Masukan untuk Alokasi Frekuensi BWA di Indonesia

29 Maret 2008 at 8:14 am 5 komentar

Rev.1.3, 1 April 2008
Penulis : Yohan Suryanto (yohan@rambinet.com)
—————————————————————————————-

1. Pendahuluan :

Negara Indonesia dengan luas wilayah 1,9 juta km2, merupakan Negara terluas ke-15 di dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta orang dengan sebaran kepadatan yang sangat bervariasi, memiliki penetrasi akses broadband digital yang sangat rendah. Kondisi ini tentu unik dibanding negara-negara lain yang juga tertarik untuk mengembangkan jaringan akses broadband digital terutama menggunakan BWA di 2,3-2,7 GHz dan 3,3-3,5 GHz.

Untuk mengejar  ketertinggalan akses digital dan mencapai kemakmuran bangsa seperti diamanatkan dalam Pancasila sila ke-5 (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia), diperlukan akses broadband internet yang memadai bagi seluruh lapisan masyarakat. Kemudahan akan akses informasi ini merupakan syarat mutlak yang diperlukan untuk pemerataan pendidikan, pemerataan kemakmuran, dan usaha membangun bangsa yang makmur dimasa-masa yang akan datang. Untuk itu diperlukan dukungan kebijakan publik jangka panjang dari Pemerintah yang mendukung tercapainya pemerataan akses broadband internet tersebut.

2. Alternative solusi

Mari kita bayangkan pada masa 20 tahun mendatang ketika kemudahan akses informasi akan sangat menentukan kemajuan kita sebagai bangsa. Akan sangat menentukan kecepatan belajar dari masyarakat Indonesia untuk membentuk suatu komunitas yang makmur. Akan sangat menentukan cara pendistribusian ‘energi’ dan kreatifitas bangsa. Ketika itu suatu pilihan teknologi akses yang tepat mutlak diperlukan untuk melayani kebutuhan penduduk lebih dari 289 juta jiwa (dengan asumsi pertumbuhan 1,38% per tahun).

Berapa bandwidth akses yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia saat itu, dan apakah teknologi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Saat itu, dengan dukungan kebijakan publik yang memadai, anak yang baru mau masuk Sekolah Dasar saja sudah membutuhkan akses broadband internet agar tidak ketinggalan. Dengan asumsi umur manusia Indonesia mencapai 65 tahun, maka yang perlu akses internet dari total 289 juta jiwa adalah 258 juta orang.

Jenis aplikasi yang mendukung sharing informasi dan entertainment saat itu setidaknya membutuhkan akses internet dengan kecepatan 1 Mbps per orang dengan rasio 1:10. Untuk itu dibutuhkan jumlah akses sebanyak 258 juta Satuan Sambungan dengan jumlah bandwidth sebesar 25,8 Tbps.

Dengan jumlah kebutuhan tersebut, kita lihat solusi akses secara umum berdasarkan medianya yaitu :

    1. Kabel (copper, optic, HFC)
    2. Satellite
    3. Broadband Wireless Access

Solusi kabel :

Pembangunan akses kabel dalam 38 tahun terakhir mencapai 9 juta line dan dalam 10 tahun terakhir pertumbuhan akses menggunakan kabel boleh dibilang 0 %. Berbeda dengan wireless baik yang fixed maupun yang mobile yang mencapai lebih dari 60 juta sambungan hanya dalam waktu 18 tahun. Dengan asumsi jumlah kabel yang layak untuk broadband mencapai 20% dari kabel yang terpasang, maka jumlah yang bisa dilayani dengan kabel hanya 1,8 juta orang. Ini hanya 0,7% dari total kebutuhan untuk mencapai masyarakat yang makmur.

Dengan asumsi jumlah pembangunan akses kabel dalam 20 tahun mendatang, separuh dari jumlah yang dibangun dalam 38 tahun yang lalu, nampaknya kabel bukan solusi yang tepat untuk membuat pemerataan akses akan informasi di Indonesia dalam 20 tahun mendatang.

Solusi satellite :

Seandainya saja seluruh slot satelite yang dimiliki oleh Indonesia sebanyak 6 slot digunakan untuk layanan broadband internet akses yang membutuhkan kemampuan komunikasi dua arah, dengan meluncurkan tambahan 12 satellite (Masing-masing 2 satellite per slot missal C dan Ku saja dan lainnya S dan Ext-C saja) yang masing-masing berumur 20 tahun dengan biaya yang mencapai $ 200 juta per satellite, akankah memenuhi kebutuhan 25,8 Tbps?

Jika seluruh band satellite tersebut baik S-band, Ext-C, C-band, dan Ku-band digunakan (masing-masing band : S band 10 transponder, ext-C 12 Transponder, C-band 24 Transponder, Ku-band 24 Transponder)  dengan asumsi lebar transponder S-band 30 MHz, C dan Ext-C 36 MHz dan Ku-band 40 MHz, rata 1 transponder 36 MHz, maka total bandwidth satellite Indonesia tersebut dalam 20 tahun mendatang adalah 15.336 MHz.

Jika semua akses teknologi satellite sudah menggunakan modulasi 8 PSK, yang merupakan orde modulasi paling tinggi yang realistis dicapai oleh komunikasi dua arah menggunakan satellite,  maka akan didapat total akses sebesar 30,7 Gbps. Dengan kapasitas ini hanya bisa memenuhi 0,119% dari kebutuhan akses internet Indonesia dalam 20 tahun kedepan. Ini juga belum mempertimbangkan kebutuhan Satellite untuk backbone daerah tertinggal untuk mengejar ketertinggalan dengan daerah lain, dan kebutuhan untuk broadcasting TV agar penyebaran informasi merata.

Dengan kondisi ini, untuk kepentingan jangka panjang, satellite tidak bisa menjadi tulang punggung kebutuhan broadband akses internet. Satellite akan lebih bijaksana jika diperuntukkan hanya untuk backbone, akses bagi daerah-daerah tertinggal, dan relay broadcasting saja. Dengan alokasi frekuensi satellite saat ini yang mencapai 2 x 1.450  MHz (Downlink +500 MHz lagi di KU-band dan Uplink), perlu dipertimbangkan lagi prioritas peruntukan frekuensi yang digunakan oleh satellite demi mencapai kebutuhan akan akses broadband internet bagi rakyat Indonesia.

Solusi Broadband Wireless :

Seandainya diberikan alokasi frekuensi sebesar 400 MHz untuk BWA oleh pemerintah, sebuah angka yang dibutuhkan untuk efisiensi penggunaan infrastruktur yang memadai, apakah Broadband Wireless menjawab kebutuhan broadband internet akses bagi rakyat Indonesia dalam waktu 20 tahun mendatang?

Dengan modulasi 64 QAM (atau lebih tinggi) menggunakan MIMO B (Atau yang lebih andvanced) akan didapat kapasitas 400 MHz x 2 (MIMO B) x 6 (bit modulasi/Hz) x  (3/4 FEC) x 0,75 (Header effisiensi) = 2,7 Gbps. Dengan demikian, kebutuhan bandwidth Akses sebesar 25,8 Tbps akan bisa dipenuhi dengan reuse frekuensi BWA menggunakan  9.558 BTS dengan lebar pita masing-masing 400 MHz. Atau total 124.258 BTS jika ada 13 operator BWA yang masing-masing membangun BTS-nya sendiri-sendiri.

Dengan demikian untuk masa pembangunan 20 tahun mendatang, waktu yang relative singkat bagi pemerataan kemudahan akses informasi, BWA merupakan solusi satu-satunya yang feasible untuk menyediakan akses pada 259 juta jiwa dengan kebutuhan akses total 25,8 Tbps agar Indonesia mencapai kemakmuran seperti yang dicita-citakan.

3. Kebutuhan Alokasi pita BWA

Mengapa diperlukan pita BWA selebar 400 MHz?

Alasan pertama untuk fair-play terutama untuk mengamankan investasi yang sudah dilakukan untuk memeratakan kemudahan broadband akses terhadap kompetisi akses mengunakan WiFi yang mendapat alokasi bebas lisensi di 2,4 GHz selebar 100 MHz (83 MHz + Guard band).

Alasan kedua untuk pertimbangan investasi BWA agar efisien. Jika kita asumsikan dalam radius 1,32 km terdapat sebuah komunitas perumahan dengan masing-masing rumah seluas 1000 m2 termasuk fasum yang ditinggali oleh 5 jiwa, maka dalam radius tersebut akan terdapat sekitar 27.370 jiwa. Kebutuhan bandwidth untuk melayani komunitas tersebut dengan akses broadband internet 1 Mbps dengan rasio 1:10 adalah 2,7 Gbps. Kebutuhan bandwidth ini akan bisa dipenuhi oleh BWA menggunakan pita frekuensi 400 MHz.

Alasan ketiga adalah untuk memungkinkan tumbuhnya beberapa operator BWA yang kuat dalam 20 tahun mendatang, antara 6-10 operator yang masing-masing memiliki alokasi 30-60 MHz.

Alasan keempat adalah untuk memungkinkan pembagian yang lebih jelas untuk operator broadband internet akses nomadic/mobile dan broadband internet akses fixed. Misalnya dengan pembagian 200 MHz masing-masing group layanan mobile dan fixed.

4. Pilihan band frekuensi BWA

Agar didapat skala yang masif dan terjangkau, serta sinergi potensi nasional yang memungkinkan tercapainya cita-cita pemerataan akses broadband internet bagi masyarakat Indonesia, dan pembagian 200 MHz untuk mobile internet akses dan 200 MHz untuk fixed internet perlu pertimbangan :

    1. Band yang berurutan dan dibawah 3,5 GHz. Alokasi band di bawah 3,5 GHz untuk BWA memungkinkan daya penetrasi (misal first wall) yang memadai dan coverage layanan yang cukup jauh.
    2. Kemungkinan interoperability dan roaming dengan operator lain baik nasional maupun dengan operator mancanegara.

Memperhatikan masukan dari Komunitas Telekomunikasi yang terangkum dalam white paper penataan BWA bulan November 2006 dan draft Permen frekuensi BWA, kandidat alokasi pita frekuensi untuk BWA adalah :

  1. Pita 300 MHz       : lebar pita 7 MHz bawah dan 14 MHz atas.
  2. Pita 1,5 Ghz          : lebar pita 24 MHz atas dan 24 MHz bawah.
  3. Pita 2 GHz                        : lebar pita 30 MHz.
  4. Pita 2,3-2.7 GHz   : saat ini baru tersedia 40 MHz (tetapi dengan penataan ada potensi lebar 200 MHz).
  5. 3,3 – 3,5 GHz        : saat ini tersedia 100 MHz (tetapi dengan penataan ada potensi lebar 200 MHz).
  6. Pita 5,8 GHz         : lebar pita 100 MHz.
  7. Pita 10,5 GHz       : Lebar pita 150 MHz atas dan 150 Mhz bawah.

Berdasarkan pilihan kandidat tersebut dan memperhatikan masukan dari operator termasuk dari CSM tanggal 1 Desember 2006 dan diskusi yang dilakukan oleh komunitas termasuk FKBWI dan Abwindo, maka pilihan untuk akses yang layak untuk kebutuhan BWA adalah :

    1. Untuk mobile/nomadic broadband internet akses, 200 MHz pada pita : 2,3-2,7 GHz (dikurangi frekuensi untuk WiFi dan Broadcasting S-band).
    2. Untuk fixed broadband internet akses, 200 MHz pada pita : 3,3 – 3,5 GHz

Sementara pita lainnya tidak layak untuk solusi BWA dalam jangka panjang karena :

  1. Pita 300 MHz, channel yang tersedia hanya 7 MHz atas dan 14 MHz bawah, terlalu kecil untuk disebut sebagai pita BWA. Channel ini lebih cocok untuk keperluan yang lain semacam broadcasting atau sesuai dengan teknologi yang digunakan oleh existing operator.
  2. Pita 1500 MHz, kanal yang tersedia hanya 24 MHz atas dan 24 MHz bawah, terlalu kecil untuk disebut BWA. Saat ini hanya untuk broadcasting, jadi tidak perlu disebut sebagai BWA yang secara alami adalah layanan dua arah.
  3. Pita 2 GHz, kanal yang tersedia hanya 30 MHz, terlalu kecil untuk tumbuhnya BWA yang tidak bersifat monopoli.
  4. Untuk pita 5,8 GHz, frekuensinya terlalu tinggi untuk tumbuhnya equipment yang memiliki coverage luas dengan harga yang terjangkau. Frekuensi ini lebih cocok untuk backhaul BWA atau ijin akses wireless biasa dengan teknologi yang digunakan oleh existing operator.
  5. Untuk pita 10,5 GHz, frekuensinya terlalu tinggi untuk tumbuhnya equipment yang memiliki coverage luas dengan harga yang terjangkau. Frekuensi ini untuk backhoul BWA atau ijin akses wireless biasa dengan teknologi yang digunakan oleh existing operator.

Kehadiran pilihan pita frekuensi di 300 MHz, 1500 MHz, dan  2 GHz yang relative sempit tersebut sebenarnya seperti fatamorgana saja, label BWA pada frekuensi ini hanya membuat existing operator di band tersebut mengalami kesulitan dan hambatan seperti yang dialami oleh BWA.  Sementara target untuk interoperability, dan ketersediaan equipment yang terjangkau tidak terpenuhi. Dan pilihan frekuensi tinggi di 5,8 GHz dan 10,5 GHz untuk BWA merupakan fatamorgana juga bahwa seakan-akan frekuensi yang tersedia untuk BWA relative besar, tetapi pada kenyataannya frekuensi ini tidak layak untuk implementasi BWA skala besar dengan coverage dan daya tembus (first wall misalnya) yang memadai. Jadi label BWA pada band ini akan membawa dampak misleading dan hanya akan mempersulit existing operator seperti yang dialami oleh frekuensi BWA.

5. Langkah-langkah Alokasi

Langkah pertama adalah menyediakan landasan PerMen yang kokoh bagi kemungkinan tersedianya band yang memadai yang memayungi pelaksanaan teknis peraturan dibawahnya. Langkah pertama ini bisa diibaratkan seperti saat Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia yang memberikan fondasi yang kokoh pada kemerdekaan Indonesia dan menyerahkan pelaksanaan teknis pengaturan berikutnya pada peraturan dibawahnya yang dipayungi oleh landasan ini.

Usulan Pelaksanaan teknis bisa dilakukan dengan pentahapan :

  1. Pengalokasian sementara 3 x 5 MHz per blok yang memungkinkan existing teknologi menggunakan lebar kanal per sector 3,5 MHz dan 5 MHz bisa diakomodasi di band 2,5 GHz dan 3,3-3,5 GHz.
  2. Sharing frekuensi  BWA di 3,4- 3,5 GHz dengan extended-C sesuai dengan masukan operator BWA dan white paper ‘Sharing Alokasi Frekuensi 3.5 GHz di Indonesia : BWA 3.5 GHz dan Satellite Ext-C (down link 3.4-3.7 GHz) FSS, Rev.2.1, 9 November 2006, oleh : Yohan Suryanto’.
  3. Kemudian menaikkan alokasi per blok menjadi 3 x 10 MHz dan  keharusan penggunaan kanal menjadi 5 MHz dan 10 MHz, dengan mengurangi alokasi untuk S-band selebar 60-80 MHz dan Extended-C band selebar 100 MHz.
  4. Migrasi skala penuh BWA dengan dukungan industri dalam negeri.
  5. Pengenaan BHP dimulai pada angka tertentu yang memungkinkan tumbuhnya operator BWA yang kuat dan meningkat sesuai dengan meningkatnya penetrasi broadband internet akses di Indonesia

Demikian usulan yang kami sampaikan, semoga bisa menjadi salah satu view yang bisa dipertimbangkan demi tercapainya kesejahteraan masyarakat Indonesia.

————-

Entry filed under: BWA. Tags: , , .

NKRI memiliki masa depan yang sangat cerah I: NKRI memiliki masa depan yang sangat cerah II :

5 Komentar Add your own

  • 1. yuzz  |  25 Agustus 2008 pukul 6:23 am

    bisa minta semua tentang BWA mulai dari sejarah dan yg lain’y g coz aku mo bikin laporan tentang BWA,kirim j k email aku

    thx y

    Balas
  • 2. Rani Irma Handayani  |  12 Maret 2009 pukul 6:46 am

    Mas yohan thnx ya atas artikelnya bagus bgt, boleh ga aq minta artikel lengkap yang berhubungan dengan daerah yang potensial untuk dikembangkan & konsep pengamanan yang optimal untuk bisnis BWA tsb. He3x minta nya bnyk ya. Mksh ya sebelumnya.

    Balas
    • 3. yohans  |  16 Juli 2009 pukul 10:35 am

      Mbak Rani,

      Untuk artikel yang cukup lengkap berhubungan dengan zone-zone BWA ada di white paper BWA dan di dokumen lelang frekuensi 2,3 GHz yang pelaksanaannya baru tanggal 14-16 Juli 2009 kemarin. Mungkin dokumen tersebut bisa didownload di http://www.postel.go.id

      Balas
  • 4. wahyu  |  5 Oktober 2009 pukul 11:58 am

    Jika semua akses teknologi satellite sudah menggunakan modulasi 8 PSK, yang merupakan orde modulasi paling tinggi yang realistis dicapai oleh komunikasi dua arah menggunakan satellite, maka akan didapat total akses sebesar 30,7 Gbps. Dengan kapasitas ini hanya bisa memenuhi 0,119% dari kebutuhan akses internet Indonesia dalam 20 tahun kedepan. Ini juga belum mempertimbangkan kebutuhan Satellite untuk backbone daerah tertinggal untuk mengejar ketertinggalan dengan daerah lain, dan kebutuhan untuk broadcasting TV agar penyebaran informasi merata………

    Apakah bisa dijelsakan dari mana anda mendapat atau menghitung tulisan anda di atas mas….mohon jika ada waktu bersedia diskusi dengan saya, saya sedang menulis thesis Analisis Kebutuhan Bandwidth Satelit Untuk Layanan Pita Lebar Berbasis Akses Jamak TDMA dan CDMA….terima kasih..

    Balas
    • 5. yohans  |  7 Oktober 2009 pukul 11:14 am

      Mas Wahyu, itu dari pengalaman instalasi VSAT teman-teman CSM. Dengan modem satelite yang biasa dan antena 1,8 m biasanya digunakan modulasi QPSK, dengan enhancement equipment disisi HPA dan ukuran antena, penggunaan modulasi 8 PSK adalah lajim. Bisa saja link VSAT menggunakan orde modulasi 16 QAM, tetapi karena power EIRP satellite juga tetap, maka perlu HPA dan Diameter antena yang juga perlu disesuaikan. Kasus modulasi 16 QAM biasanya hanya cost efektif untuk koneksi dengan bandwidh besar (E3 atau STM1), karena biaya pengadaan ground station yang tinggi bisa dikompensasi oleh jumlah bandwidth yang besar. Tapi ya itu tadi, tetap saja jumlah transponder satellite terbatas. salam, -yohan-

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
« Mei   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: