3-3,5 GHz memiliki interferensi antar sektor, antar BTS dan antar operator yang minimum.

  1. Span Frekuensi :

Span frekuensi kerja selebar 200 MHz, antara 3,3 GHz – 3,5 GHz untuk mengakomodasi kebutuhan bandwidth yang lebar untuk layanan broadband akses.

  1. Option Mode bridging mode : IEEE 802.3d dan vlan 802.1p/q

Option mode bridging IEEE 802.3d dan vlan 802.1p/q pada standard 802.16e yang diadopsi merupakan solusi untuk kebutuhan corporate yang masih menganut konsep interkoneksi routing antar cabangnya.

  1. Tx Power :

Pengaturan Tx power dimungkinkan 20 Watt maksimum, seperti pada selluler agar kemampuan daya tembus memadai untuk tujuan indoor coverage dan kemudahan instalasi. Pengaturan power BWA saat ini di band 3,5 karena masih sharing adalah EIRP 36 dBm, kedepannya IERP harus bisa seperti sellular yang bisa sampai 60 dBm untuk mengkompensasi power disisi CPE yang lebih rendah. Jadi power BTS yang perlu diatur adalah maksimum bisa 1 Watt, 10 Watt, dan 20 Watt.

  1. Interface

Dengan lebar kanal seperti pada WiFi yang per kanal adalah 20 MHz dengan troughput 54 Mbps, maka  untuk Wimax  dengan lebar kanal 20 MHz, 3 sektor, bisa mencapai 405 Mbps. Untuk itu perlu ditambahkan opsi GE interface pada BTS untuk memenuhi bandwidth yang dibutuhak untuk broadband menjadi :

  1. 10/100/1000 BT optional
  2. 100 BT Mandatory
  1. Security : AES dan PKMV2

AES adalah security yang digunakan di Wimax 802.16d dan PKMv2 digunakan di  802.16e. Selain kedua standard tersebut, juga perlu diadopsi proprietary security system untuk kebutuhan khusus seperti Polri, dan pertahanan yang menggunakan band yang sama dengan publik di 3,3-3,5 GHz. Penggunaan band publik untuk kebutuhan Polri dan Pertahanan, akan membuat network mereka lebih robust dan adopsi proprietary security system bisa lebih menjamin keamanan sistem komunikasi mereka jika diinginkan.
Demikian masukan yang kami sampaikan, semoga bermanfaat sebagai salah satu sudut pandang menentukan standarisasi perangkat BWA 3335.

Salam,
-yohan-

Entry filed under: BWA. Tags: , , .

Indonesia Yang Lebih Baik Masukan untuk Standarisasi Perangkat BWA di 2,3-2,5 GHz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: