Keberagaman kita, SARA, dan Arah Pendekatannya

15 Juni 2008 at 4:55 am 1 komentar

Rev. 1.0, 15 Juni 2008, oleh Yohan Suryanto
Unsur SARA :
Indonesia memiliki keragaman SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan), yang karena beragamnya tidak salah jika sebagian kita mengklaim sebagai negara dengan keberagaman paling banyak setidaknya di kawasan Asia Tenggara. Bagaimanapun SARA adalah komponen penyusun kebhinnekaan Indonesia yang harus kita pahami. Memahami untuk melihat sejauh mana komponen ini akan memperkuat pondasi menuju Indonesia yang makmur gemah ripah loh jinawi. Memahami untuk melihat sejauh mana unsur-unsur SARA Indonesia bisa membentuk harmoni dalam kancah Internasional.

Bangsa Indonesia terdiri dari sekitar 700 suku, yang tersebar dari sabang sampai merauke. Setiap suku baik besar dan kecil memiliki budaya yang khas yang diajarkan turun temurun yang bahkan dengan berbagai macam bahasa dan dialektika yang berbeda. Kita memiliki 6 agama yang diakui resmi dan berbagai macam keyakinan. Kita juga terdiri dari dua ras utama yaitu ras sinida dari rumpun mongoloid dan ras melanesia dari rumpun bangsa australoid. Banyak golongan dan kelompok kepentingan yang juga tumbuh subur di negara yang penuh keberagaman ini. Golongan kiri, golongan kanan, partai-partai, golongan gender dan segala macam kepentingan dan kelompok lainnya. Yang bisa jadi muncul juga golongan kaya, golongan miskin, golongan petani, golongan nelayan, golongan pangreh praja, golongan motor, golongan mobil, dan golongan suka-suka lainnya yang ingin digolong-golongkan.

Konflik yang melibatkan SARA dipandang merupakan konflik yang pelik. Seperti konflik yang melibatkan suku pernah terjadi dalam skala yang luas semisal kerusuhan etnis yang terjadi di Kalimantan dan saat kerusuhan Mei 1998. Konflik yang melibatkan unsur Agama juga memiliki dampak yang luas dan menyimpan bahaya laten, seperti kejadian di Poso dan Ambon. Semakin besar perbedaan SARA antar kelompok orang, semakin dalam potensi konflik yang bisa terjadi, yang pada gilirannya bisa memicu disintegrasi bangsa Indonesia. Dengan tambahan perbedaan  seperti unsur ras yang terjadi antara saudara-saudara kita di Papua dan pendatang, yang jika tidak ditangani serius bisa membawa disintegrasi ikatan kita sebagai bangsa.

SARA dalam perjalanannya menjadi hal yang sensitive untuk diungkapkan karena keberagamannya, diasosiasikan dalam makna yang ingin dihindari yang melekat dalam makna katanya. Padahal keberagaman adalah hal yang lumrah dan hal yang sangat alami. SARA hanyalah usaha untuk mengkotak-kotakkan dalam kerangka persepsi kita agar kita lebih mudah mengerti bagaimana memperlakukan orang lain dengan lebih baik dengan mengenal unsur SARA-nya.

Bhinneka Tunggal Ika :

Beberapa abad yang lampau, nenek moyang kita sudah menyadari pentingnya payung yang mengakomodasi keberagaman tersebut. Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap saju juga, tidak ada kebenaran yang lain. Kalimat ini diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular yang ditulis semasa kejayaan Majapahit sekitar abad ke-14. Kalimat ini sebenarnya merupakan kalimat yang sangat religius, yang memayungi keberagaman pemahaman yang berkaitan dengan keyakinan bahwa dalam keragaman kehidupan ini, Dia Yang Esalah sumber kebenaran, tidak ada kebenaran yang lainnya.

Bagian dari kalimat tersebut, Bhinneka Tunggal Ika, mengalami transformasi makna dan merupakan tulisan dalam lambang negara Indonesia, yang diejawantahkan dalam Pancasila terutama dalam sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila ketiga Persatuan Indonesia. Pendiri bangsa Indonesia ingin memberikan landasan pada keberagaman kehidupan beragama dan berkeyakinan di negara Indonesia. Dalam keragaman pula, makna Persatuan kemudian memiliki pijakan untuk hadir dan berakar. Bhinneka Tunggal Ika dimaknai sebagai landasan bagi cita-cita untuk membentuk bangsa Indonesia dengan keragaman manusia penghuninya.

Keberagaman kita :

Kebhinnekaan atau keberagaman yang kita bahas disini adalah keberagaman kita sebagai manusia sebagai bangsa. Bukan keberagaman dari jenis flora dan fauna yang kita miliki, bukan dari keberagaman pulau-pulau yang kita miliki, tetapi keberagaman kita sebagai manusia dengan segala paham, pandangan, dan persepsi yang kita miliki. Karena dalam diri kita sebagai manusia, sebagai bangsalah, keberagaman memiliki arti untuk lebih dimengerti.

Keberagaman, perbedaan dibalik kesamaan, kita sebagai manusia memang alamaih terjadi. Perbedaan kita secara individu sudah dituliskan bahkan dalam DNA kita. Mungkin kita mirip, tapi tidak ada diantara kita yang benar-benar sama. Karenanya kita sebagai manusia adalah unik satu sama lain. Mulai ciri-ciri DNA, ciri-ciri kornea, sidik jari tangan, pengalaman, pemahaman, persepsi dalam perjalanan waktu, semuanya membentuk gambaran yang unik. Singkatnya tidak akan pernah ada Ibrahim kedua, singkatnya tidak ada Sang Sidartha Budha Gauthama kedua, singkatnya tidak akan pernah ada Anda-anda yang kedua.

Memahami keberagaman, bukan untuk mencela, memahami keberagaman sebagai sesuatu yang alamaiah agar kita lebih mengerti konteks kita dalam keberagaman. Seperti halnya dalam masalah umur manusia. Umur membawa pada ciri-ciri fisik, termasuk kemampuan manusia tiap jenjang umur juga berbeda-beda. Saat manusia berada dalam masa bayi memiliki karakter umum sebagai bayi dan tentu saja perlu penanganan tertentu yang disesuaikan, umur sekolah memiliki karakter dan penanganan tertentu juga, umur kerja dan masa tua juga demikian. Bukan mencari umur mana yang terbaik absolut bagi kita, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita mengetahui perbedaan-perbedaan ini untuk lebih menghargai setiap jenjang umur. Masing-masing memiliki peran dalam masa dan tahapannya. Masing-masing akan menjalin membentuk harmoni dalam kehidupan kita dan yang lebih penting memberi makna pada kita sebagai manusia.

Karena keberagaman adalah sesuatu yang alamiah, sesuatu yang musti dan memang harus terjadi karena sebenarnya dalam kehidupan manusia tidak ada kesamaan tanpa perbedaan-perbedaan. Karena masing-masing kita adalah unik dalam kontek perjalanan kita sebagai manusia. Karenanya pemahaman SARA di Indonesia hanyalah usaha pengelompokan atas kumpulan individu-individu unik sebanyak jumlah penduduk Indonesia bukan untuk mempertanyakan perbedaan, tetapi untuk lebih mempermudah menghargai orang lain.

Keberagaman kita yang tergambar dalam SARA mestinya menjadi kekuatan, dan harus kita mengerti. Tanpa ini, keberagaman adalah sesuatu yang mudah dimainkan oleh pihak asing atau pihak-pihak tertentu yang mungkin mengambil manfaat dari keberagaman kita.
Arah Pendekatan

Pemahaman kita bisa berkembang dari waktu ke waktu, pemahaman saat kita masih kanak-kanak tentu berbeda dengan pemahaman saat kita sudah sekolah, begitu juga dengan pemahaman saat kita menjelang ajal. Pemahaman dalam kontek keberagaman haruslah dilihat juga dalam kerangka waktu. Salah satu arah pendekatan yang sebaiknya kita ambil adalah menyuarakan keterbukaan, karena pemahaman kita tidak bisa dikunggung dalam ruang dan waktu tertentu. Potret kita dinamis, bisa berkembang dari waktu-kewaktu.

Potret yang dinamis atas tiap insan yang juga tiap unsur SARA, membuat kita perlu tetap membuka pikiran kita atas kotak-kotak yang sudah terlanjur diadakan yang sebenarnya untuk lebih mempermudah kita memahami orang lain. Ya identitas SARA akan mempermudah kita mengerti si-Fulan pada awalnya, tetapi untuk lebih mengerti si-Fulan kita perlu tetap terbuka tanpa terpasung kaku pada pemahaman kita atas unsur-unsur SARA yang melekat pada si-Fulan. Karena pemahaman yang kaku ini, hanya cocok pada orang yang sudah lewat masa hidupnya, atau pada orang yang tinggal sejarah dan kenangan saja.

Perbedaan dalam kesamaan kita sebagai individu adalah sesuatu yang tidak perlu dipungkiri, perbedaan kita dalam unsur SARA juga memang demikianlah adanya. Tetapi perbedaan mana yang kita persepsikan itu juga yang penting.  Persepsi seperti dalam marketing, hanya bisa sampai dengan cara disampaikan. Tidak dengan cara dikubur dan dipendam dan membiarkan orang lain menggali dan menduga-duga. Ini adalah pendekatan kedua, memfasilitasi pengungkapan perbedaan-perbedaan unsur SARA oleh masing-masing orang agar kita lebih mengenali bagaimana bisa memperlakukan masing-masing orang dengan lebih baik dalam konteks kebangsaan Indonesia.

Pendekatan yang ketiga, karena seluruh aturan yang kita buat menyangkut tata kehidupan yang lebih baik dalam konteks kebangsaan Indonesia baik dimasa sekarang maupun dimasa-masa yang akan datang, sangatlah baralasan jika hukum negara Indonesia diletakkan sebagai hukum tertinggi yang menjadi acuan atas kehidupan setiap individu termasuk unsur SARAnya. Kekerasan atas nama apapun termasuk kekerasan dalam keluarga, yang dulu bisa dijadikan alasan sebagai ruang private keluarga, tidak bisa dibiarkan. Kekerasan untuk membela nilai-nilai keluarga tidak bisa dibenarkan jika melanggar hukum negara Indonesia. Pun demikian dengan kekerasan atas nama SARA, tetap harus diproses melalui hukum yang berlaku di negara kita. Untuk itu perlu juga adanya jalan keluar secara hukum atas kasus-kasus yang melibatkan SARA, seperti adanya pintu keluar atas pendirian golongan atau partai baru jika jika terjadi konflik internal dalam unsur SARA tertentu, atau seperti adanya pintu keluar atas kasus perceraian yang terjadi dalam keluarga.

Salam,
-yohan-

Entry filed under: General. Tags: , , .

Mendiskusikan SARA Indonesia Yang Lebih Baik

1 Komentar Add your own

  • 1. Natal Hutabarat  |  15 Juni 2008 pukul 8:29 am

    Terima kasih Pak Yohan S atas tulisannya yang sangat bagus, dan memang kita harus meyakini bahwa keragaman SARA merupakan anugrah dari Tuhan Allah, semua perbedaan itu adalah untuk kita jadikan menjadi dasar untuk bersyukur. Bukan menjadi dasar untuk saling menghakimi atau membenci orang lain…

    Salam hormat.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: