Sebuah Response Sederhana : Menentukan Kecerdasan Sebuah Bangsa

6 Desember 2006 at 9:16 am Tinggalkan komentar

“Apakah semua Keunggulan Ganesha bisa menjadi lambang kepemimpinan paripurna?” Hmm (sambil manggut-manggut) sebuah pemikiran yang menarik, model Ganesha yang disampaikan ala canda oleh Pak JohanD memang ideal, apalagi setelah dilengkapi oleh Pak Pramuditho dan Pak Hendy terasa lebih komplit aromanya. Pak Oki yang menambahkan warna abu-abu, membuat model ganesha makin menggelitik. Menjadikan model ganesha terasa ironis seperti model statis yang ditempel dibawah tiang bendera gerbang kampus cap gadjah doedoek, melihat tanpa berkedip sejarah bangsa Indonesia dari saat tanpa nama menjadi seperti sekarang. Dimaknai dan dipersepsikan berulang-ulang, namun pemberi maknanyalah yang bisa menjawab tantangan yang ada.

Kalau boleh diungkapkan dengan cara guyon ala Loedroek, ini seperti belajar dari anak Gajah. Sederhana dan manjur, membumikan ego manusia agar belajar dari alam sekitar, dalam hal ini anak gajah.

Lantas pertanyaan nakal selanjutnya apakah model pemimpin ganesha adalah model yang membumi ataukah model yang melangit? Adakah derajat kedalaman dari masing-masing sifat atau karakter yang disimbolkan. Misalnya kapak yang melambangkan kesiapan tempur, seberapa efektif dan seberapa kuatkah kesiapan tempur yang disimbolkannya. Apakah cukup kuat untuk mengkampak kayu ulin atau cukup kuat untuk mengkampak besi. Atau cukup efektifkan kesiapan tempurnya untuk menghadapi Sukoi29 lengkap dengan senjata beratnya. Atau dijaman sekarang dia malah mestinya ganti pegang M16 yang merupakan senjata lebih canggih karena kapak hanya digunakan dalam perang jaman bahuela, atau pegang senjata pemusnah masal dan penggaris untuk melambangkan keampuhan dan kepresisian sekaligus. Atau pegang anti virus untuk menjinakkan virus yang berseliweran di alam maya. Dan kalaupun dia memegang semua tools yang diperlukan, dimana timbangan dan komputer untuk bertindak adil dan menentukan sudah seberapa makmur negerinya.

Siapa sebenarnya yang bisa menguasai model pemimpin seperti ini. Berapa lama dia perlu menempa diri dari sejak lahir, dimana dia tak punya kuasa untuk memilih jenis kelamin dan ortunya, sampai dia menguasai sekian persen dari sifat atau karakter ganesha. Bagaimana dia bisa mengukur kedalaman modelnya. Siapakah diantara kita yang bisa merepresentasikan sifat-sifat pemimpin ala Ganesha? Apakah sifat-sifatnya terepresentasikan secara keseluruhan dengan kedalaman yang 100% (meskipun modelnya juga tidak ada ukurannya) sama seperti model sifat ganesha. Dan kalaupun ada, apakah sifat-sifat itu bertahan sepanjang hayatnya? Atau bergantung pada kondisi waktu saja seperti tokoh Ang dalam film Avatar. Meskipun Ang menguasai empat unsur ilmu (udara, bumi, air, dan api), tetapi sifat-sifat avatarnya hanya akan muncul dalam keadaan tertentu, sehari-harinya dia adalah anak yang jenaka dan kadang melakukan hal konyol.

Mari kita tengok diri kita masing-masing, apakah kita adalah tipe pemimpin, sedikitnya bagi diri kita sendiri atau keluarga kita, seperti model ganesha. Ataukah orang tua dan guru-guru kita sudah ada yang seperti ganesha. Ataukah pemimpin kampus dimana kita menimba ilmu sudah seperti ganesha. Ataukah anggota wakil rakyat, menteri atau presiden kita sudah seperti model ganesha. Dan kalaupun ia, seberapa dalam mereka mendekati model ganesha dan seberapa banyak yang dekat dengan 90% atau lebih karakter ganesha?

Kalaupun kesulitan mencari, mungkin bisa kita tengok pemimpin-pemimpin yang sudah almarhum. Karena bagi kita yang memegang adat ketimuran akan cenderung merahasiakan sifat kejelekan dan mengungkapkan kelebihan terutama bagi mereka yang sudah almarhum, maka tentunya pemimpin ideal akan mendekati sifat malaikat seiring dengan lama waktu meninggalnya. Sebagai contoh apakah pemimpin-pemimpin berikut berkarakter ganesha?
 Soekarno
 Bung Tomo
 Jend Sudirman
 Moh Hatta
 Moh Yamin
 Wali songo
Dll pahlawan nasioal lainnya. Kalaupun iya, seberapa dekat dengan model ideal ganesha, dan apakah sepanjang hayatnya mereka bisa disebut sebagai pemimpin dengan karakter ganesha?

Ataukah tokoh-tokoh lainnya seperti :
 Nabi Muhammad yang sempat terusir dari kota kelahirannya
 Sang sidharta budha gautama yang pernah menikmati kemewahan istana
 Abraham yang merusak patung buatan ayahnya dengan kapak
 Yesus yang disalib perlambang penebusan dosa
 Mahatma Gandhi yang tidak pernah duduk di kursi kekuasaan dan tidak pernah memegang kampak seperti ganesha Atau
 Daud yang memilih pengikutnya dengan cara yang sederhana (Mereka yang meminum air dengan cara ‘ngokop’ meskipun dilarang mesti keluar dari barisan, sekalipun dia kekurangan pasukan saat menghadapi raja yang kuat).
 Genghis khan pemimpin Mongol
 Mao pemimpin China
Termasuk pemimpin dengan karakter ganesha? Kalaupun iya, seberapa dekat dengan model ideal ganesha, dan apakah sepanjang hayatnya mereka bisa disebut sebagai pemimpin dengan karakter ganesha?

Lantas kalau memang kita ragu-ragu jika kita ataupun mereka sudah menjadi model ganesha dengan 9 karakternya (atau jika ditambah satu menjadi genap 10), masih relevankan mencari sosok yang memiliki karakter model ganesha. Atau mampukah model ganesha menjawab tantangan terkini?

Mampukah kita menjadi seseorang yang self organized. Mampukah pemimpin dengan karakter ganesha membersihkan kota seperti bandung beberapa yang lalu dengan hanya menulis : ’Jangan buang sampah di sini’ sementara sebagian orang dengan ego tinggi merasa menang dengan melakukan tindakan mbalelo dengan membuang sampah persis dibawah tulisan tersebut. Mampukah pemimpin bahkan seperti Nuh/Noah menyesaki perahunya dengan tetangganya, bahkan dengan cara yang amat sabar mengajak semua tetangga kampungnya untuk naik perahu yang dia buat sebelum kebanjiran?

Adakah alternatif yang lain? Pemimpin ala ganesha jelas perlu, tapi tidak mesti 100% mewakili semua karakter dan tidak perlu sepanjang hayatnya dia berkarakter ala ganesha.

Mari kita tengok seberapa sederhananya rayap-rayap yang mampu membuat bangunan sarang setinggi lebih dari 3 m dan sedalam lebih dari 3 m lengkap dengan sistem pendingin dan ruang-ruang yang berlapis di Amazon. Siapa yang memegang blue print pembangunan bangunan tersebut. Siapa yang mengorganisasi puluhan ribu rayap yang bahkan tidak mengerti huruf alfabet untuk memasang pendingin dan lorong-lorong yang teratur? Makin heran saja, ketika ratu rayap yang dikira cerdas hanya bertugas makan dan beranak.

Rayap-rayap itu dengan cara yang sederhana merespon dengan cara yang sederhana ketika mereka melihat temannya mengangkat butiran tanah, meresponse dengan cara yang sederhana ketika mereka kepanasan, meresponse dengan cara sederhana ketika mereka melihat butiran tanah didepan mereka. Response sederhana inilah yang inline dan menguatkan dari puluhan ribu rayap yang menciptakan struktur yang bahkan bagi manusia mengagumkan.

Atau mari kita tengok bagaimana sel-sel otak bekerja sama dan meresponse satu sama lainnya. Saat mata kita membaca, manakah dari sel otak kita yang paling pandai sampai mengerti apa yang saya tulis ini. Ataukah mereka sama-sama nggak ngerti, tapi memberi response yang sesuai ke sell tetangga kanan kirinya, jadilah kumpulan sel-sel otak dengan response tertentu mengenal apa yang saya tulis ini. Sel-sel yang tidak lebih kumpulan sel yang merespon sinyal dengan cara yang unik, bisa mengenal apa yang disebut keberadaan dan kesadaran. Seseorang tidak akan menemukan kesadaran dalam satu super sel otak sekalipun.

Atau mari kita tengok transistor penyusun superprocessor. Mana transistor yang paling hebat yang bisa mengolah tulisan ini. Tak satupun transistor mampu, kumpulan transitor yang cuma mengerti low dan high sajalah yang mampu. Response merekalah yang membuat mereka terasa cerdas.

Ceritanya sederhana ?

Pertama tidak perlu menganggab remeh kemampuan kita dibidang yang kita kuasai misal elektro, matematika atau yang lainnya. Dan disaat yang sama, juga jangan sampai menganggab kita yang paling canggih dalam bidang yang sama. Karena idenya, kita masing-masing punya setetes atau dua tetes, kumpulan dari ide-ide kita mestinya lebih besar dari view kita sendiri, dan tidak akan tercapai dalam rentang waktu yang sama jika hanya dari satu orang.

Misal untuk hal-hal yang buruk terjadi dinegara kita, mulailah kita berpikir bahwa kita adalah bagian dari bangsa ini. Keburukan ini tidak perlu kita sebar-sebarkan dengan bangganya ke kolega kita yang bukan bangsa Indonesia, seakan-akan kita adalah makhluk asing yang tidak dilahirkan di Indonesia. Mulai untuk tidak melakukan sesuatu yang menurut keyakinan kita akan merusak community dan ceritakan paling tidak pada satu orang yang kita temui sepanjang hidup kita. Dan mulai juga mempercayai bahwa hal-hal buruk tidak dilakukan oleh orang-orang Indonesia, dan memaafkan dengan hukuman yang proporsional jika kesalahan itu terlanjur dilakukan.

Mungkin ini sederhana, tapi inilah salah satu aplikasi dari response positif yang merupakan kecerdasan kita sebagai bangsa.

Salam,
-yohan-

Entry filed under: General. Tags: .

Sebuah Catatan : Studium Generale on Nuclear Energy by Al Baradei

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Desember 2006
S S R K J S M
    Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: