Kekayaan Alam untuk Kemakmuran Indonesia

18 Mei 2008 at 8:16 am 3 komentar

Oleh       : Yohan Suryanto Ref         : 1.0

Dalam mailing list alumni ITB tanggal 6 Mei 2008, kami mengajukan sebuah teka-teki sederhana yang cukup menarik mengenai bagaimana kita seharusnya menjual kekayaan alam Indonesia untuk lebih bisa mendukung kemakmuran bangsa Indonesia. Teka-teki ala loedroek mengenai revenue sharing hasil jual kekayaan alam Indonesia yang mungkin saking besarnya tidak kelihatan, ibarat “gajah dipelupuk mata tak tampak, kuman diseberang lautan nampak”.

Teka-tekinya adalah:

  1. Berapakah kira-kira revenue sharing NKRI jika menjual Gas Alam dengan nilai Rp 100 Trilyun menggunakan USD?
  2. Berapakah kira-kira revenue sharing NKRI jika menjual Gas Alam dengan nilai Rp 100 Trilyun menggunakan Rupiah?

Mungkin jawabannya tidak menggambarkan keadaan atau kejadian sebenarnya, tetapi ini adalah suatu simulasi yang bisa menyederhanakan dibalik kerumitan transaksi perdagangan internasional yang menjadi salah satu penyebab rupiah tidak kunjung meraih nilainya. Simulasi ini tidak dimaksudkan untuk mendiskritkan USD, atau usaha untuk mempercepat penurunan nilai USD, karena penurunan nilai USD dimasa-masa yang akan datang adalah suatu keniscayaan (dengan atau tanpa kambing hitam seperti subprime mortgage) dan yang akan berlangsung sampai tercapai equilibrium baru yang mungkin tidak dibayangkan sebelumnya. USD diambil sebagai contoh karena ini adalah mata uang yang kita gunakan untuk perdagangan luar negeri kita, termasuk untuk menjual barang-barang yang sangat-sangat dibutuhkan oleh Negara lain untuk mencapai kemakmurannya.

Kasus pertama :

Mari kita bayangkan seandainya dalam jangka waktu tertentu kita menjual Gas Alam dengan akumulasi nilai sebesar Rp 100 Trilyun pada kurs Rp 9.200 = 1 USD, menggunakan USD. Yang terjadi dibalik semua kerumitan jual beli, adalah kaidah hukum kekekalan energi dan uang adalah alat yang mewakili energi ini. Dan pelajaran dasar dalam permintaan pasar adalah pasar berada diposisi mana, lebih cenderung ke posisi jual atau lebih cenderung keposisi beli.

Pada saat Gas Alam dengan akumulasi nilai Rp 100 Trilyun dilahirkan dari rahim Ibu Pertiwi, maka bersamaan dengan itu negara-negara yang membutuhkan resource yang terbatas ini, dengan segala usaha kerasnya telah menyebabkan suatu kondisi yang akan menyebabkan lahirnya USD 10,87 Milyar dari mesin cetak uang The FED untuk menjaga equilibrium 1 USD = Rp 9.200,-. Ini adalah proses kelahiran normal yang elegan, karena Gas ALAM  sejumlah X (dengan nilai yang belum diuangkan setara dengan Rp 100 Trilyun) perlu kelahiran uang yang mewakilinya. Kejadian ini tidak perduli dari Negara mana yang membeli Gas Alam tersebut dengan USD. Sederhananya, seandainya yang membeli adalah Negara Amerika Sendiri, maka proses kelahiran Energi dengan nilai Rp 100 Trilyun, bisa serta-merta secara legal diattach ke USD yang menyebabkan USD 10,87 Milyar yang mewakili Energi ini, hal ini bisa jadi karena pemerintah teramat sangat menginginkan USD 10,87 Milyar ini dibanding Gas Alam tersebut, meskipun sudah punya cadangan 58 Milyar USD misalnya.

Jadi sebelum transaksi jual beli Gas Alam, telah dilahirkan USD 10,87 Milyar dari mesin cetak uang The FED. Dan saat transaksi jual beli, kita mendapatkan USD 10,87 Milyar yang dicetak tersebut, dan Amerika atau Negara yang membeli akan mendapatkan Gas Alam dengan nilai diawang-awang sebesar Rp 100 Trilyun. Amerika mencetak duit USD 10,87 Milyar dan tetap menjaga equilibrium Rp 9.200,- = 1 USD, Negara pembeli mendapat Gas Alam sebesar X, Kita mendapatkan USD 10,87 Milyar dari Negara pembeli.

Jika yang membeli adalah Amerika : Dari tidak ada apa-apa, kemudian kita mendapatkan 10,87 Milyar USD dan Amerika dari tidak ada apa-apa mendapatkan Gas Alam dengan nilai yang setara. Jika yang membeli Cina : Dari tidak ada apa-apa, kemudian kita mendapatkan 10,87 Milyar USD, Amerika mendaptkan Yuan dengan nilai yang setara dengan 10,87 Milyar USD, dan Cina mendapatkan Gas Alam sebesar X.

Terlepas dari siapa yang membeli, termasuk Cina atau Jepang, yang terjadi istilahnya kita mendapat 100%, dan Amrik mendapat 100%.

Kasus Kedua :

Mari kita bayangkan seandainya dalam jangka waktu tertentu kita menjual Gas Alam dengan akumulasi nilai sebesar Rp 100 Trilyun pada kurs Rp 9.200 = 1 USD, munggunakan Rupiah. Yang terjadi dibalik semua kerumitan jual beli, adalah kaidah hukum kekekalan energi dan uang adalah alat yang mewakili energi ini. Dan pelajaran dasar dalam permintaan pasar adalah posisi pasar berada diposisi mana, lebih cenderung ke posisi jual atau lebih cenderung keposisi beli.

Dengan kelahiran Gas Alam dari bumi pertiwi tersebut, sebelum transaksi penjualan Gas Alam yang terjadi adalah, ada permintaan pembelian rupiah menggunakan USD dengan akumulasi total Rp 100 Trilyun. Jika pengurus BI bermaksud mempertahankan 1 USD = Rp 9.200,- maka mereka punya hak legal dan elegan untuk mencetak mata uang rupiah sebesar Rp 100 Trilyun. Atau bisa juga membiarkan rupiah menguat, yang berarti juga uang rupiah yang beredar nilainya meningkat. Menjual rupiah ini kenegara yang membutuhkan rupiah, dan sebagai gantinya kita mendaptkan 10,87 Milyar USD bahkan sebelum transaksi jual beli Gas Alam terjadi.

Jadi ketika Negara yang membutuhan Gas Alam mendapatkannya, seperti jual-beli biasa, kita pun mendapatkan Rp 100 Trilyun tanpa menyebabkan perubahan nilai tukar 1 USD = Rp 9.200,-. Jadi untuk kasus ini kita mendapatkan Rp 100 Trilyun + 10,87 Milyar USD. Istilahnya 200%.

Lanjutan kasus kedua :

Seandainya kita menjual Gas Alam dengan akumulasi senilai Rp 100 Trilyun, dengan USD, yang terjadi Energi/Nilai ini sudah menjadi backup untuk kelahiran alat yang disebut uang USD oleh The FED sebesar 10,87 Milyar tanpa menyebabkan perubahan kurs. Kita mendapat USD 10,87 Milyar, Negara pembeli dapat Gas, Amrik dapat Yuan/Yen/yang lainnya.

Dan seandainya kita menjual Gas Alam tersebut dengan Rupiah, yang terjadi adalah Enerti/Nilai ini sudah menjadi backup untuk kelahiran alat yang disebut uang Rupiah oleh BI sebesar Rp 100 Trilyun, tanpa menyebabkan perubahan kurs. Kita mendapatkan USD 10,87 Milyar atau Yuan/Yen yang setara, Negara pembeli dapat GAS, dan Uang Rp 100 Trilyun balik lagi ke kita.

Itu baru Jika jual gas Alam sebesar Rp 100 trilyun, kalau jual Batu Bara dan Kayu yang akumulasinya senilai Rp 1.000 Trilyun, yang memang saking besarnya ini bisa tidak kelihatan. Ya memang Gajah kalau terlalu dekat dikelopak mata nggak bakalan kelihatan . Rp 100 Trilyun Gas Alam ini hanya contoh. Apa yang kita punya memang luar biasa, segala Tanah dan Perairan dengan kandungan kekayaan alam Gas, Batubara. Yang bahkan jika terisolasi, 220 juta warganya tidak akan kelaparan seperti di Afrika.

Intinya dalam bagaimana kita menjual adalah : Ada permintaan yang luar biasa atas kekayaan alam yang dimiliki oleh NKRI, ini membawa kita pada posisi memberi penawaran. Contoh Tadi, Karena kita memiliki Gas Alam dengan nilai Rp 100 Trilyun, maka kita jual dalam rupiah. Dengan demikian ada permintaan akan rupiah, permintaan ini dari Negara yang sangat membutuhkan Gas Alam.

Mereka bisa membeli rupiah dengan USD atau mata uang Negara yang bersangkutan. Dengan demikian kita tidak perlu membeli USD, tetapi USD datang kekita karena Ada Negara atau spekulan yang perlu Rupiah. Ini adalah kuncinya. Dan saat Negara yang butuh GAS tersebut membeli dengan rupiah, kita akan punya tetap Rp 100 Trilyun ditambah USD 10,87 Milyar (atau mata uang Negara yang membutuhkan). Tetapi dengan satu catatan, posisi uang rupiah menguat dengan penjelasan dalam email sebelumnya.

Seandainya kita tidak mencetak uang, dan membiarkan rupiah menguat? Seberapa kuatkan dengan transaksi Rp 100 Trilyun tersebut? Jika transaksi terjadi dalam 1 tahun, kemungkinan ada permintaan sebesar Rp 8,33 Trilyun per bulan. Dengan demikian kemungkinan besar Rupiah akan menguat sebesar 8,33/138 Trilyun = kira-kira penguatan sebesar  6 % jika tidak terjadi sentiment-sentimenan dalam transaksi bursa mata uang (kalau ada sentiment-sentimenan ya pengutannya lebih dari itu). Dalam waktu satu tahun, kira-kira rupiahpun akan menguat menjadi 1 USD = Rp 4.552,-.  Ini belum lagi jika ditambah dengan pelemahan dolar karena energi/pengguna yang diwakilinya berkurang.

Inilah salah satu stragegi yang akan membuat 1 Rp = 1 USD bukan mimpi disiang bolong, ini adalah sesuatu yang bisa kita capai, jauh lebih cepat dari hanya menggunakan 1 strategi biasa: tanpa cetak uang. Jadi Strategi kita adalah :

  1. jual kekayaan alam kita dengan rupiah
  2. tidak mencetak uang lagi, yang membuat angka nol rupiah dipapan nilai tukar terlalu banyak.

Ide Sederhana

Ide ini memang kelihatan sederhana. Karena ide dasar ini memang harus sederhana, dan memang demikian adanya. Seperti halnya ide yang mengatakan bahwa Energi adalah Massa itu sendiri, yang dikaitkan dengan persamaan Einstein E=mC2. Sangat sederhana, meskipun proses pembuatan reaktor nuklir yang menggunaan prinsip-prinsip ini memang jauh lebih rumit dari penulisan sederhana tersebut. Tetapi prinsipnya mesti sederhana. Menurut saya teori yang sederhana tersebut bukanlah problem karena tidak merepresentasikan masalah rumit dalam perdagangan internasional dengan USD-nya. Tetapi kesederhanaan ini adalah suatu keunggulan, yang menggambarkan bagaimana suatu nilai uang perlu backup untuk kelahirannya.

Jika tidak hanya terjadi inflasi saja, karena tidak mewakili pengguna/energi/nilai yang bertambah. Proses kelahiran mata-uang seperti ini adalah normal setelah tahun 1970-an. Dulu saat mata uang dibackup oleh Emas, Amrik mesti mencari emas sampai kepelosok negeri agar bisa mencetak Dollar yang diminati oleh Negara-negara lain setelah Perang Dunai ke-dua.

Dalam gambaran tersebut, proses kelahiran mata-uang tetap perlu backup. Backup ini berupa pengguna yang semakin banyak, atau energi/nilai yang lahir atau diwakili oleh kelahiran mata-uang ini. Sejalan dengan hal tersebut, kalau ada proses kelahiran Gas Alam (senilai Rp 100 Trilyun) dari Bumi Pertiwi yang tadinya tidak ada, dan kita jual dalam USD, maka yang terjadi adalah kelahiran USD oleh the FED bisa dilakukan tanpa merubah kurs. Amrik bisa mencetak USD 10,87 Milyar, dan kita menjual Gas dengan nilai Rp 100 T dengan tukaran USD 10,87 Milyar.

Sebaliknya, jika kita menjualnya dalam rupiah, yang terjadi adalah permintaan akan rupiah akan naik. Gas Alam yang lahir dari tidak ada menjadi ada ini, ibarat raksasa industri yang menghasilkan barang/produk yang semula bernilai X kemudian dijual sebesar Y (dengan selisih Y-X = Rp 100 Trilyun (kenyataannya dikurangi biaya produksi dll). Jumlah permintaan akan rupiah ini dalam kondisi yang disederhanakan tersebut akan setara dengan Rp 100 Trilyun. Inilah yang bisa menyebabkan BI bisa mencetak uang sebesar Rp 100 Trilyun tanpa mengubah nilai tukar semula, atau membiarkan rupiah menguat setidaknya kira-kira sebesar Rp 100T/Uang beredar (jika tanpa sentimen positif pasar).

Waktu Peningkatan Nilai

Dalam kesempatan diskusi dengan Ibnu, salah satu rekan alumni, saya sampaikan  bahwa  ini adalah salah satu view yang bisa menjadi acuan kita kedepan. Mengenai konsep Energi atau pengguna yang mewakili nilai dari mata uang. Konsep menjadikan 1 Rp = 1 USD, bukanlah perkara heroik atau bukan. Hal ini memang perlu dipikirkan matang-matang.

Dalam tulisan sebelumnya, dalam kondisi normal ini akan memakan waktu sekitar 86 tahun. Dalam kondisi yang dibangun secara sungguh-sungguh dengan memperhatikan segala aspek, plus minusnya, bisa lebih cepat dari itu. Mungkin 20-30 tahun kedepan. Pengutan 1 Rp = 1 USD ini mungkin bisa dimulai dengan penyesuaian uang seperti kasus di Turki seperti yang disampaikan oleh rekan Ibnu, tetapi intinya adalah bagaimana membuat jumlah uang yang beredar sekarang memiliki nilai yang meningkat sehingga setara dengan 1 Rp = 1 USD, bukan pemotongan nilai uang beredar sekarang dibagi kurs Rp 9200 sehingga nilainya akan menurun 9200 kali untuk mendapatkan 1 Rp = 1 USD.

Konsep kita sebagai ‘kumpulan transistor’ atau ‘kumpulan rayap’ atau ‘kumpulan sel otak’ akan membentuk sesuatu yang membuat bangsa kita lebih cerdas sebagai bangsa. Kita boleh sangat pandai sebagai individu, tetapi tanpa konsep ‘kumpulan transistor atau sel otak’, kepandaian ini tidak akan membawa pada apa yang disebut sebagai kecerdasan sebagai bangsa.

Salam,

-yohan S-

Entry filed under: Kekayaan Alam. Tags: , , , .

Krisis Energi Sektor BBM dan Langkah-langkah Penyelesaiannya Masukan untuk Penataan Frekuensi BWA II (3,3 GHz – 3,5 GHz)

3 Komentar Add your own

  • 1. rachmadm  |  15 Juni 2008 pukul 6:23 am

    Sebagai negara yang berdaulat, serta memiliki Bank Sentral sendiri seharusnyalah pemegang amanah kekuasaan berpikir ke arah ini.

    Sayangnya dalam benak anak bangsa ini, sudah terlanjur terbangun paradigma bahwa melemahnya rupiah merupakan kesempatan untuk menjual produk dengan harga lebih murah dari negara lain. Padahal devisa yang diperoleh sama saja.

    Penguatan rupiah merupakan jalan menuju kesejahteraan nasional, mengingat dalam era globalisasi ini, bangsda Indonesia justru banyak mengandalkan SDA yang merupakan kekayaan Bangsa dan selayaknyalah dinikmati oleh seluruh anak bangsa.

    Balas
  • 2. cahya  |  6 Juli 2008 pukul 1:28 am

    beautiful mind.

    Balas
  • 3. hamdani  |  5 April 2009 pukul 11:39 pm

    saran saya:silahkan anda masuk ke partai PKS,dan dengan kejeniusan anda ini silahkan anda gantikan Mentri ESDM Purnomo Yusgiantoro,demi bangsa INDONESIA

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: