Indonesia Yang Lebih Baik

28 Juni 2008 at 2:12 pm 1 komentar

Makna menjadi ‘lebih baik’
‘Lebih baik’ sudah menjadi kata lumrah yang sering kita dengar,  yang karena biasanya,  alasan kenapa kita ingin lebih baik sudah seperti hembusan nafas tak terpikirkan. ‘Lebih baik’ laksana sebuah mantra diungkapkan untuk mencapai tujuan yang tiada pernah berakhir. Seperti putaran planet mengitari matahari dari waktu ke waktu. Bayi tumbuh dalam proses yang membahagiakan menuju masa tua. Beriring berirama indah, bermula, berakhir dan berawal kembali, menyatukan kekuatan dari generasi ke generasi. Keadaan manakah yang lebih baik.

Suatu keadaan lebih baik untuk suatu peruntukan, bukan karena semata-mata dia absolut lebih baik. Malam menyelimuti istirahat sebagian kaum, pelan tapi pasti akan mencapai ujung untuk kemudian tergantikan siang. Petani pergi ke sawah dan nelayan pulang membawa tangkapan. Anak-anak berlarian bermain riang, pertanda orang tua mengajarkan kebijakan. Siang pasti akan berakhir dan malam bermula kembali, tiada yang lebih baik secara absolut diantara keduanya. Menyebut malam, karena pernah ada siang. Menyebut siang karena pernah ada malam. Mana yang lebih baik, tidaklah sama semua kepala merasakannya, hanya saja semua keadaan perlu disikapi dengan lebih baik.

Saat masa kemaraulah saat terbaik untuk merasakan nikmatnya menyimpan air. Saat terbaik untuk munculnya alasan berpikir agar bisa terhindar dari kekeringan dimasa kemarau yang akan datang. Saat musim hujan datanglah kita bisa merasakan indahnya sudah mengatur irigasi dengan benar. Saat terbaik untuk munculnya alasan berpikir agar bisa terhindar dari banjir dimusim hujan yang akan datang. Bukan semata-mata kemarau atau hujanlah keadaan yang lebih baik, tetapi keadaan dimana kita mampu menciptakan solusi atas dua keadaan tersebut itulah hal yang lebih baik.

Adakah keadaan yang tidak lebih baik diperkenalkan oleh kehidupan agar kita menghargai keadaan lebih baik? Boleh jadi jawabannya adalah iya. Dengan cara apalagi, kita bisa benar-benar mengerti keadaan lebih baik tanpa ada keadaan yang lebih buruk. Seandainya saja Kehidupan tidak memperkenalkan keadaan lebih buruk, adakah kita bisa menghargai keadaan yang lebih baik.  Seandainya saja kehidupan tidak memperkenalkan keterbatasan, bagaimanakah caranya kita memahami keagungan. Saat dalam peperangan justru keinginan untuk damai semakin menggebu-gebu. Saat kita laparlah, kita akan lebih menghargai makna kenyang. Begitupun keberadaan suatu hal lebih buruk, membuat alasan perlunya keadaan yang lebih baik.

Mengapa ingin menjadi Indonesia yang lebih baik?
Apakah kita benar-benar ingin Indonesia yang lebih baik?  Seandainyapun kita sekarang tidak puas dengan kehidupan di Indonesia, akankah kita ingin hidup pada masa keemasan Roma memerintah sebagian besar negeri yang dikenal jamannya? Mungkin jawabannya lebih memilih Indonesia hari ini. Karena jika kita tidak beruntung dimasa keemasan Romawi, tetangga atau sanak saudara kita bisa menjadi budak atau diadu dengan binatang buas untuk kemudian menjadi mangsa, tak dihargai sebagai manusia pada tataran rakyat jelata sekalipun.

Kalau begitu kenapa kita ingin Indonesia yang lebih baik? Karena saat ini kita tahu ada tempat yang lebih baik dari Indonesia, karena bangsa di negara-negara maju memiliki ‘martabat’ lebih tinggi dibanding Indonesia. ‘Martabat’ yang untuk mengejarnya saja, menjadikan hutan kita gundul, tetapi hanya cukup untuk memberikan ‘martabat’ bagi segelintir elit cukong pembabat hutan. Karena kita hidup dimasa yang sama dengan negara yang paling maju sekalipun, dan untuk menjadi ‘bermartabat’ Indonesia memiliki sumber daya yang cukup, setidaknya untuk mendukung kebutuhan energi makanan 100 watt yang diperlukan oleh segenap warga negara.

Hari ini Indonesia baik bagi siapa? Indonesia belum merupakan tempat yang baik bagi sebagian besar karyawan, bagi sebagian besar mahasiswa yang baru lulus, bagi sebagian besar petani, bagi sebagian besar nelayan, bagi buruh, bagi sebagian besar guru, bagi sebagian murid, atau anak jalanan yang terpaksa mengais recehan. Indonesia tempat yang baik bagi segelintir cukong, bagi elit partai, bagi segelintir petinggi pemerintahan, bagi segelintir pengurus BUMN, bagi segelintir orang di departemen atau perusahaan.

Indonesia tempat yang nyaman bagi cukong pembabat hutan, tapi bagi cukong yang waras, dalam jangka panjang keadaan ini  bukanlah hal yang menyenangkan. Karena cukong juga manusia yang ingin melihat orang yang dibayar untuk membabat hutan tidak mati karena banjir bandang. Indonesia tempat yang menenteramkan bagi segelintir orang yang bisa memasukkan sanak keluarganya menjadi pegawai negeri dengan ber-Nepotisme-ria. Tapi apakah nyaman bergaya mengendarai mobil melewati kemacetan, atau melihat teman, saudara dan orang lain menderita. Merasakan uang pensiunan semakin menipis nilainya. Merasakan berbagai penyakit menggerogoti, tetapi harus pergi berobat ketempat yang jauh, dan terasa mahal karena gaji dan tunjangan yang diperoleh semasa berkuasa semakin tipis nilainya.

Indonesia tempat yang nyaman bagi segelintir pejabat. Tapi apakah nyaman membunyikan mobil sirine tanda VIP sementara rakyatnya terjebak kemacetan. Dan apakah nyaman menyaksikan harga BBM naik, listrik sering mati, sementara anak-cucu kita yang baru sekolah menanyakan apa peran kita atas semua yang menimpa ini.

Mungkin Indonesia tempat yang nyaman bagi segelintir orang yang ingin meraih martabat secepatnya dengan ‘korupsi’. Tetapi ‘korupsi’  bukanlah kegiatan yang akan membawa pada martabat dalam jangka panjang. Infrastruktur yang dibangun tidak berfungsi semestinya. Sungguh mereka ‘terpaksa’ melakukannya, karena jika tidak bagaimana pendukungnya akan mengebulkan asap dapur mereka.

Mungkin Indonesia tempat yang nyaman bagi segelintir guru atau dosen yang pandai. Tetapi apakah nyaman hidup mengejar project sementara kita berkewajiban mencerdaskan anak didik kita. Begitu juga Mungkin Indonesia bukan tempat yang lebih baik bagi sopir taxi, karena sekeras apapun mereka berusaha, mereka hanya bisa melongo menyaksikan rekan-rekan mereka sesame sopir taxi dari negara maju seperti Singapore naik taxi berkeliling Bali bersantai ria menyaksikan keindahan panorama.

Keadaan lebih baik yang bagimananakah yang diinginkan?
Tentu keadaan yang lebih baik bukan hanya untuk segelintir orang yang hidup di Indonesia. Keadaan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan diharapkan juga akan lebih baik bagi segenap individu keluarga besar bangsa Indonesia. Indonesia yang lebih baik :

  1. Setiap warga negara setidaknya memiliki akses atas infrastruktur untuk menopang kehidupan mereka secara layak atas kebutuhan : makanan, pakaian, rumah, pendidikan, kesehatan, energi dan informasi.
  2. Indonesia yang bisa memanfaatkan secara adil sumber kehidupan bumi bersama warga dunia lainnya.
  3. Indonesia yang lebih baik untuk anak cucu kita dan dunia keseluruhan.

Hari ini kita bisa berharap mimpi ini tercapai, jika semakin banyak yang berharap, mimpi ini bukanlah sekedar angan-angan yang tak mungkin tergapai.

Salam,
-yohan-

Entry filed under: General. Tags: , .

Keberagaman kita, SARA, dan Arah Pendekatannya Masukan untuk Standarisasi Perangkat BWA di 3,3-3,5 GHz

1 Komentar Add your own

  • 1. cahya  |  29 Juni 2008 pukul 2:01 pm

    Yohan :
    Ca’ Cahya yang disiplin,
    Jika kita menganggap keaadaan tersebut adalah suatu problem, maka root of the root pada tataran hakiki adalah Kehidupan itu sendiri, adalah Tuhan itu sendiri. Karena pada tataran tertinggi, tidak ada hal yang lahir dan berakhir tanpa sebab Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.

    Tetapi, jika segala analisa kita didasarkan atas root of the root pada tataran tertinggi, menjadi tidak menarik segala analisa dinamis atas segala kejadian dinamis yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan, dan kita persepsikan. Maka bertolak dari situ, root couse atas problem tersebut saya lebih memilih adalah pola pikir atau mind set dari segenap warga negara Indonesia.

    Cahya :
    Rojoku iki memang konsisten dengan cita2-nya. Semoga tercapai mimpi itu.

    Yohan, kalau kita anggap kondisi Indonesia yang lebih baik itu sebagai problem yang parah. Dalam bahasa problem solving, apa kira2 root cause nya?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: