Krisis Energi Sektor BBM dan Langkah-langkah Penyelesaiannya

4 Mei 2008 at 10:13 am 1 komentar

Oleh Yohan Suryanto, ver 1.1

Jika dicermati berdasarkan data ‘Sabtu Santai: Simulasi Investasi Saham’ oleh JD dalam mailing list IA-ITB, antara tanggal 23 Februari 2008 sampai 29 Maret 2008, kisaran harga minyak mentah dunia antara $100 sampai $115 per barel. Pada kondisi tersebut, berdasarkan data situs BI per 3 April 2008 yang disarikan oleh Detik Finance, justru cadangan devisa Indonesia meningkat dari $ 57,125 Milyar menjadi $ 58,980 Milyar.  Artinya dengan kondisi harga minyak yang mencapai kisaran tersebut, secara net cadangan devisa Indonesia dalam mata uang USD justru meningkat. Ini merupakan sinyal yang cukup menggembirakan dan menjadi batu pijakan pada kita untuk mengambil langkah jangka pendek (1-2 tahun kedepan) yang tepat untuk menyikapi kondisi harga minyak mentah yang mencapai kisaran antara $100-$120 USD dewasa ini.

Realitas ini memberikan tuntunan yang lebih konkrit pada kita bahwa kenaikan Minyak mentah sampai level $ 5- $ 25 lebih tinggi dari rencana APBN ( $ 95) masih bisa diakomodasi oleh cadangan devisa NKRI yang mungkin didapat dari sumber lain termasuk dari minyak, gas, batubara dan lain-lain. Meskipun tidak terkait langsung, ini menjadi pertanda bahwa kebutuhan konsumsi BBM (Bensin, Solar dan Kerosin) dalam negeri dengan kebijakan yang tepat tidak akan memakan devisa. Ini merupakan indikasi yang kuat bahwa produksi minyak mentah Indonesia yang mencapai 1 juta barrel perhari bisa mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri dengan pertumbuhannya dalam 1-2 tahun mendatang.

Dewasa ini, di Indonesia terdapat sekitar 17 juta kendaraan (tercatat di Polri) dengan prediksi konsumsi BBM 42 juta kiloliter. Tetapi menurut Gaikindo, kendaraan yang ada di Jalan sekitar 7,5 juta saja dengan konsumsi 18 juta kilo liter. Untuk mendapatkan angka kebutuhan kendaraan yang pas, kita perlu mengetahui pertumbuhan konsumsi tiap tahun, dan konsumsi minyak pada tahun tertentu yang menjadi acuan. Konsumsi BBM berdasarkan data statistik yang ditulis oleh Hanan tentang “Apakah persoalannya pada subsidi BBM?” pada tahun 2003 mencapai 54,23 juta kiloliter. Dan berdasarkan “Enery Resource and Policy” oleh Nenny Sri Utami, yang menyebutkan porsi konsumsi sektor transportasi sekitar 51%, ini berarti total konsumsi sektor transportasi tahun 2003 kira-kira sebesar 27,66 juta kiloliter. Dengan kenaikan jumlah kendaraan yang mencapai 430 ribu pertahun, atau kenaikan 2,5% dan Motor yang mencapai 4,6 juta atau 13%, dengan konsumsi bahan bakar 8,22 liter per hari untuk kendaraan dan 1 liter per hari untuk motor, maka kenaikan kebutuhan BBM yang perlu diantisipasi mencapai 6% pertahun. Dengan peningkatan 6% ini, berati kebutuhan ditahun 2008 menjadi 37 juta kiloliter. Sementara itu, juga terdapat sekitar 35 juta motor dengan konsumsi 1 liter per hari (sekitar 50 km jelajah perhari) dengan total konsumsi 12,78 juta kiloliter pertahun. Mempertimbangkan hal ini, maka konsumsi kendaraan tahun 2008 adalah 24,24 juta kiloliter. Dengan demikian, total kebutuhan konsumsi BBM sektro transportasi kira-kira mencapai 37 juta kiloliter pertahun. Kebutuhan ini jika ditambah porsi untuk PLN, rumah tangga dan industri yang mencapai 49% dari total, kebutuhan ini adalah 72,6 juta kiloliter.

Dengan biaya produksi Minyak Bumi yang hanya $ 14,5 per barrel, ditambah ongkos penyulingan dan distribusi BBM (kurang dari $ 2 per barrel), maka harga pokok BBM rata-rata adalah Rp 1.117,- perliter. Jadi jika saat ini harga BBM rata-rata Rp 4.500,-, pemerintah melalui Pertamina untuk kondisi kebutuhan dalam negeri saat ini akan mengeluarkan biaya sebesar Rp 52,7 trilyun, dengan pendapatan sebesar Rp 326,6 Trilyun dan subsidi untuk harga BBM dunia yang mencapai $ 110 per barrel setara dengan Rp 7.970,- per liter dengan kekurangan 25,4 juta kiloliter mencapai total subsidi 200 trilyun. Angka ini berarti masih ada keuntungan pemerintah sebesar 73,97 trilyun.

Tetapi perlu dicatat, untuk kenaikan yang dibiarkan mengikuti pasar, berarti pemerintah sudah kehilangan satu lagi fungsi controlnya untuk mengelola sebesar-besarnya hasil bumi NKRI untuk kemakmuran bangsa. Dan juga perlu dicarikan solusinya bagaimana jika harga minyak dunia kembali normal kekisaran USD 70-80 per barrel, yang artinya rata-rata harga BBM hanya Rp 5.500,- per liter.

Mempertimbangkan kondisi tersebut :

Hasil Minyak Bumi diarahkan hanya untuk kebutuhan dalam negeri. Penghasil devisa dari hasil alam disiapkan dari Gas, Batubara, besi, kayu, perkebunan, dan tembaga, dan resource yang terbatas tersebut dijual dalam rupiah kepada Negara yang sangat membutuhkannya.

Subsidi untuk kendaraan dihapus, Kenaikan harga BBM sesuai dengan harga Minyak Mentah dipasar dunia, saat ini rata-rata pasar Rp 7.900,- per liter untuk harga minyak mentah $ 110,- per barrel. Hal ini untuk mendorong tumbuhnya sektor-sektor yang lebih tepat guna, misal pengaturan tata kota yang lebih tersebar, pertumbuhan transportasi publik, konversi batubara menjadi BBM, dan menghindari penyelundupan baik berupa Minyak Mentah maupun BBM akibat harga yang tidak berimbang dengan negara tetangga karena subsidi.

Hasil pemerintah menjual BBM untuk kebutuhan dalam negeri harus digunakan untuk peningkatan infrastruktur jalan, pertanian, telekomunikasi, dan pertahanan. Dan sebisa mungkin melibatkan kaum buruh dalam proses pengerjaannya, karena komponen ini yang paling menderita (termasuk didalamnya buruh dibawah UMR, karyawan swasta, buruh tani, pegawai negeri, dan guru) yang penghasilannya tidak flesibel mengikuti inflasi yang bakal mengikuti kenaikan BBM.

USD mulai melemah, cadangan kita sebaiknya mulai diversifikasi dalam mata uang kuat dunia lainnya.

Salam,
-yohan S-

Entry filed under: Energi Dasar. Tags: , , , , .

Catatan Pembukaan Industrial R&D Expo Kekayaan Alam untuk Kemakmuran Indonesia

1 Komentar Add your own

  • 1. DENI HIDAYAT  |  24 November 2008 pukul 7:59 pm

    Maaf Pak ! Saya cuman pingin lebih tau lagi tentang BWA 3.5/10.5 GHZ .Bisa gak pak?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: