Uang dan Kemakmuran NKRI

13 April 2008 at 3:06 am 4 komentar

By Yohan Suryanto, ver. 1.1

Pengantar

Untuk mencapai kemakmuran bangsa Indonesia setidaknya dalam 300 tahun kedepan, kita perlu mengerti benar apa yang sebenarnya kita perlukan. Karena mengerti kebutuhan untuk mencapai kemakmuran bangsa inilah yang akan menentukan jumlah ‘darah’ (uang) yang akan mengangkut kebutuhan tersebut ke sel-sel (manusia Indonesia) penyusun bangsa ini. Pada dasarnya kebutuhan ini bisa tidak ada batasnya, dan uang untuk mencapai kebutuhan ini bisa juga tidak ada batasnya.

Pada taraf tertentu, kebutuhan adalah barang abstrak yang bisa dipenuhi atau tidak tergantung persepsi kita, tetapi setidaknya kebutuhan dasar harus dipenuhi terlebih dahulu. Ketika kebutuhan dasar dipenuhi, selanjutnya adalah masalah kreatifitas dan kenyamanan dan ini lebih dekat pada masalah persepsi. Untuk memenuhi ini kita yakin bisa berusaha, karena setidaknya Tuhan sudah memberikan kebutuhan energi secara cuma-cuma kepada bumi pertiwi setidaknya lewat pancaran sang surya sebesar 1.286.722 Giga Joule per detik (GWe).

Nilai sebuah mata uang adalah kepercayaan

Kita perlu mengerti benar apa peran rupiah terhadap pemenuhan kebutuhkan bangsa ini, dan peran apa yang diemban rupiah terhadap pemenuhan kebutuhan bangsa lain untuk mendapatkan sumber daya yang kita miliki, atau sebaliknya peran apa yang diemban rupiah untuk mendapatkan sumber daya yang kita butuhkan dari bangsa lain untuk mencapai kemakmuran. Dan dalam hal ini, jargon untuk mencapai kemakmuran jangan sampai membawa bangsa ini pada posisi ‘jual obral’, tetapi bagaimana mengolahnya menjadi posisi win-win. Karena pada posisi jual apalagi obral seperti kasus krisis ekonomi tahun 1998, meskipun negara lain membutuhkan sumber daya NKRI untuk mencapai kemakmuran mereka, sesuai hukum ekonomi mereka akan mendiktekan perannya menjarah secara legal apa yang sebenarnya kita punya.

Hanya dengan keyakinanan bahwa uang bukanlah tujuan dari sebuah kemakmuran, tetapi sebuah alat untuk pendistribusian kemakmuranlah yang akan membawa uang rupiah mengemban amanat yang seharusnya. Dalam jangka panjang, uang ini tidak bisa dikaitkan dalam benda apapun termasuk emas dan perak, karena nilai sebuah uang terletak pada kepercayaan yang melekat padanya. Untuk masalah ini, semua negara kapitalis sudah sepakat dengan tren melepas nilai terhadap benda yang kita kenal dengan nama emas dan perak. Persepsi kemakmuran dan kebutuhan kita sebagai bangsa dewasa ini apalagi dalam jangka panjang bukan lagi hanya berkorelasi dengan emas yang menjadi barometer utama persepsi kemakmuran bangsa atau suku-suku dimasa lalu. Nilai sebuah mata uang berkorelasi kuat dengan kepercayaan yang melekat erat dengan bangsa itu sendiri. Melekat erat pada keyakinan bahwa bangsa tersebut akan mampu mengatasi segala tantangan untuk tetap survive dan makmur dimuka bumi atau bahkan di alam semesta.

Kepercayaan ini salah satunya tergambar seperti saat masyarakat Amerika merdeka dan membuat tulisan yang terpatri dalam uangnya ‘In God we trust’. Kepercayaan inilah yang menghantarkan rakyat Amerika dan belahan dunia lain memuja $ laksana dewa yang akan mengabulkan setiap impian segala insan tanpa merasa bahwa otoritas dolar sudah menarik pajak dari segenap bangsa, yang kini mulai disadari oleh beberapa pemimpin dunia yang salah satunya memicu kelahiran EURO .

Rupiah, sebelum lahirnya mata uang kawasan atau global kelak, akan menjadi penghantar distribusi kebutuhan pokok dan kreatifitas bagi kemakmuran bangsa Indonesia. Untuk mencapai keyakinan yang dalam akan fungsi ini, kita harus mengerti benar apakah memang bangsa ini bisa survive dan makmur? Dengan demikian, keyakinan pada rupiah akan mengikuti, karena ia hanyalah sekedar alat untuk pendistribusian kemakmuran yang memang yakin bisa dicapai. Rupiah adalah sebuah perangkat yang dilahirkan atas dasar kepercayaan, bahwa bangsa ini yang kelak berjumlah 1 Milyar dalam 300 tahun mendatang (dengan pertumbuhan yang bisa ditekan sampai sekitar 0,51% pertahun) bisa saling mendukung untuk menjadi bangsa yang makmur. Jelas ini bukan pekerjaan setahun dua tahun, tetapi bukan pula pekerjaan berabad-abad yang tidak mungkin bisa kita tanggung. Kita bisa melakukannya.

Keseimbangan Uang

Seorang masyarakat biasa dengan penghasilan dibawah UMR menghidupi anak dan istrinya, mungkin akan puas dengan memegang rupiah sebesar 20.000,- sehari, karena bisa cukup untuk makan sekeluarga. Tetapi seorang yang sangat kaya, yang berada ditepian atas dari piramida kemakmuran, bisa membeli sebuah kreatifitas dengan harga 1 Milyar rupiah untuk sebuah lukisan yang sempurna. Sekiranya masyarakat biasa terpenuhi kebutuhan dasarnya, kemungkinan mereka tidak akan ambil pusing dengan kelakuan orang yang kaya raya tersebut. Karena pada dasarnya kepuasan datang pada pemecahan tantangan yang dihadapi oleh tiap orang. Orang biasa punya cukup masalah untuk diatasi, tetapi orang kaya kadang harus pergi keatap langit untuk mencari tantangan yang bisa mereka atasi.

Tugas Negara bukan untuk menghalangi keinginan orang untuk menjadi sangat kaya atau menghambat keinginan seseorang untuk membeli sebuah hasil kreatifitas dengan seluruh tabungannya menjelang dia meninggal dunia, atau mendikte bagaimana orang kaya harus membelanjakan uangnya. Tetapi tugas Negara adalah memastikan bahwa masyarakat biasa berhak mendapatkan kebutuhan dasar dan memastikan bahwa raksasa kapitalis tidak menginjak sel-sel penyusun bangsa lainnya. Tugas negaralah menyediakan infrastruktur yang memastikan segala akses pada kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Bagaimana penduduk membelanjakan uangnya dan bagaimana Negara menyediakan infrastruktur dasar yang menjamin akses pada kebutuhan dasar terpenuhilah yang akan mempengaruhi keseimbangan uang.

Berdasarkan pengamatan, jumlah $ yang beredar didunia sejak tahun 50-an juga terus meningkat, karena sebenarnya untuk setiap $ yang dipegang oleh seorang anak manusia, melahirkan konsekuensi bahwa otoritas dolar berhak mencetak 1 $ untuk keseimbangan suplai dolar. Idealnya untuk setiap tambahan rupiah yang dipegang oleh seorang anak bangsa, otoritas rupiah berhak mencetak Rp 1 untuk keseimbangan suplai rupiah. Karenanya jumlah uang yang dicetak paling tidak harus seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Selain itu, untuk setiap biji besi, minyak dan batubara yang dijual dengan menggunakan rupiah, akan membawa konsekuensi negara yang membutuhkan sumber daya tersebut harus membeli rupiah terlebih dahulu. Ini membawa dampak pada kebutuhan rupiah yang bisa dicetak selain untuk mengimbangi kebutuhan untuk tingkat kreatifitas atau nilai sebuah bangunan atau tanah yang dulunya tidak ada menjadi ada.

Hal sebaliknya juga bisa terjadi yaitu untuk setiap rupiah yang dijual, otoritas rupiah sebenarnya harus menghapus 1 rupiah untuk menjaga keseimbangan suplai rupiah. Begitupun dengan $, ketika sebagian penduduk dunia mulai beralih ke EURU idealnya otoritas dolar harus menghapus setiap $ yang beralih. Mencetak uang adalah mungkin, tetapi menghapus uang tidak praktis dilakukan. Walhasil ketika banyak orang mulai memegang EURO, $ melemah.

Yang membuat kita yakin bahwa rupiah akan mencapai nilainya, adalah juga karena penguatan atau penurunan mata uang dipasar bersifat fatamorgana. Pelemahan ini tidak sebanding lurus dengan yang terjadi dipasar. Ini memang mirip dengan apa yang terjadi di pasar saham dengan market kapitalisasinya. Seperti pada kasus BEI tanggal 10 Maret 2008, Market kapitalisasi turun sebesar 93 trilyun hanya dengan transaksi ‘riil’ sebesar 6 trilyun yang mengambil posisi cenderung jual. Sama dengan uang, ketika ada konversi USD 1 Milyar menjadi EUR 1 Milyar, yang terjadi adalah penurunan US $ menjadi 0,9 EUR. Konsekuensinya seakan-akan uang dolar diseluruh dunia turun 0,1 x jumlah uang dolar yang tercatat. Ini angka yang luar biasa karena setidaknya akan ada penurunan pada lebih dari USD 5000 Milyar = 50 Milyar USD.

Dukungan menuju kemakmuran

Memang dalam 63 tahun terakhir, perkembangan perekonomian Indonesia kurang menggembirakan. Tetapi jika kita melihat rentang waktu ke masa lalu sejak sekitar 70 M saat Aji Saka, salah satu pendahulu kita, menjejakkan kaki di Nusantara dan rentang waktu 300 tahun kedepan saat anak cucu kita akan menggantikan kita, waktu 63 tahun tersebut tidak boleh menjadi hambatan bagi bangsa Indonesia untuk mencapai kemakmurannya.

Bangsa Indonesia pernah dikuasi bangsa lain, dalam 350 tahun, bukan karena masalah yang luar biasa bagi kita dewasa ini. Kita dijajah hanya gara-gara masalah sepele, yaitu karena kita memiliki rempah-rempah. Sebuah benda yang akan sangat dengan mudah kita temui saat ini.

Dukungan untuk mencapai kemakmuran sudah terbentang didepan mata. Dalam tulisan sebelumnya kita melihat dalam jangka panjang setidaknya 300 tahun kedepan, dengan pertumbuhan peduduk Indonesia rata-rata 0,51% pertahun, NKRI memiliki penduduk sekitar 1  Milyar. Kebutuhan makanan (pokok dan gizi) untuk penduduk ini bisa dipenuhi dari alokasi luas daratan kurang dari 20% dan belum lagi dengan pemanfaatan luas lautan. Kebutuhan untuk pendukung seperti baju dan minuman juga akan bisa dipenuhi dengan alokasi yang kira-kira tidak jauh berbeda dengan alokasi tersebut, dan kemudian untuk mendukung kemakmuran masih bisa dengan listrik sebesar 12.347 kWh perkapita pertahun atau total 12.495.856 kWh  per tahun yang salah satunya dengan alokasi yang tepat pada sumber energi.

Rupiah dalam 63 tahun terakhir dan kedepan

Perkembangan rupiah berdasarkan data dari P Slamet Soeseno seperti yang disampaikan oleh P Rachmad dalam mailing list IA-ITB, dalam 58 tahun terakhir memang tidaklah menggembirakan. Pada tahun 1950 kurs US $ 1 = Rp 3.88,- , harga beras sekitar 15 sen rupiah per liter (sekitar 18,75 sen rupiah per kilogram) dan seseorang dengan penghasilan Rp 250 sudah merasa cukup makmur. Namun kini setelah 58 tahun membangun, 1 US $ = Rp 9.200,-, dan harga beras sekarang yang rata-rata mencapai Rp 6.000,- per kilogram.

Jika sekiranya kemakmuran bisa dikonversi dengan kebutuhan dasar yang berupa beras, setidaknya saat ini penghasilan Rp 250 per bulan tahun 1950 setara dengan penghasilan saat ini Rp 8 juta per bulan. Kita asumsikan untuk hidup layak saat ini, perorang perlu Rp 2 juta perbulan, maka tahun 1950 untuk hidup layak diperlukan minimum Rp 62,50 perbulan.
Jika uang beredar perbulan pada tahun 1950 kita turunkan dari angka uang yang dipegang oleh tiap orang untuk kebutuhan rata-rata 2 kali hidup minimum perbulan, maka total uang beredar tahun 1950 diperkirakan sekitar 2 (kali) x Rp 62,50 x 75 juta (penduduk) = 9,38 Milyar Rupiah.

Dengan demikian, untuk tahun 2008 ini dengan penduduk lebih dari 220 juta jiwa dan asumsi kenaikan pembangunan Indonesia fantastis 5% pertahun selama 58 tahun, maka jumlah uang beredar yang normal perbulan adalah :  Uang beredar tahun 1950 x persentase pertambanan penduduk x pertumbuhan ekonomi dalam 58 tahun = 466 Milyar rupiah.

Namun dengan fakta bahwa uang beredar saat ini bisa menapai 138 Trilyun sebulan, ini artinya terjadi kelebihan uang beredar 296 kali lebih banyak dari yang seharusnya. Untuk mengurangi rasio yang berlebihan ini, mungkin dengan mencari sumber pemegang rupiah yang baru. Misalnya negara tetangga yang perlu sumber besi dan gas, seperti Jepang dan China harus membeli kebutuhan tersebut dengan  rupiah. Negara yang butuh hutan Indonesia seperti Malaysia dan China juga harus membeli kebutuhan tersebut dengan rupiah juga.

Dengan cara ini diharapkan kelebihan uang beredar dibanding tahun 1950 bisa ditekan menjadi sekitar 100 kali saja. Dan dengan asumsi pertumbuhan penduduk 0,51% pertahun dan pertumbuhan ekonomi 5% pertahun, maka jika kita mendasarkan perhitungan uang beredar dengan kurs 1 USD = Rp 3,88 dan tidak mencetak uang rupiah lagi sejak tahun 2008, maka 86 tahun yang akan datang sudah tidak terjadi kelebihan uang beredar lagi dipasar dan kondisi kurs rupiah terhadap USD sama dengan tahun 1950 dengan asumsi USD tidak terus melorot. Dan melihat perkembangan ekonomi US dan perkembangan persaingan global, nampaknya 1 USD = 1 Rp dalam 86 tahun kedepan bisa menjadi kenyataan.

Salam,
-yohan S-

Entry filed under: General. Tags: , , .

NKRI memiliki masa depan yang sangat cerah II : Pajak dan Mata Uang USD

4 Komentar Add your own

  • 1. motulz  |  13 April 2008 pukul 4:33 am

    Saya koq agak kurang setuju ya dengan konsep ukuran kemakmuran = besarnya kemampuan finansial.

    Jabaran akan hitungan Pak Yohan disini cukup menjelaskan bagaimana sebuah nilai mata uang itu tumbuh dan berkembanga seiring zaman. Akan tetapi ukuran ini hanya menjadi nilai kapitalis saja. Sementara bangsa ini punya potensi kekayaan lain yang seharusnya gak cuma diukur secara kapitalis.

    Kita punya sumber daya alam yang bisa digunakan dalam negeri. Jumlah penduduk bangsa Indonesia ini sangat potensi menjadi SDM berkualiatas (jika pemerintah peduli dengan pendidikan). Terakhir adalah kekayaan geografis (belum banyak dimanfaatkan pemerintah), dimana saat ini sedang gencar sebuah negara memanfaatkan keunggulan geografisnya sebagai eco-tourism.

    Saya juga gak berani bilang bahwa bangsa kita tidak perlu uang, Jelas saja perlu, namun untuk mengukur pencapaian ekonomi bangsa ini secara hitungan barusan diatas yang saya khawatirkan adalah fokus pencapaian kurs rupiah terhadap mata uang asing. Dengan demikian kondisi perbaikan ekonomi secara makro bisa dicapai dengan menjalankan negara fiskal.

    Seperti saat ini dimana pemerintah lebih mengedepankan kebijakan finansial perbankan, sementara daya beli masyarakat masih sangat rendah.

    Nah.. bagaimana cara mengatasi hal ini secara ideal dengan ukuran daya beli masayarakat kecil. Apa iya bisa efektif jika cuma bermain selesih nilai tukar rupiah saja?

    Trims

    Balas
  • 2. yohans  |  13 April 2008 pukul 8:15 am

    Bung Motulz,

    Uang merupakan alat distribusi ‘energi’ kepada sel-sel penyusun bangsa. Dengan uang maka meraka bisa menukarnya dengan apapun yang mereka mau selama ‘energi’-nya ada dan uangnya bersesuaian. Uang bukan tujuan dari kemakmuran itu sendiri, tetapi sebagai suatu alat distribusi yang bisa juga untuk indikasi kemakmuran suatu bangsa.

    Karenanya konsep kemakmuran dalam hal ini hanyalah relevan untuk manusia yang tinggal di dunia, maka apapun yang belum dikenal oleh manusia (dalam hal ini penduduk Indonesia) tidak bisa dikonversi nilainya dalam uang.

    Kurs terhadap mata uang asing, memang bukan tujuan utama dari diciptakannya rupiah. Tetapi dengan kurs yang rendah seperti USD 1 = Rp 1, akan membantu anak cucu kita membayar hutang NKRI yang dicatat dalam USD misalnya.

    salam,
    -yohan S-

    Balas
  • 3. Natal Hutabarat  |  13 April 2008 pukul 8:29 am

    Yohan S:
    Namun dengan fakta bahwa uang beredar saat ini bisa menapai 138 Trilyun sebulan, ini artinya terjadi kelebihan uang beredar 296 kali lebih banyak dari yang seharusnya. Untuk mengurangi rasio yang berlebihan ini, mungkin dengan mencari sumber pemegang rupiah yang baru. Misalnya negara tetangga yang perlu sumber besi dan gas, seperti Jepang dan China harus membeli kebutuhan tersebut dengan rupiah. Negara yang butuh hutan Indonesia seperti Malaysia dan China juga harus membeli kebutuhan tersebut dengan rupiah juga.

    Natal Hutabarat :
    Apa benar Pak Yohan se-sederhana asumsi anda diatas solusi untuk memperkuat nilai tukar Rupiah?
    Setahuku sie, kebetulan Abang saya anak ekonomi, ini sangat berkaitan dengan volume export-import Indonesia keseluruhan, yang mana memang selisih export-import masih jauh lebih besar Import, sehingga memang Rupiah kita ini tidak bnyk dipakai, ini pengaruh utama dari sifat konsumerisme orang indo yang sangat tinggi, dan ketiadaan produksi dalam negeri, yg mana dalam hal efek domino dari tidak adanya Research yang baik dari universitas2 di Indonesia…
    bagaimana menurut Pak Yohan ? kayaknya asumsi solusinya masih perlu direvisi tuh?
    takutnya sie nanti ketika mengambil solusi menjadi salah kaprah…

    Yohan S :
    Pak Natal, dalam pandangan saya dengan netto kondisi kita import-pun, jika kemajuan ekonomi dalam negeri, dalam arti ‘energi atau nilai’ yang dihasilkan oleh seluruh penduduk NKRI bertambah dan saat negara lain membutuhkan sumber daya dari negeri kita membeli dengan rupiah, rupiah juga akan mengalami penguatan. Apalagi jika ditambah data sebenarnya dalam beberap tahun terdapat netto export seperti yang disampaikan oleh P Rahcmad dalalm http://rachmad.kuyasipil.net/?p=21.

    Balas
  • 4. sahabat88  |  13 April 2008 pukul 3:48 pm

    makmur sejahtera financial dan rohani
    semua orang pengen? tapi benar harus seimbang tuh keduanya…
    beberapa tulisan yg aku perkenalkan…. semoga bermanfaat
    berlibur ke malang>/a>
    perbaikan komputer>/a>
    bagi yang mau bisnis warnet>/a>
    😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: