Dalam 20 tahun terakhir sejak BEJ berdiri, IHSG belum mampu melampui kenaikan harga beras!

16 Maret 2008 at 8:42 am 3 komentar

Pertama kali IHSG gabungan dicatat tahun 1988, indeksnya sekitar 305 poin. Dan saat ini setelah 20 tahun berlalu dengan cepatnya, ISHG tercatat tertinggi pada angka 2.744 tanggal 22 Februari 2008. Ini berarti kenaikan investasi di BEJ setelah 20 tahun adalah 9 kali. Angka ini sungguh luar biasa, bahkan membuat dana virtual kita cukup untuk pergi rombongan ke pulau Bali.

Tetapi seandainya saja investasi jangka panjang yang dilakukan mengikuti IHSG diuangkan sekarang, setelah 20 tahun, ironisnya kita hanya bisa membeli beras lebih sedikit. Dulu ketika saya SMP bisa membeli beras kualitas normal harganya sekitar Rp 400 per kg dan sekarang saya biasa membeli beras kualitas normal harganya Rp 5.000 per kg. Dalam jangka waktu yang sama, 20 tahun, kenaikan harga beras mencapai 12,5 kali. Angka yang jelas jauh lebih besar apalagi dibandingkan dengan IHSG minggu ini yang sekitar 2.500, yang berarti kenaikan dibanding 20 tahun lalu 8,2 kali saja.

Padahal apa yang tercatat dalam IHSG belum merupakan kuuntungan yang kita realisasikan, masih ‘pura-pura untung saja’ dengan kenaikan IHSG tersebut. Sebenarnya apakah ini berarti kondisi bagus buat IHSG, karena membuka peluang untuk bisa mencatat angka yang lebih tinggi lagi? Atau kondisi harga perberasan yang memang mengkhawatirkan? Ini adalah masalah lain. Sekarang mari kita telaah saja bagian apa yang disebut dengan ‘pura-pura untung’ dengan analisa ‘pura-pura rugi’ berikut.

Jika kita perhatikan pada tanggal 10 Maret 2008, tercatat IHSG mengalami penurunan sebesar 128 poin dari posisi sekitar 2.600 poin. Ini berarti telah terjadi penurunan sebesar 4,92 %. Jika kita memperhatikan rumus IHSG = (Total Market Kapitalization x 100)/Harga dasar, maka ini berarti market kapitalization yang saat itu sekitar Rp1.900 Trilyun sudah berkurang sebesar Rp 93,54 Trilyun dalam sehari. Sungguh suatu angka ‘pura-pura rugi’ yang fantastis jika dibandingkan dengan dana APBN NKRI.

Jika kita cermati transaksi harian pada saat itu, hanya sekitar Rp 6 Trilyun saja. Yang berarti pastilah total kerugian riil yang dihadapi oleh pelaku pasar < dari Rp 6 Trilyun. Karena tidak mungkin si penjual menjual Rp 0 rupiah pada saat penurunan terjadi. Anggap saja pada saat itu terjadi kerugian terburuk rata 50% pada saham yang diperdagangkan, ini berarti total kerugian riil maksimum hanya Rp 3 Trilyun. Dan pastinya kurang dari itu karena saham diperdagangkan tergradasi, apalagi jika sekiranya ada Rp 2 Trilyun yang hanya merupakan transaksi katalis penurunan, artinya hanya mengambil posisi jual rugi pada ‘sesamanya’ menggunakan tangan-tangan tak terlihat, toh ujung-ujungnya jumlah saham yang mereka miliki jumlahnya tetap sama, hanya berpindah kantong saja. Ini memang membuat Rp 1 Trilyun benar-benar rugi, dan sebagian besar lainnya merasa rugi karena tidak jadi merasa untung.

Kemana nilai Rp 90 Trilyun lainnya itu pergi dalam sehari? Sebenarnya ia tidak pergi kemana-mana, sebagaimana dulu ia tidak datang dari mana-mana. Ia hanya datang karena perasaan untung, dan perginya juga karena perasaan rugi. Ia diciptakan oleh pasar, atas dasar kepercayaan. Ini lebih pada masalah percaya dan tidak percaya. Semakin banyak yang percaya maka semakin sehat. Ia mirip pada uang $, In God We Trust, semakin banyak yang percaya $ adalah sakti mondroguno semakin tinggi nilainya. Semakin besar peluang percetakan uang US menarik ‘pajak’ dari penganutnya. Semakin kita tidak percaya pada Rp, semakin tidak ada nilainya. Hal yang sebaliknya juga bisa terjadi, yang bisa membuat 1 Rp = 1 $.

Mari kita buka kembali salah satu contoh loedrokan mengenai dana virtual kita pada bulan Mei 2007, kita bayangkan saja dana virtual yang dikelola oleh P JohanD yang saat itu sudah manjadi : Rp 1.121.700.000,-. Awalnya direncanakan oleh pemodal, uang tersebut akan dibelikan minyak goreng. Tetapi karena iming-iming keuntungan di bursa saham yang menggiurkan disamping karena kebutuhan minyak goreng bisa ditunda, jadinya di tangguhkan untuk membeli minyak goreng pada bulan Mei 2007 saja. Nah ketika tiba saatnya uang sebesar Rp 1.121.700.000 dibelikan minyak goreng bulan Mei 2007, ternyata hanya dapat minyak goreng sebanyak 124.633 kg saja. Sementara kebutuhan sebenarnya adalah sesuai budget untuk bulan Desember 2006 sebanyak 166.667 kg yang bisa dibeli dengan harga per kg Rp 6000,- dengan uang Rp 1 Milyar. Ini artinya secara virtual pemodal harus menutup kekurangan kebutuhan minyak gorengnya sebanyak 42.033 kg yang setara dengan nilai Rp 378.300.000,-, artinya dalam hal ini tombok pada posisi Mei 2007.

Nah karena tidak mau tombok, maka pemodal memutuskan untuk menunda membeli minyak goreng pada bulan Maret 2008. Sekarang hasil investasi lebih menggembirakan, dengan nilai Rp 1.530.000,000,- menunjukkan peningkatan yang banyak dan kelihatannya bisa menutup kerugian jika dibelikan minyak goreng pada bulan Mei 2007. Sayangnya harga minyak goreng saat ini sekitar Rp 14.000 per/kg karena pada rame-rame ke biodiesel. Walhasil kita hanya mendapat 109.286 kg saja. Padahal jika dibelikan pada bulan Desember 2006 kita bisa mendapatkan sebanyak 166.667 kg, ini berarti ada kekurangan sebesar 57.381 kg atau setara dengan nilai Rp 803.338.000,-. Tombok lagi.

salam,
-yohan S-

Entry filed under: General. Tags: , , , .

Kenapa Inflasi Tinggi? NKRI memiliki masa depan yang sangat cerah I:

3 Komentar Add your own

  • 1. Natal Hutabarat  |  29 Maret 2008 pukul 10:37 am

    Rekan Yohan S🙂
    Sangat menarik analisa anda dan anda menggunakan bahasa yang sangat sederhana, kalau boleh tahu ini? apakah Rekan Yohan S pernah aktif di Pasar Saham ?
    karena saya lihat kata2 asumsi dan pasti di tulisan sangat meyakinkan,
    dan angka2 yang anda contohkan sangat masuk akal…
    ditunggu penjelasannya

    Balas
  • 2. yohan S  |  4 April 2008 pukul 9:36 am

    Bung Natal,

    Saya pernah ikut investasi reksadana sebelum krismon tahun 1997 dan ikut investasi saham melalui sebuah fund manager di Jakarta, tetapi tidak terlalu aktif dan sekarang sudah tidak lagi. Saat ini untuk investasi di reksadan dan saham, hanya dilakukan lewat badan investasi hari tua semacam prudential dan badan asuransi lainnya.

    salam,
    -yohan S-

    Balas
  • 3. Natal Hutabarat  |  6 April 2008 pukul 6:30 am

    Bung Yohan,
    Terima kasih atas informasinya, berarti memang benar2 tulisan anda diatas berdasar atas pengalaman sendiri… cukup menarik…
    he..he.he, ditunggu tulisan2 lainnya ya…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
« Mei   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: